Pemaparan Kegiatan OMK Paroki dan Dekanat 2025

Setelah Misa pagi dan sarapan bersama, seluruh peserta mengikuti sesi pemaparan laporan kegiatan OMK Paroki dan OMK Dekanat tahun 2025. Dalam sesi ini terlihat bahwa banyak kegiatan telah diupayakan dan dijalankan oleh OMK di paroki-paroki se-Keuskupan Ketapang sepanjang tahun lalu. Berbagai program tersebut mencakup kegiatan rohani seperti doa Rosario keliling, rekoleksi, ziarah, pendalaman iman, doa Taize, serta Misa Alam OMK (EKM). Selain itu, OMK juga aktif dalam perayaan liturgi dan kebersamaan, seperti Natalan bersama, Paskahan bersama, tablo atau Jalan Salib, serta keterlibatan dalam tugas liturgi di paroki.

Di bidang pelayanan dan sosial, OMK turut ambil bagian dalam kunjungan kepada orang sakit dan lansia, aksi sosial, misi umat, serta menjadi pembimbing anak-anak Sekami. Keterlibatan OMK juga tampak dalam berbagai kepanitiaan, seperti panitia Natal dan Paskah anak, HUT paroki, kegiatan Hari Kemerdekaan, hingga Jambore Sekami. Tidak hanya itu, OMK juga mengembangkan kreativitas dan keterampilan melalui kegiatan seperti camping rohani, camp yubelium, pelatihan kerajinan tangan bekerja sama dengan Tim PSE Caritas, serta pengelolaan media digital melalui Instagram, Facebook, TikTok, dan YouTube.

Dalam hal pengembangan organisasi, OMK aktif mengadakan rapat rutin, Musyawarah Paroki (Muspar), kaderisasi, pelatihan administrasi keuangan, serta inventarisasi anggota. Upaya penggalangan dana juga dilakukan melalui berbagai cara, seperti penjualan sayur dan pembentukan kontingen dalam setiap kegiatan. Selain itu, OMK turut membangun kebersamaan melalui kegiatan seperti turnamen Natal dan Paskah, nobar tematik, serta penyegaran OMK. Seluruh rangkaian kegiatan ini menunjukkan semangat OMK dalam menghidupi iman sekaligus membangun solidaritas dan kreativitas dalam komunitas.

Menanggapi berbagai program tersebut, pihak Komkep memberikan penegasan bahwa program kerja OMK ke depan diharapkan semakin selaras dengan arah dasar (ARDAS) Keuskupan Ketapang, yakni pastoral yang memiliki fokus, prioritas, dan keberpihakan kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (LKMTD). Oleh karena itu, beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian bersama antara lain penguatan kaderisasi OMK di setiap paroki dan stasi, serta pengadaan Ekaristi Kaum Muda (EKM) tematis secara berkala. Jika tidak memungkinkan menghadirkan imam, kegiatan dapat diganti dengan Ibadat Kaum Muda (IKM) yang dipimpin oleh diakon, frater, atau petugas lainnya.

Selain itu, Komkep juga mendorong adanya visitasi OMK secara rutin, baik ke dalam komunitas OMK sendiri maupun keluar, khususnya kepada mereka yang termasuk LKMTD. Pembentukan Tim Penggerak atau Animator OMK juga menjadi hal penting guna menjamin keberlangsungan dan dinamika kegiatan OMK di paroki dan stasi, sekaligus menjadi penghubung dengan pastor paroki. Terakhir, ditegaskan pula pentingnya pengukuhan kepengurusan OMK melalui Surat Keputusan (SK) resmi dari pastor paroki, baik di tingkat paroki maupun stasi, sebagai bentuk legitimasi dan tanggung jawab dalam pelayanan.

Acara dari Komsos Ketapang

Komkep melibatkan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Ketapang dalam rangkaian kegiatan TERUS sebagai bentuk dukungan terhadap pewartaan di era digital. Ketua Komsos, RD. Nedi, hadir langsung sebagai fasilitator dan memberikan pendampingan kepada para pengurus OMK. Dalam sesi ini, Rm. Nedi mengajak OMK untuk semakin kreatif dalam mewartakan Kristus dengan memanfaatkan teknologi AI (Artificial Intelligence). Ia juga memberikan arahan mengenai penggunaan AI yang bijak dan dapat dipertanggungjawabkan, serta memperkenalkan berbagai jenis AI yang mudah diakses untuk membantu menyampaikan informasi, kabar baik, dan Injil kepada lebih banyak orang secara efektif dan relevan.

Jalan Salib

Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, kegiatan dilanjutkan dengan acara rohani berupa Jalan Salib bersama di halaman Gereja Paroki Marau. Stasi-stasi Jalan Salib telah dipasang mengelilingi halaman gereja sehingga membantu peserta mengikuti permenungan dengan tertib. Meskipun cuaca mendung dan terasa gerah karena tanda-tanda hujan akan turun, seluruh peserta tetap mengikuti dengan penuh khidmat. Memasuki perhentian ke-VIII, hujan akhirnya turun sehingga kegiatan terpaksa dipindahkan ke dalam gereja. Namun demikian, perpindahan tempat tidak mengurangi semangat dan kekhusyukan peserta dalam mengikuti Jalan Salib hingga selesai.

PUDNESA 

Salah satu bagian yang paling menambah sukacita dalam kegiatan ini adalah sesi permainan PUDNESA, sebuah permainan edukatif yang dirancang untuk meningkatkan partisipasi aktif dan proaktif para peserta. Permainan ini merupakan hasil kreasi dan modifikasi dari gagasan Seven Habits oleh Stephen Covey yang kemudian disederhanakan dalam bentuk permainan kelompok. Inti dari permainan ini bukan sekadar kemenangan individu, melainkan kemenangan bersama sebagai satu tim.

PUDNESA juga menjadi sarana untuk melatih kerja sama, keberanian, serta kemampuan bernegosiasi antaranggota kelompok. Meskipun awalnya suasana diharapkan santai dan menyenangkan, dinamika permainan justru menjadi cukup menegangkan karena para peserta terjebak dalam semangat kompetisi dan belum sepenuhnya memahami pentingnya kolaborasi. Permainan ini dipandu oleh Kak Monica, seorang tenaga ahli dari Anggota DPR-RI, Fransciscus Maria Agustinus Sibarani dari Fraksi Partai Golkar, bersama tim, yang turut menghadirkan pengalaman belajar yang seru sekaligus reflektif.

Kak Monica Memberikan Instruksi PUDNESA

Dalam pelaksanaannya, Tim Komkep telah menyiapkan enam tantangan berupa pemecahan kode angka, huruf, teka-teki, hingga sandi Morse dengan tingkat kesulitan yang semakin meningkat. Para peserta dibagi menjadi sepuluh kelompok yang diibaratkan sebagai “negara”, masing-masing menunjuk satu presiden sebagai pemimpin. Tim Komkep berperan sebagai “DPR” yang mengatur jalannya permainan, menentukan aturan, serta memberikan hadiah berupa uang fiktif. Selain memecahkan kode, setiap kelompok juga dapat membeli kunci jawaban dengan harga yang bisa dinegosiasikan, bahkan berkesempatan “berperang” untuk memperluas wilayah dan menambah anggota dengan menggunakan pita dan balon sebagai simbol.

Keseruan semakin terasa ketika berbagai peristiwa unik terjadi selama permainan. Ada presiden yang turun langsung berperang namun akhirnya tertangkap, bahkan tidak ditebus oleh rakyatnya sendiri hingga membuat suasana semakin lucu dan hidup. Ada pula negosiator yang berusaha keras membujuk pihak lain, tetapi tidak selalu berhasil. Beberapa kelompok bahkan mengalami kerugian karena salah perhitungan dalam menawar harga kunci jawaban. Dari sini terlihat bahwa dalam proses berorganisasi, tidak semua keputusan membawa keuntungan; ada saatnya untung dan ada pula risiko kerugian yang harus dihadapi.

Ketika sesi “perang” dimulai, pada awalnya tidak ada kelompok yang berani terlibat. Namun setelah diberikan konsekuensi pengurangan sumber daya bagi yang tidak ikut serta, semua kelompok akhirnya mengirim perwakilan untuk bertarung. Meski demikian, ada satu kelompok yang memilih tetap berada di zona aman tanpa terlibat konflik. Keputusan ini membuat mereka tidak mengalami kerugian, tetapi juga tidak mengalami perkembangan. Situasi ini menjadi gambaran nyata bahwa zona nyaman sering kali terasa aman, namun tanpa keberanian menghadapi risiko, tidak akan ada kemajuan yang berarti.

Pada akhirnya, hanya dua kelompok yang berhasil menyelesaikan seluruh enam tantangan. Kelompok pertama mencapainya dengan kemampuan murni dan kerja sama yang solid, sedangkan kelompok kedua berhasil melalui strategi negosiasi yang cerdik. Kedua cara ini memberikan pelajaran berharga bahwa dalam mencapai tujuan, dibutuhkan baik kecerdasan, kerja sama, maupun strategi yang tepat.

Sebagai penutup, seluruh peserta kembali diberikan tantangan terakhir: membangun sebuah menara dengan sumber daya yang berbeda, yaitu tali rafia dan gunting. Harapannya, semua kelompok dapat bekerja sama untuk membangun satu “negara besar”. Namun yang terjadi justru sebaliknya—masing-masing kelompok tetap fokus pada kompetisi sehingga menghasilkan banyak menara kecil, bukan satu bangunan besar. Hal ini menjadi refleksi mendalam bahwa masih ada pekerjaan rumah besar bagi OMK untuk menyatukan visi, membangun kerja sama yang lebih erat, dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.

Pada malam harinya, setelah penyampaian makna dari Kak Monica, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian bingkisan kepada para pendamping OMK di setiap paroki, termasuk para romo, diakon, dan frater, serta para fasilitator yang telah terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan. Momen ini menjadi ungkapan terima kasih atas dedikasi dan pendampingan yang telah diberikan, sekaligus mempererat kebersamaan antara peserta dan para pendamping dalam semangat pelayanan.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pertemuan para peserta dari masing-masing dekanat untuk berkumpul bersama para romo pendamping guna mendiskusikan program bersama di tingkat dekanat. Diskusi ini menjadi ruang untuk merumuskan langkah-langkah konkret dalam pengembangan OMK ke depan. Seluruh rangkaian kegiatan malam kemudian ditutup dengan doa malam bersama yang diikuti oleh seluruh peserta dengan penuh kekhusyukan.


TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini