Romo Fransi, CSsR (akrab disapa Romo Panci) memotong buluh kuning

Tanjung, 1 Agustus 2025 — Suasana di Tanjung terasa berbeda sore itu. Sekelompok pemuda-pemudi Katolik tampak berbaris rapi sambil membawa salib unik masing-masing dan bendera berlogo khas. Mereka melakukan perarakan sepanjang 500 meter menuju Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung, tempat diselenggarakannya Temu OMK Se-Regio Selatan.

Datang dari berbagai paroki—Tanjung, Riam Kota, Terusan, Marau, Kendawangan, dan Air Upas—para peserta berkumpul untuk merayakan semangat muda dalam iman. Satu wilayah, Pra-Paroki Asam Besar, berhalangan hadir. Namun semangat kebersamaan tetap terasa kuat dalam kegiatan yang berlangsung dari tanggal 1 hingga 3 Agustus 2025 ini, dengan tema: “OMK Bangkit dan Bersinar di Tahun Yubelium.”

Salah satu momen menarik saat perarakan adalah kehadiran Romo Fransi, CSsR (akrab disapa Romo Panci) yang tampil dengan jubah khas dan ikat pinggang hitam. Di depan gereja, beliau dipercaya untuk memotong buluh kuning sebagai simbol pembuka acara dengan ritual adat “Garung (Kayu) Rangke (Kering)”. Setelah itu, peserta disambut dengan prosesi adat “Tampung Tawar,” Tampung Tawar itu beras yang dilumuri kunyit dan daun obat-obatan dari alam kemudian dioleskan ke leher semua peserta. Tampung Tawar adalah simbol sudah melakukan ritual adat, menurut Riki, seorang OMK Tanjung, sekaligus ketua Stasi Lamboy.

Sore itu juga, seluruh peserta mengikuti misa Jumat Pertama bersama umat. Tampak hadir sejumlah imam dari berbagai tempat: ketiga Romo di Tanjung, yakni Rm. Krisno, Rm. Boni, Rm. Krisna (Mona), Rm. Benyamin (Air Upas), dari Riam Kota ada Rm. Marsel CSsR, Rm. Anthony CSsR, dan Rm. Fransi, CSsR (Terusan). Setelah itu, menyusul diakon Bala yang menemani OMK dari Marau.

Dalam homilinya, Rm. Krisno mengajak OMK untuk kreatif dan aktif mewartakan iman, bahkan membayangkan jika Santo Alfonsus Maria de Liguori hidup di zaman sekarang, mungkin beliau sudah punya YouTube, Instagram, dan TikTok! Momen ini terasa istimewa karena bertepatan dengan peringatan Santo Alfonsus, pendiri Kongregasi Redemptoris, yang juga diikuti oleh para Romo dan Frater Redemptoris.

Malam harinya, suasana semakin hangat dan meriah di aula CU Gemalaq Kemisiq, tempat acara. Canda, tawa, dan semangat persaudaraan terjalin dalam yel-yel berbahasa Tanjung yang penuh makna:
“Aku betamuk kandin, kandin betamu aku, kita betamuk di tahun Yiubelium.”

Hari pertama pun ditutup dengan hening dalam doa Taizé bersama suster Pingky, ACI, sebelum para peserta kembali ke rumah-rumah umat untuk beristirahat.

Ditulis oleh Fr. Memet

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini