Kandang Natal

Persiapan Natal

Natal Tahun 2025 di Paroki Tanjung sungguh dipersiapkan dengan serius dan penuh semangat kebersamaan. Berdasarkan pembagian tugas periode 2022–2026, Dewan Pastoral Paroki menetapkan Kring Petrus sebagai panitia Natal. Kring Petrus bertanggung jawab atas seluruh rangkaian perayaan Natal. Tugas tersebut mencakup katekese sebelum masa Adven hingga Pesta Pembaptisan Tuhan.

Romo paroki mengusung tiga fokus utama dalam persiapan Natal, yaitu katekese, sosial, dan liturgi. Katekese berupa pengajaran iman tentang Natal dan maknanya yang disampaikan kepada umat. Bidang sosial diwujudkan melalui kepedulian terhadap umat miskin, sakit, difabel, dan lansia. Sementara itu, bidang liturgi mencakup doa, novena, dan ibadah Natal yang dipersiapkan dengan baik.

Seluruh persiapan Natal diwarnai dengan berbagai pertemuan dan rapat panitia. Selain itu, umat juga terlibat dalam kerja bakti seperti membersihkan halaman gereja, membuat kandang Natal, dan memasang tenda. Keterlibatan umat menjadi kekuatan utama dalam mempersiapkan perayaan Natal. Semakin banyak umat yang terlibat, semakin terasa semangat kebersamaan dalam menyambut kelahiran Kristus.

Malam Natal di Tanjung

Suasana malam natal di Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung tahun 2025 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Beberapa hal baru mewarnai perayaan Natal tahun ini sehingga terasa indah dan istimewa, terutama bagi umat, yang antusias dalam Misa Malam Natal, gereja penuh, bahkan ada yang berdiri di luar ruangan.

Dalam Gereja Katolik, Natal (Natus dalam bahasa Latin berarti lahir) adalah perayaan kelahiran Tuhan Yesus Kristus ke dalam dunia. Misteri yang dirayakan dalam perayaan Natal ini adalah misteri Inkarnasi, yaitu penjelmaan Allah menjadi manusia. Tahun 2025 ini, secara lebih kuat pesan Natal ditujukan kepada keluarga.

Sebagaimana umumnya, suasana Natal dalam Gereja, identik dengan atribut-atribut khas yang menggambarkan bagaimana kelahiran Tuhan Yesus terjadi.  Apa yang berbeda tahun ini adalah pada bagian depan kandang Natal adanya mainan-mainan kecil seperti truk, mobil, dan sepeda motor yang dipadukan dengan lumpur bertujuan memberi ilustrasi kondisi jalan di sekitar daerah paroki Tanjung. Jalan banyak yang rusak, berlobang, dan berlumpur saat hujan. Karena kondisi jalan yang rusak, sangat sering mobil besar maupun kecil sulit lewat, ablas di tengah jalan, bahkan terpendam beberapa hari di tengah jalan. Banyak orang melewati jalan yang sulit seperti itu untuk berbagai aktivitas, termasuk mudik untuk merayakan Natal.

Sulitnya akses karena jalan rusak, dihubungkan dengan perjuangan Maria dan Yusuf melewati berbagai rintangan untuk sampai ke Betlehem. Mereka harus menempuh jalan yang jauh kurang lebih 130-150 Km, 5-10 hari, panas, kadang terjal dan curam melewati celah bebatuan dan perbukitan. Bunda Maria harus berjalan dalam kondisi hamil besar, tentu saja sangat tidak mudah untuk dibayangkan. Jalan mereka pasti juga jalan yang rusak. Sejak zaman keluarga kudus, jalan atau akses itu tidak mudah. Gambaran nyatanya sekarang di paroki Tanjung  juga mengalami kondisi yang tidak mudah bahkan dapat dikantan “gelap.” Tapi Terang itu, akan terbit dalam perayaan Natal karen Yesus telah lahir. Maka, Romo Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung, RD. Andreas Krishna Gunawan atau akrab disapa Mona mengusung ide kandang Natal dengat atribut lumpur.

Berdasarkan tema Natal Tahun 2025, dalam homilinya, Mona menegaskan arti khusus tentang bagaimana Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga. Berdasarkan tema natal tahun ini, Allah Hadir Untuk Menyelamatkan Keluarga,” menjadi kesempatan bagi setiap keluarga untuk hidup dalam iman dengan Allah, tidak hanya dalam perkataan namun juga perbuatan. Keluarga perlu Yesus yang lahir baru dalam hati setiap orang. Dalam kondisi sekarang, kita memang bisa tinggal dalam satu rumah tapi tidak terasa tinggal dalam keluarga. Jikalau ada pernikahan, ada bapak, ibu dan anak, marilah menciptakan suatu keluarga yang harmonis. Keharmonisan selalu terasa hangat, tidak hanya pada keluarga namun juga dalam masing-masing Kring yang terdiri atas keluarga-keluarga. Keharmonisan dalam kring ini, disimbolkan juga dengan perarakan pohon-pohon Natal dari masing-masing kring.

Terbentuknya Sejarah

Sejarah terbentuk untuk pertama kalinya dalam perayaan malam natal tahun 2025 di Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung, terdapat perarakan Patung Bayi Yesus dengan ukuran yang sangat besar dan diikuti pemeran Bunda Maria dan Santo Yosef.  Patung tersebut diarak beberapa umat dengan berkostum domba, dari depan Gereja, melewati Pasar Tanjung, dan tujuan terakhirnya yakni Gereja Baru Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung yang sedang dibangun. Seluruh umat mengikuti perarakan tersebut dengan saling mengucapkan selamat Natal satu sama lain, kemudian diiringi lagu Natal, serta lilin yang menjadi simbol terang kelahiran Tuhan Yesus Kristus.

Bayi Yesus dinaikan ke Jurungh

Patung bayi Yesus kemudian diangkat ke bagian atas Gereja Baru yang berbentuk Jurungh (Lumbung Padi Orang Dayak). Di atas jurung sudah disiapakan sebentuk buku besar. Di bawah buku itu, ditempatkan patung  bayi Yesus raksasa tersebut. Hal ini menjadi simbol penting perayaan Natal yang merayakan misteri Inkarnasi, yakni Allah yang menjadi Manusia. Dengan Kata lain lagi dapat dikatakan sebagai Sang Sabda telah menjadi manusia.

Pesta Keluarga Kudus

Minggu, 28 Desember 2025, misa penutupan tahun Yubileum di Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung berbeda dari biasanya, misa penutupan tahun Yubileum kali ini berlangsung di Bukit Sion. Dipimpin oleh dua Romo yaitu RD. Andreas Krishna Gunawan dan Rm. Pamungkas Winarta, Pr bersama dengan Frater Memet. Sebanyak ratusan umat Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung menghadiri misa tersebut, diiringi dengan suasana sukacita masa Natal dan kebersamaan bersama keluarga. Hal ini menjadi pengalaman pertama, misa bersatu dengan keindahan alam yang berpotensi menjadi salah satu tempat wisata rohani di Keuskupan Ketapang terutama di daerah paroki Tanjung.

Adanya pembaruan janji perkawinan bagi pasangan suami istri turut menghidupkan kehangatan pada masing-masing keluarga yang hadir, selaras dengan tema Natal tahun ini yaitu “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” yang dimaknai. Melalui homilinya, RD. Andreas Krishna Gunawan berharap keluarga zaman ini lebih mempertahankan iman dan kasih dalam Allah, kuat melalui berbagai rintangan, tantangan, dan permasalahan agar tetap utuh sebagai satu keluarga. Setelah misa, terdapat flashmob yang diusulkan oleh Romo dengan menyanyikan lagu mentega dan roti. Dalam momen ini, umat diharuskan untuk mencari pasangan bergandengan tangan dan membentuk tarian sesuai arahan dari Romo.

Tidak berakhir sampai di situ, umat melanjutkan misa dengan acara makan-makan atau piknik di Bukit Sion. Setiap kring membawa makanan masing-masing berisi berbagai lauk pauk yang nikmat, dikonsumsi secara bersama-sama. Kekeluargaan, kehangatan, dan keharmonisan semakin diperkuat dengan adanya misa ini. Ada pertanyaan dari Romo kepada umat, “Jika misa di Bukit Sion diadakan setiap satu bulan sekali, mau atau tidak?” dan umat dengan kompak menjawab “Mau” yang artinya menyetujui hal tersebut. Momen ini menjadi salah satu agenda yang memperkuat tali persaudaraan dan kekeluargaan bagi umat Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung.

Hari Raya Penampakan Tuhan

Minggu, 04 Januari 2026, Hari Raya Penampakan Tuhan dirayakan dengan penuh sukacita dan kebersamaan umat. Misa berlangsung khidmat dengan suasana yang hangat dan meriah. Umat tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian perayaan. Gereja dipenuhi semangat iman dan rasa syukur.

Dalam homilinya, Rm. Krishna yang akrab disapa Mona menegaskan pentingnya petunjuk bintang bagi para Majus. Bintang menuntun mereka hingga akhirnya menemukan Tuhan Yesus. Hal ini menjadi simbol bahwa Tuhan selalu memberi tanda bagi mereka yang mau mencari-Nya. Umat diajak peka terhadap petunjuk Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Mona juga membagikan pengalaman menariknya saat berkatekese di rumah umat di salah satu stasi. Ketika membahas Perayaan Penampakan Tuhan, seorang umat mengatakan bahwa mereka juga memiliki bintang. Dalam benaknya, Mona mengira bintang hiasan untuk perayaan Minggu. Ternyata yang dimaksud adalah Bir Bintang jenis Pilsener, yang spontan mengundang tawa.

Pesta Hari Raya Penampakan Tuhan semakin semarak dengan kehadiran anak-anak berbusana biarawan dan biarawati. Ada yang mengenakan pakaian suster, uskup lengkap dengan tongkatnya, serta romo. Penampilan mereka menambah warna dan kegembiraan dalam perayaan. Umat dewasa pun tampak terhibur melihat kreativitas anak-anak.

Tugas koor dalam misa ini juga dipercayakan kepada anak-anak misioner. Suara mereka yang polos dan lembut menarik perhatian seluruh umat. Nyanyian sederhana itu menyentuh hati setiap orang yang mendengarkannya. Suasana misa pun terasa semakin hidup dan penuh makna.

Setelah pengumuman, anak-anak kembali menampilkan tarian Natal di dalam gereja. Tarian tersebut menciptakan kemeriahan lebih dari biasanya. Umat menyambut penampilan itu dengan tepuk tangan meriah. Gereja dipenuhi sukacita dan semangat.

Dalam misa ini juga dilaksanakan pemberkatan kapur oleh romo. Tradisi ini berkaitan dengan pemberkatan rumah pada Hari Raya Epifani. Pemberkatan kapur mengingatkan kisah pembebasan umat Israel dari perbudakan. Bagi umat Kristiani, Kristus adalah Anak Domba Paskah yang membebaskan dari dosa dan maut.

Kapur yang telah diberkati dibagikan kepada setiap keluarga untuk dibawa pulang. Keluarga menuliskan tanda 20+C+M+B+26 di pintu rumah sebagai doa dan harapan. Angka 20 dan 26 adalah angka tahun saat ini. Huruf C, M, B adalah singkatan dari ketiga nama para Majus, yakni Caspar, Melchior dan Balthasar. Namun di sisi lain huruf-huruf tersebut merupakan singkatan dari bahasa Latin, “Christus Mansionem Benedicat”, yang berarti “Semoga Kristus memberkati rumah ini.” Lambang “+” sendiri merupakan lambang salib.

Kontributor: Sdri. Flo, Mahasiswa KKN Atmajaya Angkatan 88

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini