Alumni PBS Keuskupan Ketapang foto bersama Mgr. Pius Riana Prapdi Uskup Ketapang di Gedung Sillikens (8/4)

TRIKA, Ketapang – Sekitar tahuan 1960-an, rerata anak pedalaman hanya tamat SD saja. SD yang ada kala itu pun baru di beberapa kampung saja, seperti di Serengkah, Tumbang Titi, Tanjung, Randau, Sepotong, Banjur, Balai Semandang, Balai Berkuak.

Beberapa putra yang tamat SD Usaba itu kemudian melanjutkan ke SMP Usaba 1 (SMP St. Albertus sekarang) atau ke Sekolah Tehnik (ST, yang kemudian menjadi STM St. Yusup).

Sedangkan anak-anak pedalaman yang putri melanjutkan ke SMP Kartini (yang kemudian menjadi SMP Usaba 2, SMP St. Agustinus sekarang) atau masuk Sekolah Kepandaian Putri (SKP).

Anak-anak pedalaman yang bisa melanjutkan sekolah ke Ketapang pun tak banyak. Hanya anak-anak orang tertentu saja. Alasannya hanya soal biaya dan sulitnya untuk menjangkau Ketapang. Karena itulah anak-anak pedalaman yang bisa melanjutkan sekolah ke Ketapang pun masih sangat terbatas, masih bisa dihutung dengan jari.

Tenaga pengajar atau guru yang ada kala itu pun masih sangat-sangat terbatas. Yang berprofesi sebagai guru SD pun boleh dikatakan masih sangat langka. Masih mudah mencari sebatang jarum yang jatuh di tengah padang ilalang dari pada mencari seorang guru sekolah untuk mengajar.

Itu pula lah sebabnya di banyak kampung pedalaman masyarakatnya rata-rata melek huruf, masih buta huruf, buta aksara dan tidak bisa baca-tulis.

Itu adalah kondisi pedalaman Ketapang, khususnya pada tahun 1950-1970-an. Begitu pula lah realita anak-anak pedalaman sebelum panitia Beasiswa Keuskupan Ketapang didirikan pada tahun 1976.

Kondisi keterbelakangan anak-anak pedalaman di bidang pendidikan di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat itu juga lah yang terpantau oleh Pastor Jerun sejak bertugas sebagai Imam Misionaris tahun 1953. Kenyataan di pedalaman Ketapang itu kemudian menjadi keprihatinan Pastor Jerun yang paling dalam di hati dan sanubarinya.

Berangkat dari kisah sedih anak-anak belantara Kalimantan di Ketapang itu pula kah yang mendorong dan memotivasi Pastor Jerun bersama P. J. Denggol untuk secepatnya mendirian Panitia Bea Siswa (PBS) Keuskupan Ketapang sehingga tepatnya pada tanggal 1 April 1976 berdirilah PBS Keuskupan Ketapang. Tujuan utamanya adalah, lewat PBS Keuskupan Ketapang anak-anak pedalaman bisa mengenyam pendidikan di SMA/SMEA/SPG dan bahkan sampai ke Perguruan Tinggi. Bantuan beasiswa untuk Perguruan Tinggi diprioritaskan bagi anak-anak pedalaman yang ingin menjadi guru.

Sejak PBS berdiri, setiap pulang cuti ke negeri kelahirannya, di Scoorl, Belanda, Pastor Jerun selalu bercerita kepada keluarga, teman, kerabat dan handai taulannya di negeri Kincir Angin sana.

Dari kisah Pastor Jerun tentang anak-anak belantara Borneo itu lah beberapa kerabat dan teman-temannya berinisiatif untuk mendirikan Dayak Kommittee di Belanda pada tahun 1979.

Sejak berdiri, Dayak Committee pun langsung mencari dana dengan meminta kepada para petani, pekebun dan masyarakat biasa di Belanda untuk berbagi kasih. Dana dari hasil berbagi kasih tersebut mereka kirim ke PBS untuk biaya pendidikan anak-anak pedalaman.

Merry Threes, Ketua Dayak Committee bersama pengus lainnya ketika berkunjung ke Ketapang.

Hal itu diakui oleh Merry Threes, Ketua Dayak Committee, pada pertemuan dengan pihak PBS Keuskupan Ketapang, 26 April 2017 yang lalu.

Merry Threes mengungkapkan bahwa para anggota Dayak Committee yang memberikan sumbangan dan mencari dana di kampung Pastor Jerun di Scoorl, bukanlah orang-orang kaya. “Mereka kebanyakan adalah para petani, peternak dan rakyat biasa yang bersedia berbagi kasih karena tersentuh hatinya mendengar cerita Pastor Jerun bahwa banyak anak-anak Dayak di pedalaman Ketapang tidak bisa sekolah dan kuliah karena terbentur maslah biaya,” ujar Merry Threes.

Disampaikan Merry Threes juga bahwa sejak berdiri pada tahun 1979 Dayak Committee telah memberikan sumbangan kepada PBS Keuskupan sekitar 290.000 Euro atau kalau dirupiahkan sekitar 4 milyar rupiah.

“Yang kami lakukan dalam mengumpulkan dana untuk PBS Keuskupan Ketapang, antara lain menampilkan muda-mudi koor di gereja, membuat kerajinan tangan kemudian dijual, melakukan konser amal, tour sepeda,” papar Maerry Threes.

Pada pertemuan itu juga Merry Threes menyerahkan sumbangan terakhir kepada PBS dan memutuskan kerjasama dalam hal dana.

Penghentian bantuan dana itu dilakukan karena pihak Dayak Committee menganggap bahwa dengan 600-an alumni dan sekitar 100-an sarjana, PBS Keuskupan Ketapang seharusnya sudah bisa mandiri.

Menanggapi perihal penghentian bantuan dan keberlanjutan seperti yang diharapkan oleh Dayak Committee tersebut, pihak Keuskupan Ketapang pun segera ambil langkah dengan membentuk pengurus baru. Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi pun mempercayai Alkap Pasti., S.Pd sebagai ketua pengurus PBS Keuskupan Ketapang yang baru. Untuk menakhodai PBS ke depan, Alkap dibantu oleh beberapa rekannya sesama alumni PBS.

Pengurus baru PBS Keuskupan Ketapang yang baru tersebut dikukuhkan oleh Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi pada Misa hari Minggu di Gereja Katederal Keuskupan Ketapang, Jl. Jend. A. Yani, 8 April 2018.

Usai misa pengukuhan pengurus PBS yang baru, acara dilanjutkan dengan Launching PBS di Gedung Sillekens (8/4).

Pada acara Launching PBS ini, selain Uskup Ketapang, Mgr. Pius, hadir pula sejumlah imam, bruder, suster, para tokoh umat dan puluhan alumni PBS.

Mengawali langkahnya untuk menyusuri jalan menuju PBS yang mandiri, Alkap Pasti akan melakukan konsolidasi dengan 600-an lebih alumni PBS yang bertebaran di berbagai kota. Konsolidasi ini dilakukan pertama-tama untuk menentukan kisaran iuran wajib dan iuran sukarela serta mekanisme pengirimannya.

“Dalam menentukan besarnya iuran ini, kita tentu saja akan berpegang pada prinsip berkeadilan. Adil, ” ujar Alkap.

Sebanyak 600-an lebih alumni PBS Keuskupan Ketapang, sebagian besar adalah tamatan SMA/SMEA/SPG. Yang lulusan sarjana dengan berbagai jurusan sekitar seratusan alumni. Mereka bekerja di berbagai instansi dan lembaga baik eksekutif, legislatif dan swasta.

Beberapa diantaranya ada yang menduduki jabatan sebagai Kepala Dinas, Assisten Setda, Pj. Sekda Ketapang dan Ketua DPRD Ketapang.

 

TANGGUNG JAWAB ALUMNI PBS

Mgr. Pius Riana Prapdi bersama Pengurus PBS Keuskupan Ketapang periode 2018 -2021
Mgr. Pius Riana Prapdi bersama Pengurus PBS Keuskupan Ketapang periode 2018 -2021

Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi menggaris bawahi beberapa hal ketika me-launching Pengurus PBS periode 2018 – 2021, di Gedung Sillekens pada tanggal 8 April 2018.

Dalam karya PBS, kata Mgr. Pius, setidaknya ada tiga pilar. Pilar yang pertama adalah visi – misi. Visi – misi PBS ke depan perlu dipertajam dalam menyediakan SDM Kristiani yang tangguh dan handal.

Pilar kedua adalah komitmen. Di dalam komitmen ini ada tiga tanggung jawab yg diemban oleh Alumni yaitu, (a). Tanggung jawab sejarah. Dalam hal ini alumni punya tanggung jawab untuk melanjutkan karya BPS yg telah dirintis oleh pendiri/penggagas (P. J. Denggol, Pater Jeroen Stoop, CP dan Mgr. W. Sillekens CP) serta para pengurus terdahulu. (b). Tanggungjawab moral. Para alumni punya tanggung jawab untuk memberikan iuran wajib setelah bekerja dan berhasil, sesuai dengan perjanjian ketika menerima beasiswa.
(c). Tanggung jawab sosial. Para alumni mempunyai kepekaan melihat keadaan umat di sekitar yang masih banyak memerlukan bantuan.

Pilar ketiga adalah jejaring. Dalam melanjutkan karya PBS, pengurus baru perlu membangun jejaring yang kuat baik dengan para alumni maupun dengan pihak-pihak lain.

Penulis: Thomas Tion

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini