Kabut asap terus merayap. Kobaran api terus membara. Hujan belum juga turun. Pohon tuba sudah dicabut habis, air tuba sudah ditumpahkan di sungai. Banyak korban ikan mendidih di panci atau berakhir di Parak pesalai. Tapi banyak juga ikan yg mati sia-sia, dibiarkan hidup tidak boleh, mati juga di sia siakan.

“Ikan mati modar” mati membusuk, menambah evolusi baru. Ada juga yg cacat buta dan menderita seumur hidupnya. Dulu tuba ada itu sakral. Dilakukan dengan ritus dan doa dari “seorang ketua”. Tempat tuba dilabuhkan adalah tempat pilihan, di mana dipercaya: “lubuk berikan, sungai punya gana (penunggunya).

Tubak adat itu suatu ritus mengetuk hati “kuasa ilahi” yg tak lihat. Tubak adat itu juga sebagai salah satu bentuk permohonan dalam kearifan lokal, “doa permohonan” anak-anak manusia dan para “ketua”. Isinya mungkin sedikit memaksa penguasa alam ini, untuk menurun hujan yang dibutuhkan oleh bumi. Jika tidak, ada konsekuensi logis dari air tuba yang tercurah ke lubuk berikan, sungai berpunghuni (hantu joku). Konsekuensi itu, segala mahluk di dalam air akan mengalami kebutaan permanen dan kematian yang tidak dapat di tunda.

Tuba adat itu juga memaksa semua mahluk yang berkeriap di dalam air berseru kepada Sang khalik, untuk menurunkan dan menyelamatkan mereka. Dengan ini, ketidak-mampuan manusia menjawab kesulitan mereka sendiri, memaksanya melibatkan alam semesta untuk berada dalam doa solider dengannya.

Saat ini, sepertinya Tuhan masih menunggu semua bibir terbuka, semua mulut menyenandungkan kidung duka dan seruan pertobatan, sampai menghasilkan lagu pujian dan Kemuliaan bagi Allah. Ketika manusia tidak memberi bumi ini jeda, ruang dan waktu untuk membaharui diri. Bumi tidak pernah berhenti berproduksi. Dari dalam perut bumi “dipaksa memberikan hati dan dan jantungnya” bukan hanya utk kemakmuran, kesejahteraan, tetapi untuk kerakusan, keserakahan, dan gaya hidup. Pada hal hidup itu sederhana. “Cukup sandang dan pangan, pendidikan layak, kesehatan yang baik, itu sudah cukup. Yang mahal adalah “GAYA HIDUP”.

Dengan cara ini, bumi beristirahat berproduksi dan kini dia memulihkan dirinya sendiri. Kini bumiku terluka. Sudah banyak usaha pengobatan, tetapi luka semakin menganga. Belum ditemukan obat penyembuh luka dan lara yang tersisa. Alam pun sudah tidak mau berkata-kata, sampai manusia sampai pada TOBAT dan Bakti kepada yang ilahi. Biarkan bumiku berdiam diri. Jangan paksa dia memberikan kesenanganmu sesaat, memuaskan rasa lapar dan haus dunia serakahmu. Biarkan bumiku beristirahat dan berdiam diri. Dia sedang meratapi kebijaksanaan Negeri ini.

Biarlah burung-burung berdiam diri, bersembunyi di balik sisa-sisa jerami terbakar, menantikan setetes embun pagi yang segar. Biarkan binatang buas dan jinak mengendap endap di balik batu, batang-batang dan pepohonan, sampai Tuhan Sang Pencipta menurunkan hujan di Bumi Kalimantan, mengubah duka dan air mata dengan tarian dan nyanyian serta lagu gembira. Satu hati memohon berkat dan perlindungan Tuhan untuk negeri yang tercinta ini. Untuk bangsa dan negara ini. Untuk pemulihan alam bumi Kalimantan ini.

Ditulis oleh Padre Damian, CP

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini