Menjadi Tuan di Tanah Sendiri – Okulasi Karet Lokal di Simpang Dua

0
313
Aktivis CU Lantang Tipo

Sebenarnya kita sangat beruntung terlahir di bumi Kalimantan yang dianugerahkan Tuhan alam yang begitu indah dan besar. Potensi alam kita yang begitu banyak, tanah yang subur, beranek ragam tumbuhan, air yang melimpah serta udara segar yang tak terbatas dan pemandangan alam yang indah. Tetapi sering kali kita sendiri yang meniadakannya, sering kali kita tidak sadar kita sendiri yang membuat kehidupan kita lebih susah, untuk mendapatkan sesuatu dengan instan kadang kala kita mengorbankan sesuatu yang lebih berharga di kehidupan kita dengan mudahnya kita menggorbankan potensi alam yang kita miliki untuk mencari kesenangan yang instan, pada akhirnya kita hanya menjadi penonton atas hilangnya itu semua dan menjadi penonton atas berkembang dan majunya pihak luar, padahal jika kita mengolahya mungkin kita dan anak cucu kita bisa hidup seribu tahun lagi.

Jangan biarkan anak cucu kita hanya mendengar dogeng masa lalu, hanya bisa melihat gambar-gambar masa lalu. Biarkan mereka ikut merasakan keindahan alam yang saat ini kita rasakan. Sebenarnya banyak jalan kita menuju sukses tanpa harus mengorbankan apa yang kita punya, banyak orang-orang dengan mudahnya menjual tanah-tanah mereka di kampung kepada pihak-pihak swasta, sedangkan apa yang mereka dapat dari itu kebanyakan bersifat sementara, setelah semuanya habis, mereka tidak memiliki penghasilan lagi, dan mau tidak mau menjadi kuli di tanah sendiri. Begitu ironis, dengan segala macam kekayaan alam yang di wariskan nenek moyang kita. Mari kita buka pemikiran kita, mari kita segera terbangun dari tidur panjang yang mengadirkan mimpi-mimpi yang semu, karena keberhasilan bukan lah hal yang instan, kita perlu bekerja keras. Tidak selamamnya kita harus tergantung dengan alam, karena perlu kita kelola dengan baik, tanpa menghilangkan kearifan lokal, budaya dan tentunya alam itu sendiri.

Saya Bekerja di lembaga keuangan bukan Bank, lebih tepatnya di Credit Union. Berbeda dengan lembaga keuangan lain, di CU (Credit Union) kami di sebut aktivis, kenapa? Karena keuntungan bukanlah hal utama bagi kami, pendidikan dan pembangunan sumber daya manusialah yang pada intinya ingin kami bentuk, terutama masyarakat-masyarakat pedalaman Kalimantan barat yang masih banyak terbelakang dari segi pendidikan, terutama dalam menggatur keuangan keluarga mereka. Bedasarkan issu penjabaran diatas maka saya pribadi dan Lembaga tempat saya bekerja (CU) merasa terpanggil untuk memberdayakan masyrakat pedalaman agar mereka bisa hidup menjadi lebih baik lagi secara berkesinambungan dan menjadi Tuan di tanahnya sendiri.

Hal Kongkrit yang kami lakukan (CU Lantang Tipo) dengan memberi pembalajaran, mendampingi dan berbagi pengalaman kepada para petani

Pengembangan karet lokal dan lada yang kami kelola saat ini dengan membangun semangat para petani lokal untuk membudidayakan tanaman-tanaman perkebunan yang ramah lingkungan dan khusunya menjadi sumber pengahasilan utama masyarakat jauh sebelum pengaruh pihak swasta masuk yang kini mulai di tinggalkan di karenakan banyak masyarakat dengan mudahnya menjual tanah mereka, karena menurut mereka pada sebagian besar dengan menjual tanah mendapatkan hal yang instan. Tetapi mereka tidak sepenuhnya salah, tuntutan hidup dan keterbatasan pengetahuan dan pendidikanlah yang membuat mereka mudah terpengaruh. Maka dari itu kami berusaha membangun kembali mental dan semangat masyarakat perdesaan agar mereka dapat melihat potensi dan menggunakannya untuk memperbaiki kehidupan mereka terutama kehidupan perekonomian. Karena menurut kami jika para petani sudah sejahatera dengan apa yang mereka miliki, mereka tidak akan mudah terpengaruh untuk menggorbankan Harta Kekayaan Alam mereka. (Penulis : Marcel Palit aktivis CU Lantang Tipo)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini