Misa Pembukaan Temu Pastoral 2026: Mengunjungi Yang Menderita

0
125

Dalam Misa Pembukaan Tepas (Temu Pastoral) 2026, Bapa Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi memaparkan homili yang sangat menyentuh. Bapa Uskup mengantatakan bahwa setiap dari kita adalah pribadi-pribadi yang digerakkan dan dipanggil untuk menjadi pelayan serta murid-Nya yang setia. Karena Tuhan telah lebih dahulu setia mengasihi dan memperkenankan kita terlibat dalam karya-Nya, meskipun di antara kita ada yang merasa belum berpengalaman. Perjalanan iman kita saat ini serupa dengan kisah Samuel yang masih muda dan berada di bawah pengawasan Eli; sebuah masa di mana Sabda Tuhan jarang terdengar dan penglihatan pun tidak sering terjadi. Dinamika ini merangkum arah dasar perjalanan kita, di mana misi tahun 2021-2022 difokuskan pada membina kader iman, sementara misi tahun 2024-2025 menekankan pada mengajarkan iman kepada umat. Melalui perjalanan dari desa ke desa, kita menyaksikan benih-benih panggilan itu nyata dalam diri orang-orang yang rela hati melayani meski dalam kekurangan, seperti anak muda di Balai Semandang yang tergerak mengurus stasi atau mengajar komuni pertama. Mereka, seperti Samuel, mungkin masih bertanya-tanya tentang panggilan tersebut, namun mereka berani bertanya dan terus tumbuh dalam kepercayaan diri melalui pendampingan dari berbagai pihak, membuktikan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam pelayanan yang dijalani dengan kerendahan hati.

Pertumbuhan umat yang signifikan, dari 122.613 menjadi 128.309 jiwa atau naik sebesar 4,6%, merupakan tanda bahwa tidak satupun Sabda-Nya dibiarkan gugur tanpa menggerakkan hati orang percaya. Pertumbuhan ini bukan sekadar angka mutasi atau kelahiran, melainkan bentuk kepercayaan Tuhan kepada kita yang tidak sempurna ini untuk memegang tanggung jawab besar, sama seperti Ia mempercayai Samuel. Menghidupi jabatan sebagai nabi dalam konteks ini berarti mempermudah orang untuk bertemu dengan Yesus. Hal ini ditegaskan dalam bacaan Injil, di mana setelah keluar dari rumah ibadat, Yesus segera menuju ke rumah Simon untuk menyembuhkan ibu mertuanya. Peristiwa ini memberikan pesan kuat bahwa ibadah yang sejati adalah pelayanan; ibadah tidak boleh berhenti di dalam gedung gereja melalui keindahan koor semata, melainkan harus berlanjut pada aksi nyata mengunjungi mereka yang menderita. Kita dipanggil untuk menjadi perantara yang mempermudah langkah sesama menuju Tuhan, bukan justru mempersulitnya.

Buah dari perjumpaan dengan Yesus adalah pelayanan, sebagaimana ibu mertua Simon langsung melayani setelah disembuhkan. Kita pun, yang telah berjumpa dengan Yesus melalui sakramen baptis, dipanggil untuk bertanya pada diri sendiri apakah kita sudah sungguh-sungguh melayani. Perjumpaan yang menyelamatkan ini bermula dari keluarga sebagai locus theologicus atau tempat terjadinya peristiwa iman, karena keluarga adalah sekolah kemanusiaan dan rumah kekudusan. Namun, di tengah kesibukan pelayanan yang luar biasa, kita wajib menciptakan prime time untuk berdoa dan membangun relasi intim dengan Tuhan. Inilah yang membedakan seorang pelayan iman dengan pekerja sosial; kita melayani demi harapan hidup kekal, atau yang sering kita sebut sebagai HONDA (Honor Dari Allah).

Pelayanan kita harus senantiasa dilandasi oleh pengharapan yang menyala, yang membuat kita tidak sombong saat berhasil karena menyadari itu adalah kepercayaan dari Tuhan, dan tidak putus asa saat gagal karena menyadari bahwa ini adalah pekerjaan Tuhan. Kita harus menjaga agar tidak memiliki kelekatan yang berlebihan pada posisi atau tempat tertentu, sehingga pelayanan kita tetap murni dan bebas dari risiko burn out. Sebagaimana Yesus yang mengajak murid-Nya pergi ke tempat lain untuk memberitakan Injil, kita pun harus terus bergerak dengan belas kasih untuk membawa keselamatan bagi sesama yang menderita.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini