Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) Santa Maria Assumpta Paroki Tanjung mengadakan kegiatan doa bersama umat di Stasi Santa Lusia Karang Dangin dengan semangat iman yang diteguhkan oleh sabda Yesus, “Engkau adalah Petrus, di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18).

Sebanyak 18 anggota PDKK hadir dalam kegiatan ini, yang tidak hanya berasal dari pusat paroki Tanjung, tetapi juga dari beberapa stasi seperti Kusik Pakit, Penggerawan dan Air Dua. Perjalanan menuju Karang Dangin yang berjarak sekitar 30,5 km ditempuh menggunakan sepeda motor selama kurang lebih satu setengah jam. Rombongan berangkat pukul 13.00 dan tiba bersama-sama pada pukul 14.30 dalam kondisi cuaca yang cukup mendukung.
Dalam perjalanan, rombongan sempat mengalami insiden saat menyeberangi jembatan gantung di Karang Dangin. Jembatan tersebut ternyata hanya dapat dilalui satu motor pada satu waktu, sehingga ketika beberapa motor melintas bersamaan, jembatan menjadi sangat bergoyang dan hampir menyebabkan beberapa pengendara terjatuh. Salah satu motor bahkan menyenggol tali jembatan hingga kaca spionnya terjatuh ke sungai. Meskipun demikian, seluruh rombongan tetap dapat melanjutkan perjalanan dengan selamat hingga tiba di lokasi tujuan.
Keraguan yang terpatahkan

Sesampainya di Karang Dangin, seluruh anggota PDKK berkumpul di rumah Ketua Umat, Bapak Pius. Awalnya sempat muncul keraguan mengenai jumlah umat yang akan hadir karena pada hari yang sama juga berlangsung kegiatan adat di desa. Bahkan sempat diperkirakan bahwa jika 20 orang saja yang hadir, itu sudah cukup baik. Namun, kenyataannya jauh melampaui perkiraan. Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 tersebut dihadiri sekitar 60 umat, sehingga jumlah teks doa yang disiapkan menjadi tidak mencukupi. Antusiasme umat terlihat sangat tinggi, yang tidak lepas dari usaha Ketua Umat serta dua prodiakon muda, yaitu Bang Brino dan Kak Dobe, yang telah mengundang umat secara langsung dari rumah ke rumah beberapa hari sebelumnya.
Kegiatan diawali dengan bernyanyi bersama, dilanjutkan dengan ice breaking berupa gerak dan lagu seperti “Mentega dan Roti” serta lagu anak-anak “Kudaki-Daki” yang membuat suasana menjadi lebih hangat dan akrab. Setelah itu, Bu Imelda memberikan penjelasan mengenai PDKK kepada umat yang hadir, yang terdiri dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga lansia. Bagi umat di Stasi Karang Dangin, pengalaman doa seperti ini merupakan hal yang baru, karena ini adalah kunjungan pertama PDKK ke stasi tersebut. Selain menjadi stasi terjauh dari pusat paroki, wilayah ini juga berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Tengah, sehingga kehadiran PDKK menjadi momen yang istimewa bagi umat setempat.
Yesus Hanya Mendirikan Gereja Katolik
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pendalaman Sabda Tuhan dari Injil Matius 16:13–21 tentang Pengakuan Petrus dengan tema “Yesus Hanya Mendirikan Gereja Katolik”. Melalui doa dan refleksi yang dibawakan oleh Diakon Memet, umat diajak melihat bahwa seperti Petrus yang menjadi batu karang, demikian juga iman umat harus kokoh dan setia. Dari permenungan sederhana ini muncul pertanyaan reflektif: jika Yesus hanya menyebut satu Gereja, apakah kita boleh berpindah ke gereja lain? Secara spontan umat menjawab dengan kompak, “Tidak! Tidak!” Kehadiran PDKK pun menjadi bentuk dukungan nyata agar umat tetap setia kepada Yesus dalam Gereja Katolik, terlebih di tengah situasi di mana ada gereja lain yang aktif mengajak umat untuk berpindah.

Dalam pendalaman tersebut ditegaskan bahwa umat Karang Dangin telah lama hidup dalam iman Katolik, sehingga Gereja bukanlah hal baru, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Karena itu, ketika ada ajakan dari pihak lain, umat diharapkan tetap teguh seperti batu karang yang tidak mudah goyah oleh berbagai bujukan. Iman Katolik dipahami sebagai rumah sendiri, tempat bertumbuh dan berakar, sehingga tidak perlu mencari “tempat berteduh sementara” di tempat lain. Pesan ini disampaikan secara sederhana namun kuat, agar umat semakin yakin dengan identitas imannya.

Setelah homili, acara dilanjutkan dengan sharing pengalaman iman dari umat yang hadir. Berbagai ungkapan disampaikan, namun sebagian besar merasakan ketenangan dan kedamaian yang mendalam. Banyak umat mengaku baru pertama kali merasakan suasana doa yang begitu menyentuh, terutama melalui lagu-lagu rohani yang dinyanyikan bersama. Beberapa bahkan meneteskan air mata karena lirik lagu dirasakan sangat sesuai dengan pergulatan batin mereka. Hal ini semakin menegaskan bahwa musik rohani memiliki kekuatan besar untuk menyentuh hati dan membawa umat semakin dekat dengan Tuhan.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kesaksian dari dua anggota PDKK, yaitu Sis Imelda dan Bro Bimbi, serta pelayanan doa pribadi. Satu per satu umat maju untuk didoakan, menciptakan suasana yang hening namun penuh makna. Terlihat genggaman tangan yang erat, air mata yang mengalir, serta ungkapan perasaan yang tulus di hadapan Tuhan. Pengalaman ini menjadi momen yang sangat berkesan, tidak hanya bagi umat Karang Dangin, tetapi juga bagi tim PDKK sendiri. Di tengah suasana doa yang khusyuk, hujan pun turun, namun tidak mengurangi semangat umat untuk terus berdoa. Bahkan ketika lampu dipadamkan, umat tetap maju dengan penuh kerinduan untuk menerima pelayanan doa pribadi.


Makan Bersama di Rumah Ketua umat 

Perjalanan Pulang
Acara yang semula direncanakan selesai pada pukul 18.00 akhirnya berlangsung hingga pukul 19.30 karena besarnya antusiasme umat. Setelah kegiatan selesai, seluruh tim PDKK kembali ke rumah Bapak Pius untuk makan malam bersama. Setiap anggota membawa bekal yang kemudian dibagikan dan dinikmati bersama dalam suasana penuh kebersamaan. Salah satu menu yang paling diminati adalah rendang jengkol yang dibawa oleh Bro Erwin bersama keluarganya, menutup hari pelayanan dengan sukacita dan rasa syukur.


















