Marau – Kegiatan Temu Pengurus (TERUS) Orang Muda Katolik (OMK) se-Keuskupan Ketapang kembali digelar sebagai wadah perjumpaan, komunikasi, dan penguatan peran OMK di setiap paroki. Kegiatan ini diharapkan menjadi sarana bagi para OMK untuk saling berbagi pengalaman, menyampaikan kemajuan, serta mendiskusikan berbagai kendala yang dihadapi di masing-masing paroki.

Komkep Keuskupan Ketapang mengundang Mgr. Pius Riana Prapdi-uskup Keuskupan Ketapang, para romo koordinator OMK dekanat, serta pengurus inti OMK setiap paroki untuk turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Kehadiran para pemimpin Gereja diharapkan semakin memperkuat arah dan semangat pelayanan kaum muda Katolik.

Latar Belakang

Peran OMK dalam kehidupan Gereja dan masyarakat saat ini dinilai semakin penting. Hal ini sejalan dengan seruan Paus Fransiskus yang mengatakan, “Hai Orang Muda, engkau sangat dibutuhkan oleh Tuhan, Gereja dan saya.” Kaum muda memiliki potensi besar—kreativitas, semangat, sukacita, serta kerelaan berkorban—yang menjadi kekuatan utama dalam pembaruan kehidupan Gereja. Oleh karena itu, OMK perlu terus didengar, dilibatkan, dan dibina secara berkelanjutan.

Kegiatan Temu Pengurus OMK Paroki se-Keuskupan ini merupakan bagian dari program kerja tahunan Komkep. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilaksanakan pada tahun 2020 dan 2023 di Paroki Paya Kumang, bertempat di Catholic Center Ketapang. Tahun ini, kegiatan ketiga dilaksanakan di Paroki Kanak-Kanak Yesus Marau pada 19–21 Maret 2026 dengan mengusung tema, “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk 9:22–25).

Tujuan Kegiatan

Adapun tujuan utama kegiatan ini adalah mempererat sinergi antar pengurus OMK dari berbagai paroki dengan Komkep Keuskupan Ketapang, melakukan evaluasi dan apresiasi program kerja selama satu tahun terakhir, serta memberikan pendampingan dalam penyusunan program kerja OMK ke depan. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menumbuhkan kembali semangat pelayanan OMK di setiap paroki.

Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini antara lain terjalinnya kerja sama yang lebih kuat antar OMK, tersusunnya dokumen evaluasi program kerja, serta tersedianya rencana program kerja OMK tahun 2026 dari masing-masing paroki.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan OMK dari 24 paroki di Keuskupan Ketapang. Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti berbagai rangkaian acara yang terbagi dalam beberapa bidang, mulai dari kegiatan rohani seperti Misa pembuka, Misa harian, Jalan Salib, hingga Misa penutup, yang menjadi pusat kekuatan iman.

Selain itu, peserta juga terlibat dalam sesi refleksi yang mencakup sharing kegiatan OMK, evaluasi program kerja, pemetaan isu strategis, serta penyusunan rencana kerja ke depan. Suasana kebersamaan semakin terasa melalui kegiatan rekreasi seperti dinamika kelompok, malam keakraban, dan outbound yang mempererat persaudaraan.

Seluruh peserta juga aktif mengikuti setiap rangkaian kegiatan bersama panitia dan tim Komkep. Di akhir kegiatan, dilakukan evaluasi menyeluruh, baik terhadap pelaksanaan Temu Pengurus OMK tahun 2026 maupun terhadap peran Komkep, sebagai bahan perbaikan untuk kegiatan mendatang.

Misa Pembuka TERUS dan HR Santo Yosef Suami Bunda Marian di Gereja Paroki Marau

Manajemen 

Manajemen strategis dalam pendampingan kaum muda, seperti yang terlihat dalam kegiatan TERUS OMK se-Keuskupan Ketapang, dimulai dari arah dan tujuan yang jelas. Tema kegiatan dan keterlibatan para pemimpin Gereja seperti Pius Riana Prapdi menunjukkan bahwa pembinaan OMK dirancang dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar kegiatan biasa. Hal ini juga sejalan dengan ajakan Paus Fransiskus yang menekankan bahwa kaum muda memiliki peran penting dalam kehidupan Gereja, sehingga perlu dibina dengan baik.

Dalam pelaksanaannya, pendampingan dilakukan secara sederhana tetapi terarah. OMK diajak untuk saling berbagi pengalaman, mengevaluasi kegiatan yang sudah berjalan, mengenali kekuatan dan kelemahan, serta menyusun rencana ke depan. Dengan cara ini, OMK tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga terlibat aktif dalam membangun komunitasnya. Ditambah dengan kegiatan rohani dan kebersamaan, proses ini membantu kaum muda bertumbuh tidak hanya dalam iman, tetapi juga dalam kerja sama dan tanggung jawab.

Terakhir, bagian evaluasi menjadi hal penting agar kegiatan tidak berhenti begitu saja. Dari evaluasi tersebut, OMK dapat belajar, memperbaiki kekurangan, dan merencanakan langkah selanjutnya dengan lebih baik. Hasil seperti program kerja dan catatan evaluasi menjadi pegangan untuk kegiatan berikutnya. Dengan demikian, pendampingan kaum muda menjadi proses yang terus berjalan, sederhana, tetapi memiliki arah dan dampak yang jelas bagi kehidupan Gereja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini