Berfoto Bersama Para OMK St. Lukas Kemuning Biutak

Aksi Panggilan merupakan program strategis dan fundamental dalam lingkungan seminari atau rumah formasi yang bertujuan untuk menjaring serta membina calon-calon imam maupun pemimpin masa depan Gereja. Dalam rangkaian kunjungan pastoral di Stasi Kemuning Biutak pada momentum pergantian tahun baru, Romo Petrus Riyan memberikan kesempatan berharga kepada Frater Sesco untuk memperkenalkan kehidupan Seminari melalui untaian kotbah yang inspiratif. Hal ini sejalan dengan hakikat panggilan yang senantiasa memerlukan ruang untuk disuarakan di tengah umat Allah agar benih-benih pelayanan dapat tumbuh subur. Sebagaimana tertulis dalam Kitab 1 Samuel 3:10, Tuhan memanggil manusia secara personal, dan Gereja bertugas menciptakan ruang yang hening namun responsif agar setiap pribadi mampu menjawab, “Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.”

Jayus, Pengurus OMK Peduli Seminari memberikan arahan kepada para OMK Stasi Kemuning

Berikut merupakan cuplikan kotbah yang disampaikan oleh Frater Sesco dalam kesempatan tersebut: “Selamat malam Romo, Bapak, Ibu, adik-adik, dan tentunya pasukan elite saya, rekan-rekan OMK Stasi Kemuning Biutak yang luar biasa! Wah, luar biasa sekali energi malam ini. Kita berdiri di ambang pintu, teman-teman. Di belakang kita ada kenangan tahun 2025, dan di depan kita ada gerbang misterius bernama tahun 2026. Sebelum Frater lanjut, yuk kita ucapkan ‘Syukur kepada Allah’ untuk Tuhan Yesus yang sudah menjaga kita sampai detik ini!”

Fr. Sesco menjelaskan tentang Seminari

“Malam ini adalah Malam Kedelapan dalam Oktaf Natal, sekaligus kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah serta menyambut pergantian tahun 2025 ke 2026. Bacaan-bacaan hari ini seolah-olah menjadi ‘starter pack’ atau bekal paling komplit buat kita masuk ke tahun baru. Dari Kitab Bilangan, kita dengar janji berkat: ‘Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau.’ Di Galatia, kita diingatkan bahwa kita ini bukan lagi hamba atau ‘sad boy/sad girl’ yang terpuruk, tapi kita adalah anak-anak Allah, ahli waris kerajaan-Nya. Dan di Injil Lukas, kita melihat Bunda Maria yang menyimpan segala perkara di dalam hatinya.”

“Tapi sebelum Frater bahas lebih dalam soal teologi, Frater mau ‘check-in’ dulu sama teman-teman OMK. Frater lihat muka-muka kalian ini ada yang ceria, tapi ada juga yang kayaknya lagi nanggung beban hidup seberat log sawit. Coba jujur sama Frater, apa sih masalah yang paling sering bikin kalian galau, overthinking tiap malam, atau merasa ‘capek banget jadi manusia’ sepanjang tahun 2025 ini? Boleh satu atau dua orang teriakkan masalahnya?”

Frater Sesco kemudian melanjutkan penjelasannya dengan berkata, “Nah, itu dia! Masalah remaja dan OMK itu memang tidak jauh-jauh dari pencarian jati diri, tekanan dari lingkungan, sampai masalah asmara yang kadang lebih rumit daripada soal matematika. Ada yang merasa orang tua tidak mengerti hobi kita, ada yang terjebak toxic relationship, atau yang paling parah, ada yang merasa hidupnya tidak berguna karena terus-terusan dibanding-bandingkan dengan anak tetangga yang sudah sukses. Belum lagi godaan di luar sana: pergaulan bebas, miras, narkoba, yang seringkali dianggap ‘keren’ padahal itu adalah jalan tol menuju kehancuran.”

Mendengarkan dengan penuh antusias

“Teman-teman, Bunda Maria yang kita rayakan malam ini adalah sosok yang sangat tenang. Dia ‘menyimpan segala perkara di dalam hati.’ Maria tidak spill tea di story Instagram saat dia bingung, dia tidak ngedumel saat harus melahirkan di kandang domba. Dia percaya pada rencana Allah. Itulah panggilan kita sebagai OMK: punya hati yang kuat untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk.”

“Berbicara soal panggilan, Frater berdiri di sini bukan karena Frater lebih suci dari kalian. Tidak sama sekali. Frater di sini karena Frater merespons panggilan itu. Saat ini, Frater sedang menjalankan tugas Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Menengah St. Laurensius Ketapang. Kalian tahu tidak seminari itu apa? Itu adalah sekolah khusus untuk calon Pastor. Dan jujur saja, tinggal di seminari itu healing tiap hari! Lihat badan Frater, agak subur, kan? Ini adalah bukti nyata kalau di seminari itu kita sangat bahagia. Makan terjamin tiga kali sehari, dan hampir setiap hari lauknya daging. Kenapa bisa begitu? Karena Gereja sangat menyayangi calon imamnya.”

“Kebutuhan kami, mulai dari makan, biaya listrik, wifi (penting banget buat tugas!), sampai air, semuanya sudah ditanggung. Ada banyak orang baik di luar sana yang peduli. Ada yang namanya GOTAUS (Gerakan Orang Tua Asuh) dan Bunda Peduli Seminari (BPS) di paroki-paroki. Mereka menyisihkan rezeki supaya kami, para seminaris, bisa belajar dengan tenang tanpa pusing memikirkan besok makan apa. Rejeki yang dikumpulkan itu nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan pendidikan calon imam Keuskupan Ketapang.”

“OMK juga bisa berkontribusi untuk Seminari. Frater memiliki ide yang disebut ‘Gerakan OMK: Koin 1.000 untuk Seminari’? Bayangkan, kalau setiap minggu kalian kumpul koin seribu rupiah saja, dikolektifkan oleh Ketua Stasi, lalu diserahkan ke Paroki untuk dikirim ke Seminari. Ini bukan soal uangnya, tapi soal ‘investasi masa depan’. Supaya apa? Supaya nanti, kalau para seminaris ini sudah jadi Pastor, mereka punya relasi batin dengan kalian. Kita tidak mau lagi dengar ada Pastor yang ‘anti orang muda’, Pastor yang hobinya marah-marah saja, atau Pastor yang tidak mau gaul sama OMK karena lebih nyaman sama bapak-apak dan ibu-ibu. Dan sebaliknya, kita tidak mau ada OMK yang takut atau malas ketemu Pastornya karena dianggap ‘nggak asyik’. Lewat koin seribu ini, kita bangun jembatan kasih. Kalian mendukung calon imam, dan calon imam belajar mencintai umatnya sejak dini. Kita bangun Gereja masa depan yang harmonis!”

“Tapi, ada satu kata yang biasanya bikin OMK alergi: Disiplin. Di seminari, disiplin itu nomor satu. Mungkin kalian berpikir, ‘Ah, malas ah masuk asrama atau seminari, nanti hidupku diatur-atur.’ Teman-teman, dengar ini: Disiplin itu adalah cheat code untuk sukses. Disiplin itu sederhana: kita tahu apa yang harus dikerjakan, tahu waktunya, dan tahu manfaatnya.”

“Contohnya begini: kalau kalian ke sekolah tidak terlambat, guru tidak akan menghukum, kan? Kalau PR dikerjakan tepat waktu, hati tenang, kan? Tapi kalau kalian tidak disiplin, sering terlambat, atau menunda tugas, sebenarnya kalian sedang ‘korupsi waktu’. Kalian mencuri waktu orang lain dan waktu masa depan kalian sendiri. Apakah ada di sini yang bercita-cita jadi koruptor? Tentu tidak! Jadi, entah nanti kalian jadi Pastor, Suster, Bruder, atau mau jadi karyawan kantor sawit, dokter, pilot, atau pengusaha, disiplin adalah modal utama. Di seminari, kami dibentuk menjadi pribadi yang tertata, supaya saat lulus, kami siap menghadapi kerasnya dunia.”

“Pesan ini juga khusus untuk adik-adik perempuan. Kalau ada kesempatan sekolah, pilihlah asrama. Kenapa? Karena asrama adalah benteng yang melindungi kalian. Di luar sana, dunia sangat kejam. Banyak anak perempuan yang jadi korban janji-janji palsu. ‘I love you, Sayang. Aku janji nggak akan tinggalin kamu. Aku bakal tanggung jawab.’ Aduh, teman-teman OMK, percayalah, cowok yang ngomong gitu biasanya kolornya saja masih dibelikan orang tuanya! Jangan gadaikan masa depan kalian demi cinta sesaat yang berakhir dengan tangisan. Maksud orang tua menyekolahkan kalian supaya sukses, eh jangan sampai malah pulang bawa anak sebelum waktunya.”

“Di asrama atau seminari, kalian diajarkan mandiri. Jangan lihat teman-temanmu yang tinggal di kost bebas, yang bisa pulang jam berapa saja, yang bisa bawa pacar masuk kamar. Hidup mereka mungkin terlihat ‘bebas’, tapi seringkali itu adalah kebebasan yang menjerumuskan ke miras, narkoba, dan pergaulan bebas. Usia kalian saat ini belum cukup kuat untuk menghadapi godaan dunia sendirian. Maka, asrama dan seminari adalah solusi terbaik untuk menjaga ‘harta karun’ masa depan kalian.”

“Mari kita tutup tahun 2025 ini dengan semangat seperti para gembala di Injil tadi. Mereka bergegas pergi melihat Yesus, lalu pulang dengan penuh sukacita. Mari kita juga bergegas meninggalkan kebiasaan buruk kita: malasnya, suka menunda-nunda, dan kebiasaan ‘korupsi waktu’. Kita songsong tahun 2026 sebagai anak-anak Allah yang merdeka, bukan hamba dari rasa malas atau hamba dari nafsu sesaat.”

“Sebelum mengakhiri, Frater mengajak seluruh umat menyanyikan lagu “S’gala Perkara”. “Mari kita nyanyi dengan sepenuh hati, seolah-olah ini adalah doa pertama kita untuk tahun 2026.” Lirik lagu tersebut bergema sebagai ungkapan iman: “Penolong yang selalu setia, memenuhi keperluanku. Tak pernah Dia mengecewakan, Yesusku tak pernah gagal. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan. Tuhan Yesus penolong dan sahabat, tetap percaya Tuhan setia.”

“Setelah bernyanyi, Frater Sesco menutup dengan pesan terakhir: “Terima kasih Romo, Bapak, Ibu, dan semua umat Stasi Kemuning Biutak. Ingat ya, di tahun 2026 nanti, tidak ada lagi OMK yang hobi galau tanpa tujuan. Jadilah OMK yang disiplin, yang peduli pada panggilan, dan yang berani berkata ‘tidak’ pada hal-hal yang merusak masa depan. Mari kita saling mendoakan. Selamat menyambut Tahun Baru 2026! Tuhan Yesus memberkati, Bunda Maria doakan kami!”

Setelah pelaksanaan misa, Frater Sesco diberikan kesempatan khusus bersama OMK Stasi Kemuning untuk memaparkan detail teknis mengenai Seminari. Adapun syarat untuk mendaftar menjadi calon imam meliputi: (1) Laki-laki beragama Katolik; (2) Telah menyelesaikan pendidikan SMP/SMA/S1 dengan rentang usia 16-35 tahun; serta (3) Memiliki kesiapan mental untuk menghadapi tantangan zaman dan menjadi saksi Kristus yang berani. Penulis mencatat bahwa persyaratan ini bertujuan untuk memastikan kematangan personal para kandidat. Diperlukan pribadi-pribadi yang berani melepaskan segala jala duniawi untuk menjadi penjala manusia, sebagaimana para rasul yang dipanggil di tepi danau Galilea.

Frater Sesco turut menjelaskan bahwa lingkungan Seminari juga menerima mereka yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana (S1), termasuk pengalaman pribadi penulis yang bersangkutan. Sebelum memasuki kehidupan Seminari, Frater Sesco telah meraih gelar S1 Komputer dari Universitas Widya Dharma Pontianak. Pengalaman profesionalnya pun cukup beragam, mulai dari bekerja di PT. Bank Central Asia sebagai teller, menjadi Guru di SD Swasta Katolik Marie Joseph Pontianak sembari menempuh studi, hingga posisi terakhir sebagai staf e-commerce di Nevada Ketapang Hotel. Baru setelah memutuskan masuk Seminari, penulis menjalani pendidikan Tahun Orientasi Rohani (TOR) dan kini kembali menempuh studi S1 Filsafat Keilahian. Perjalanan karier ini membuktikan bahwa Tuhan bisa memanggil siapa saja dari berbagai latar belakang profesi, sebab Dia tidak memanggil mereka yang mampu, tetapi memampukan mereka yang terpanggil.

Semangat memulai sesuatu yang baru

Dalam perjumpaan Aksi Panggilan tersebut, Frater Sesco secara resmi menggagas ide OMK Kemuning Peduli Seminari, sebuah inisiatif yang terinspirasi dari gerakan Bunda Peduli Seminari (BPS). Jika BPS menghimpun donasi dari para ibu di paroki, maka program ini bertujuan memfasilitasi OMK Stasi Kemuning untuk berdonasi secara sukarela bagi keberlangsungan pendidikan para calon imam. Tujuannya sangat mulia, yakni agar sejak dini OMK mengenal ekosistem Seminari dan terlibat dalam relasi kasih yang konkret dengan para Seminaris. Hal ini diharapkan dapat memangkas sekat komunikasi, sehingga kelak ketika para Seminaris ditahbiskan menjadi imam, mereka telah memiliki kedekatan batin dengan orang muda. Visi ini mewujudkan Gereja yang merupakan satu Tubuh mistik Kristus, di mana setiap anggota saling memperhatikan dan membangun satu sama lain dalam kasih (Efesus 4:16).

Melalui program ini, kesan negatif bahwa pastor cenderung kaku atau tidak bisa membaur dengan orang muda diharapkan dapat terkikis. Gagasan ini pun sebelumnya telah melalui tahap diskusi matang antara Frater Sesco,pengurus OMK Stasi Kemuning Biutak dengan Romo Riyan, dan pada malam tersebut disambut dengan antusiasme yang luar biasa oleh para OMK. Penulis melihat hal ini sebagai sebuah terobosan pastoral yang inklusif. Kesatuan antara gembala dan kawanan domba adalah cerminan dari relasi Kristus sebagai Gembala Baik yang mengenal domba-domba-Nya dan dikenal oleh mereka (Yohanes 10:14).

Seluruh dana yang terkumpul dari inisiatif ini, serupa dengan dana dari BPS, GOTAUS, maupun donatur lainnya, akan dialokasikan secara akuntabel untuk kebutuhan konsumsi, operasional seperti listrik, air, koneksi internet, fasilitas olahraga, hingga kesejahteraan karyawan dan tenaga pendidik. Penulis menegaskan bahwa transparansi merupakan prinsip utama dalam pengelolaan dana ini. Setiap Minggu, pengurus OMK akan melaporkan hasil donasi melalui pengumuman Gereja, yang kemudian diserahkan secara berjenjang melalui Ketua Stasi dan Paroki menuju Seminari. Seluruh pencatatan dilakukan melalui aplikasi keuangan yang terintegrasi dan dilaporkan ke Keuskupan sebagai bagian dari laporan keuangan global. Transparansi ini adalah bentuk pertanggungjawaban iman kita untuk senantiasa mengusahakan apa yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan tetapi juga di hadapan manusia (2 Korintus 8:21).

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Frater Sesco dan segenap OMK Stasi Kemuning Biutak melakukan sesi foto bersama. Dokumentasi ini bukan sekadar gambar, melainkan sebuah penanda sejarah dengan harapan besar agar gerakan partisipatif OMK bagi Seminari ini dapat menginspirasi stasi-stasi dan paroki-paroki lain di wilayah Keuskupan Ketapang. Dokumentasi perjumpaan ini menjadi kesaksian nyata bahwa ketika kita bersatu dalam satu semangat pelayanan, Gereja akan terus bertumbuh dan berbuah bagi kemuliaan nama Tuhan sepanjang masa.

Penggagas Aksi Panggilan: RD. Petrus Riyan, Fr. Fransesco Agnes Ranubaya dan OMK Stasi St. Lukas Kemuning Biutak

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini