Marau, 19 Maret 2026 – Hari pertama Temu Pengurus (TERUS) OMK se-Keuskupan Ketapang berlangsung penuh kehangatan sejak siang hari. Para peserta dari 24 paroki mulai berdatangan dengan berbagai cara, ada yang menggunakan sepeda motor maupun mobil bersama. Setelah melakukan registrasi, pengambilan name tag, serta menyerahkan kontribusi kepada bendahara Komkep, para peserta mulai berbaur sambil menunggu rekan-rekan lain yang belum hadir. Suasana akrab langsung terasa, meskipun tidak ada arahan khusus untuk saling mengenal, para peserta dengan inisiatif sendiri saling menyapa dan berbincang lintas paroki.
Tepat pukul 14.30 WIB, kegiatan resmi dibuka dengan pemotongan pita di Aula Mater Dei, yang terletak di depan Gua Maria Paroki Marau. Berbeda dari biasanya, pemotongan pita kali ini tidak dilakukan oleh uskup atau romo, melainkan oleh perwakilan peserta dari Paroki Yohanes Rasul Balai Semandang yang telah hadir lebih awal sejak 18 Maret dan menginap di Paroki Air Upas. Momen ini juga semakin mengesankan dengan kehadiran Ketua OMK Dekanat Utara yang tetap berjuang hadir meski dalam kondisi cedera.

Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan perkenalan para romo, diakon, dan frater yang hadir mendampingi para OMK. Turut hadir RD. Fransiskus Suandi, Romo Komkep periode sebelumnya. Beliau hadir mendukung acara ini sekaligus medukung acara ini. Turut hadir RD. Bonefasius Mite, romo pendamping dekanat Selatan. RP. Frans Mba’a, OSA, romo pendamping dekanat Barat. RP. Ito, CP, romo pendamping dekanat Tengah. RD. Petrus Riyant, Romo ketua Komkep dan sekaligus pendamping regio Tengah. RD. Nedi, fasilitator sekaligus mewakili RD. Alle, pendamping Regio Utara. RD. Paul Budi, selaku pendamping OMK Paroki Marau. Hadir juga Diakon Bonaventura, yang mendampingi OMK Paroki Sukaria, dan Diakon Memet yang sekaligus voluntir Komkep serta pendamping OMK Paroki Tanjung. Dari Paroki Keluarga Kudus Sepotong hadir Fr. Joice, CP dan Fr. Dion Wicaksono dari paroki Marau.

Suasana semakin hidup ketika para peserta memasuki aula dan disambut dengan lagu selamat datang dari tim Komkep, sekaligus pembagian alat tulis. Dalam sesi awal ini, peserta diajak menuliskan perasaan dan harapan mereka mengikuti kegiatan TERUS, sebelum kemudian mempersiapkan diri untuk mengikuti Misa Pembuka.

Misa Pembuka yang dilaksanakan pukul 16.00 WIB menjadi pusat kegiatan rohani hari pertama dalam rangkaian Temu Pengurus OMK. Petugas liturgi diambil dari perwakilan setiap dekanat, sehingga seluruh paroki mendapat kesempatan untuk terlibat aktif, mulai dari koor, lektor, pemazmur, doa umat hingga misdinar. Dalam homilinya, RD. Petrus Riyant mengajak peserta merefleksikan sosok Santo Yosef melalui pertanyaan sederhana, “Kalau saya sebut St. Yosef, apa yang ada dalam pikiran teman-teman?” Berbagai jawaban seperti “tanggung jawab”, “rela ambil risiko”, dan “pengorbanan” kemudian ditegaskan sebagai semangat yang sejalan dengan tema kegiatan TERUS. Suasana semakin hangat ketika Romo Riyant membacakan berbagai isi hati peserta—mulai dari yang merasa lelah hingga yang bersemangat, bahkan ada yang secara jujur berharap “bertemu jodoh yang seiman”, yang langsung disambut tawa seluruh umat.


Dekenat Barat 
Dekenat Timur 
Dekenat Tengah 
Dekenat Utara 
Dekenat Selatan
Dalam dinamika kebersamaan tersebut, terungkap pula berbagai pengalaman dan perasaan peserta sejak proses persiapan hingga perjalanan menuju Paroki Marau. Banyak peserta mengungkapkan rasa senang, terharu, bersukacita, bahagia, dan damai karena dapat ambil bagian dalam kegiatan ini, terlebih setelah beberapa tahun tidak adanya kegiatan OMK serupa. Ada pula yang merasa sangat membahagiakan karena perjalanan diawali dengan doa bersama di paroki masing-masing, serta adanya kerinduan mendalam untuk kembali berkumpul sebagai orang muda Katolik. Namun demikian, tidak sedikit pula yang mengungkapkan pengalaman fisik yang cukup menantang, seperti rasa lelah, sakit pinggang, bahkan ada yang mengalami kejadian tak terduga seperti kendaraan yang sempat keluar jalur. Selain itu, kondisi lapar, panas, gerah, dan kantuk selama perjalanan juga menjadi bagian dari perjuangan yang tetap dijalani dengan penuh semangat.

Adapun tujuan peserta mengikuti kegiatan Temu Pengurus ini sangat beragam, mulai dari memenuhi undangan Komkep hingga keinginan untuk mengenal lebih dalam organisasi OMK. Banyak peserta terdorong untuk memberikan diri dalam pelayanan, memperkaya dan memperkuat iman, serta menambah wawasan tentang pengelolaan organisasi yang baik. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk saling berbagi program kerja antarparoki, membangun relasi, serta menyatukan langkah gerak OMK se-Keuskupan Ketapang. Menariknya, di tengah keseriusan tersebut, terselip pula harapan sederhana namun penuh makna, seperti keinginan untuk menemukan pasangan hidup yang seiman. Lebih dari itu, peserta juga ingin semakin aktif dalam menghidupkan OMK di paroki dan stasi, serta menjadi saksi Kristus dalam kehidupan orang muda.
Sementara itu, harapan yang muncul dari para peserta menunjukkan semangat untuk terus berkembang dan bertumbuh. Mereka berharap kegiatan ini berjalan menarik, tidak membosankan, serta materi yang disampaikan mudah dipahami dan relevan dengan kondisi orang muda saat ini. Peserta juga berharap mendapatkan hal-hal baru yang dapat dibawa pulang untuk dikembangkan di paroki dan stasi masing-masing, termasuk strategi dalam pendampingan OMK dan kemampuan merumuskan program kerja yang lebih terarah. Selain itu, ada harapan agar iman semakin diteguhkan sehingga mampu menjadi saksi Kristus dan pendengar yang baik bagi sesama OMK. Dukungan dari para Romo juga sangat diharapkan, baik dalam bentuk perhatian maupun fasilitasi kegiatan. Pada akhirnya, para peserta berharap agar kegiatan Temu Pengurus ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan karena dinilai sangat bermanfaat dalam membangun dan menghidupkan OMK di Keuskupan Ketapang.
Setelah misa dan sesi foto bersama per dekanat, kegiatan berlanjut pada malam hari dengan Zoom Meeting bersama Pius Riana Prapdi. Dalam arahannya, beliau menyampaikan perkembangan keuskupan yang terus bertumbuh, baik dari segi jumlah umat maupun kualitas kehidupan iman. Ia juga menegaskan fokus pastoral Keuskupan Ketapang tahun 2026–2027, yaitu pelayanan kasih kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel, serta mengajak OMK untuk turut ambil bagian dalam perhatian kepada kelompok-kelompok tersebut.
Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Salah satu peserta menanyakan tentang kebiasaan berkumpul yang kadang disertai konsumsi alkohol. Menanggapi hal ini, Bapa Uskup mengajak OMK untuk meneladani cara Yesus, yakni tidak sekadar memberi jawaban, tetapi mengajak orang untuk berpikir dan melihat makna dari setiap tindakan. Pertanyaan lain terkait kurangnya pendampingan dari paroki juga dijawab dengan penuh kerendahan hati, sekaligus mengajak semua pihak untuk mencari solusi bersama.

Di sela keterbatasan sinyal selama sesi daring, terselip pula sharing yang diminta oleh Bapa Uskup dari OMK Paroki Salib Suci Menyumbung. Mereka membagikan gerakan sederhana namun menyentuh, yaitu mengunjungi para lansia secara berkelompok (5–6 orang), berkeliling dari rumah ke rumah untuk berdoa bersama. Inisiatif ini mendapat apresiasi sebagai langkah nyata pelayanan kasih yang patut dikembangkan di paroki lain.
Hari pertama ditutup dengan doa bersama sebelum para peserta beristirahat di area susteran, TK, dan asrama yang telah disiapkan. Sementara itu, tim Komkep melanjutkan kegiatan dengan evaluasi internal guna mempersiapkan rangkaian acara hari berikutnya.




















