Sejarah Pilar Kesehatan Keuskupan Ketapang

Sejarah masuknya Injil di Keuskupan Ketapang bermula pada tahun 1911. Kabar gembira ini pertama-tama dibawa oleh para pedagang Tionghoa yang datang untuk berdagang, di antaranya Tan A Hak. Di sela-sela aktivitas dagang, mereka juga mewartakan Injil kepada masyarakat setempat.

Dalam perkembangannya, mereka berhasil mengundang para misionaris Kapusin untuk membaptis umat yang ingin menjadi Katolik. Namun, kehadiran para misionaris tidak serta-merta diterima begitu saja. Para tetua adat di Serengkah mengajukan syarat penting: pewartaan Injil harus disertai dengan pendirian sekolah dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Sejak saat itu, Gereja di Keuskupan Ketapang bertumbuh di atas tiga pilar utama, yakni pendidikan, kesehatan, dan iman.

Pelayanan kesehatan pun terus berkembang. Para Suster OSA turut ambil bagian dengan mendirikan Rumah Sakit Fatima, klinik-klinik, rumah bersalin, serta balai pengobatan di berbagai kampung. Kini, upaya tersebut dilanjutkan melalui pembentukan jejaring kesehatan di setiap paroki yang dikoordinasikan oleh Komisi Kesehatan Keuskupan Ketapang bersama dr. Indah. Setiap paroki dihimpun untuk membentuk tim tenaga kesehatan (nakes) sebagai wujud pelayanan nyata kepada umat. Salah satu bentuk konkret pelayanan tersebut tampak dalam kegiatan yang dilaksanakan di Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung.

kegiatan PROLANIS

Kabar gembira hadir bagi masyarakat, khususnya para lansia dan ibu hamil. Tim Kerja Kesehatan Paroki bekerja sama dengan Puskesmas Riam serta Klinik Utama Laboratorium Prodia Pontianak mengadakan kegiatan PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) secara GRATISSSS.

Kegiatan ini merupakan pelayanan kesehatan terpadu yang melibatkan peserta, fasilitas kesehatan, dan pengecekan BPJS Kesehatan, dengan tujuan membantu masyarakat dalam menjaga dan mengelola kesehatan, terutama bagi penderita penyakit kronis. Hingga pelaksanaannya, kegiatan ini telah diikuti oleh lebih dari 100 lansia dan 15  ibu hamil.

Menariknya, pelayanan ini tidak hanya didukung oleh tenaga kesehatan dari Paroki Tanjung, tetapi juga melibatkan nakes dari berbagai tempat. Kehadiran mereka menunjukkan semangat kolaborasi yang luas, bahkan lintas agama, karena tidak semua tenaga kesehatan yang terlibat beragama Katolik. Demikian pula peserta yang mengikuti kegiatan ini tidak hanya berasal dari umat Katolik, melainkan juga dari berbagai latar belakang agama. Hal ini menjadi tanda bahwa Gereja Katolik sungguh ingin berjalan bersama masyarakat.

Sebagian Bumil Mengikuti Kelas

Selain itu, peran para ketua stasi juga sangat penting dalam menyukseskan kegiatan ini. Mereka aktif menginformasikan kegiatan kepada umat di wilayah masing-masing, sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaat pelayanan ini.

Berbagai layanan disediakan, antara lain pemeriksaan kesehatan bagi lansia, penyuluhan kesehatan, pengecekan serta pengobatan gratis. Sementara itu, ibu hamil mendapatkan layanan skrining dan pemeriksaan USG gratis oleh dokter dari Puskesmas Riam Kota. Kegiatan ini menjangkau wilayah Tanggerang, Teluk Runjai, Pangkalan Pakit, Sidahari, dan Rangga Intan.

Pelaksanaan kegiatan berlangsung pada Kamis, 16 April 2026, mulai pukul 08.00 WIB di area Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung. Pelayanan lansia dipusatkan di Gedung Paroki, sedangkan pemeriksaan USG bagi ibu hamil dilaksanakan di area pastoran.

Dalam upaya menjangkau lebih banyak peserta, khususnya para lansia berusia 60 tahun ke atas, pihak paroki juga berinisiatif menyediakan transportasi. Dengan semangat gotong royong, paroki meminjam kendaraan dari umat untuk menjemput dan mengantar para lansia agar dapat mengikuti kegiatan ini dengan lebih mudah.

Bumil

Suasana pelayanan berlangsung tertib, hangat, dan penuh perhatian. Para tenaga kesehatan melayani dengan ramah, mulai dari pemeriksaan, konsultasi, hingga pemantauan kondisi kesehatan. Para ibu hamil tampak antusias mengikuti setiap tahapan pemeriksaan demi memastikan kesehatan diri dan bayi yang dikandung.

Di teras pastoran, tampak bidan dengan sabar menjelaskan hasil pemeriksaan kepada seorang ibu. Percakapan berlangsung sederhana namun penuh makna, mencerminkan kedekatan antara tenaga kesehatan dan umat.

Di dalam ruangan, para petugas dengan sigap melayani masyarakat: mencatat data, memeriksa buku kesehatan, serta memberikan edukasi. Meski dilakukan di tempat yang sederhana, kegiatan berjalan tertata dan penuh semangat pelayanan.

Para lansia

Para lansia pun terlihat antusias mengantre untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan gratis. Di bawah rindangnya pepohonan, kegiatan ini menghadirkan suasana sejuk dan penuh kekeluargaan.

Kegiatan PROLANIS GRATISSSS ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Misi 3 Arah Dasar (ARDAS) Keuskupan Ketapang, khususnya dalam pelayanan kasih kepada mereka yang menderita: kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi perwujudan nyata dari karya Yesus yang menyembuhkan, sebagaimana Ia berjalan berkeliling untuk berbuat baik (doa Ardas)Seturut teladan-Nya, umat Katolik pun diutus untuk melanjutkan karya kasih tersebut:

“Sembuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati, tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Matius 10:8)

Kutipan-kutipan ini menegaskan bahwa pelayanan kasih kepada sesama, terutama kepada mereka yang lemah dan membutuhkan, merupakan inti dari kehidupan beriman. Kegiatan PROLANIS ini menjadi salah satu wujud konkret dari iman yang hidup, iman yang tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Keseluruhan kegiatan ini menjadi tanda bahwa Gereja sungguh hadir, berjalan bersama masyarakat, serta menghadirkan kasih yang menyembuhkan, menguatkan, dan mempersatukan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini