Stasi SP 2 Singkup-21 Agustus 2025, suasana dipenuhi rasa haru dan sukacita. Misa perdana RD. Sirus Yulius Mbusa dirayakan secara meriah namun khidmat, menandai awal pelayanannya di tengah umat. Acara dimulai dengan penjemputan secara adat Dayak Jelai melalui ritual Tepung Tawar. Upacara tersebut menjadi awal dari perjalanan penuh makna hari itu. Dalam upacara adat Flobamora, Riwayat RD. Sirus dituturkan dalam bahasa Nagekeo, sebagai bentuk penghormatan terhadap akar budayanya sendiri. Meskipun berasal dari etnis Flobamora, RD. Sirus menunjukkan rasa hormat dan cinta yang mendalam terhadap budaya Dayak setempat dengan sepenuh hati mengikuti seluruh rangkaian adat yang disiapkan untuknya.
Dalam kisahnya, RD. Sirus mengenang masa kecilnya yang begitu dekat dengan Gereja. Ia sering duduk di dekat Pastor Matias, sosok yang diam-diam membekas dalam ingatannya. Sejak kecil ia sudah sering mendengar tentang seminari, terutama dari Romo Nedi Besar yang rajin memberikan informasi. Namun, jalan menuju seminari tidaklah mulus. Suatu waktu, keinginannya harus tertunda karena sempat tidak melanjutkan sekolah selama satu tahun.

Sebelum akhirnya masuk seminari, RD. Sirus sempat bekerja menjaga tempat permainan PlayStation. Ia juga pernah tinggal bersama keluarga Pak Polo untuk menjaga sapi. Pekerjaan itu bukan hal yang mudah. Ia bahkan sempat menjadi bahan ejekan anak-anak asrama putri yang menyebutnya “penggembala sapi.” Namun, pengalaman itulah yang justru membentuk kerendahan hati dan ketangguhannya. Setelah masa itu, barulah ia masuk seminari bersama rekannya, Sdr. Mirus yang juga turut hadir psiang ini.

Namun, tidak lama setelah masuk, ia jatuh sakit dan mulai merasa bahwa dirinya tidak cocok untuk menjadi imam. Di tengah kebimbangan itu, seorang Romo menyuruhnya berobat terlebih dahulu, dan setelah sembuh ia ditanya oleh Romo Sutadi, “Mau pulang atau tidak?” Jawabannya tegas: tidak.
Di seminari, ia banyak dibantu oleh teman-teman seangkatan. Salah satu yang paling berkesan adalah RD. Bala yang selalu setia membangunkannya di pagi hari agar tidak terlambat berdoa.
Saat kuliah di Malang, RD. Sirus dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Ia tidak pernah merasa lebih baik dari yang lain. Ia bahkan mengatakan dirinya memiliki standar nilai terendah di angkatan. Namun, kesadaran bahwa dirinya bukan yang paling pintar justru menjadi motivasi untuk terus belajar.

Ia sering belajar bersama dengan rekan-rekannya, seperti Frater Jeno dan Frater Greg waktu itu. Ia juga selalu hadir dalam pesta wisuda teman-teman satu daerahnya, bukan untuk bersenang-senang, melainkan hanya datang saat makan malam—bentuk sederhana dari rasa solidaritas.
Pengalaman pastoralnya dijalani bersama Pastor Bangun. Dalam masa itu, ia sering mendapat pertanyaan dari para imam dan bahkan dari Bapa Uskup, “Masih kuat?” Meski begitu, ia memilih untuk memandang segala tugas yang diberikan kepadanya secara positif, sebagai bentuk latihan kesetiaan dan pelayanan.
Satu momen yang tak terlupakan adalah ketika ia dibangunkan tengah malam, tepat pukul satu, dengan kabar bahwa ayahnya meninggal dunia. Ia segera bersiap dan mengendarai motor dengan pelan, agar tidak ada kecelakaan. Ia mengatakan kepada dirinya sendiri, “Jangan sampai orang meninggal membuatku menyusul.” Kejadian itu mengguncang niatnya untuk menjadi imam.

Ayahnya adalah sosok yang paling mendukung panggilan hidupnya. Namun justru saat itu, ibunya—yang selama ini terlihat kurang mendukung—menjadi penguat. Ia berkata, “Ini cobaan untukmu.” RD. Sirus heran bagaimana ibunya bisa berkata seperti itu, dan ia yakin bahwa saat itulah Roh Kudus bekerja melalui orang yang tak disangka-sangka.
Menurut RD. Sirus, apa yang ia miliki saat ini adalah hasil dari rahmat Tuhan dan dukungan banyak orang. Ia bahkan mengakui bahwa banyak teman seangkatannya yang lebih hebat dan lebih layak, namun justru mereka yang mundur dari panggilan. Ia sendiri merasa tak memiliki apa pun yang bisa dibanggakan. Semakin ia mencari makna panggilan, semakin ia menyadari bahwa panggilan itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan logika. Panggilan adalah misteri. Dan misteri itu sendiri adalah rahmat.
Ia menyampaikan bahwa rahmat yang dimilikinya hari ini adalah misteri bagi hari esok. Maka ia bersyukur, karena telah sampai pada titik ini bukan karena kehebatannya, melainkan karena penyertaan Tuhan dan dukungan semua orang yang hadir. Ia menutup dengan ucapan terima kasih kepada umat yang datang bukan sekadar sebagai jemaat, tetapi sebagai keluarga—keluarga besar dalam iman yang telah menyertai dan menguatkannya selama ini.
Ditulis oleh Fr. Memet


















