Rabu pagi, 20 Agustus 2025, Desa Sidahari, Lamboi, tampak lebih meriah dari biasanya. Masyarakat berkumpul dengan semangat penuh sukacita menyambut misa perdana RD. Petrus Riyant, imam baru yang baru saja ditahbiskan pada tanggal 15 Agustus lalu. Misa ini menjadi momen bersejarah, karena RD. Riyant adalah putra kedua asal Lamboi yang menjadi imam, setelah RD. Mardianus Indra.
Acara dimulai dengan perarakan dari rumah keluarga RD. Riyant menuju tempat misa. Warga desa turut mengiringi dengan antusias. Ketika rombongan tiba di depan kantor desa, mereka disambut secara adat Dayak. Diawali dengan ritual Garungh Karing—pemotongan bambu muda sebagai simbol pembuka jalan—dan dilanjutkan dengan Tapung Tawar, yaitu pengolesan beras kuning di bawah kedua telinga sebagai tanda penerimaan adat.

Suasana semakin semarak saat kelompok penari tampil mengiringi lagu “Mari Kita Pulang ke Lamboi”, sebuah lagu yang diciptakan sendiri oleh ayah RD. Riyant, Bapak Naus. Lagu itu menggambarkan kerinduan akan kampung halaman, dan saat itu benar-benar menyentuh hati banyak orang yang hadir.
Usai penyambutan adat, perarakan liturgi dimulai. Lagu pembuka dinyanyikan oleh kelompok kor Sola Eklesia, diiringi gamelan, gendang, dan alat musik tradisional lainnya, memadukan suasana religius dan kearifan lokal yang kental. Perayaan ini tidak hanya menjadi acara gerejawi, tetapi juga perayaan budaya dan identitas.
Misa tersebut dihadiri oleh para imam dari berbagai paroki, antara lain RD. Krishna, RD. Boni, RD. Pamungkas, RD. Indra, RD. Sabas, RD. Edu, RD. Joko, dan RD. Ubin. Juga hadir tiga imam muda yang ditahbiskan bersama RD. Riyant, yaitu RD. Sirus, RD. Bala, dan RD. Budi. Kehadiran mereka menjadi bentuk nyata dukungan dan persaudaraan dalam imamat.
Dalam homilinya, RD. Riyant mengisahkan awal mula panggilannya menjadi imam. Ia merasa terkesan dengan sosok RD. Pamungkas yang hangat dan akrab dengan banyak orang. Ia juga mengenang peran besar RD. Edu yang terus mendukungnya, bahkan bersedia datang ke rumah dan memimpin misa sebelum keberangkatannya ke Surabaya untuk studi lanjut. RD. Riyant juga mengenang perjumpaan pertamanya dengan RD. Krishna, yang menghadiahinya baju kolar yang langsung ia kenakan setelah tahbisan. RD. Boni banyak terlibat dalam persiapan misa perdana ini, memberikan masukan dan membantu hal-hal penting lainnya.
RD. Joko, yang berasal dari Paroki Tembelina—tempat RD. Riyant akan bertugas nantinya—bahkan datang sehari sebelumnya dan menginap di rumah keluarga RD. Riyant. RD. Indra, yang dulu membimbing RD. Riyant saat Tahun Orientasi Pastoral di Meraban, banyak mengajarkan cara melayani umat dan mengelola paroki. Sementara itu, RD. Sabas berjasa menyediakan perlengkapan misa bagi imam baru seperti dirinya.
Dalam homili itu pula, RD. Riyant menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada teman-teman seangkatannya. Ia menyebut RD. Bala sebagai teladan hidup rohani, RD. Budi yang sangat ramah dan mudah akrab, serta RD. Sirus yang selalu membuat suasana ceria dengan candaannya.

RD. Riyant sadar bahwa jalan imamat masih panjang. Ia berkata bahwa setelah ditahbiskan, ia masih harus terus belajar dari para imam yang lebih senior. Dengan rendah hati, ia memohon agar diberi bimbingan, diarahkan, dan ditegur jika keliru, dalam semangat persaudaraan. Ia mengajak semua imam untuk saling menguatkan dalam tugas mewartakan Yesus, bukan saling mendiamkan atau menjatuhkan, karena pada akhirnya mereka adalah satu keluarga imam di Keuskupan Ketapang.
Tak lupa, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga besarnya yang selama ini mendukungnya dengan setia. Baginya, dukungan keluarga bukanlah dalam bentuk kemewahan, tetapi dalam kesederhanaan yang jujur dan apa adanya. Ia mengaku bangga menjadi bagian dari keluarga yang sederhana namun penuh cinta.
Di akhir misa, Bapak Naus, ayah RD. Riyant, memberikan sambutan yang sangat menyentuh. Ia menjelaskan gambar pada banner acara yang memperlihatkan lumbung padi dan simbol gereja. Dengan suara bergetar, beliau menceritakan bahwa anaknya, RD. Riyant, lahir di lumbung padi di desa Kekura. Kini, anak itu telah dipersembahkan untuk Gereja, untuk menjadi imam yang akan mengantar umat ke “lumbung iman”. Suasana menjadi haru, dan seluruh umat yang hadir memberikan tepuk tangan panjang penuh penghormatan dan rasa syukur.
Acara ditutup dengan makan bersama seluruh umat, kemudian dilanjutkan dengan acara adat Begendang, sebuah tradisi Dayak sebagai bentuk perayaan dan sukacita.
Perayaan misa perdana RD. Petrus Riyant menjadi momen bersejarah dan penuh makna. Dari sebuah lumbung padi yang sederhana, kini ia melangkah menjadi pelayan di lumbung iman, melanjutkan panggilan hidup untuk melayani Tuhan dan umat-Nya dengan sepenuh hati.
Ditulis oleh Fr. Memet


















