Suasana hangat dan penuh semangat terasa dalam Rapat Pengurus Komisi Kepemudaan (Komkep) Keuskupan Ketapang yang digelar pada Jumat malam, 2 Mei 2026, pukul 20.00–22.00 WIB. Pertemuan ini menjadi ruang berbagi sekaligus merumuskan langkah ke depan, terutama menindaklanjuti hasil pertemuan Komkep se-Regio Kalimantan di Tanjung Selor serta mempersiapkan Pra IYD IV di Sorong.

Dalam sesi pertama, para pengurus menerima berbagai informasi penting dari pertemuan tingkat regio. Kemuadian, kabar baik datang dari Komkep KWI yang memberikan apresiasi atas tata kelola Komkep Ketapang, mulai dari kelengkapan SK hingga identitas kepengurusan yang dinilai tertata dengan baik. Bahkan, gerakan Identity Identified yang telah dijalankan dinilai layak untuk dilanjutkan dan menjadi contoh bagi daerah lain.
Lebih jauh, penegasan juga diberikan mengenai pentingnya kehadiran para pembina dan pengurus Komkep yang benar-benar “masuk” ke dalam dunia kaum muda. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa peran Orang Muda Katolik (OMK) sangat dipengaruhi oleh dukungan pastor paroki maupun dekanat. Dalam konteks ini, Komkep diharapkan mampu menjadi jembatan yang mewakili suara OMK, sekaligus menghadirkan ruang-ruang pembinaan, termasuk melalui keheningan doa dan meditasi.
Tema besar “Kaum Muda Beriman Tangguh” yang diangkat dalam temu regio pun menjadi pengingat arah pelayanan ke depan. Dukungan dari Komkep KWI juga akan semakin nyata melalui pendampingan tim, rencana pertemuan daring, serta pengiriman buku hasil riset yang dijadwalkan pada 21 Mei mendatang. Selain itu, penguatan administrasi seperti arsip dan pedoman juga menjadi perhatian penting.
Dalam diskusi internal, muncul gagasan pengembangan Hari Orang Muda Sedunia (HOMS) sebagai bentuk kebersamaan dan kemandirian, misalnya melalui iuran rutin setiap tiga atau enam bulan. Usulan ini mendapat tanggapan positif dari berbagai bidang: liturgi, humas, mediakom, hingga acara, dengan catatan perlunya transparansi penggunaan dana. Pada akhirnya, pengurus Komkep sepakat untuk mendukung sistem iuran ini sebagai langkah bersama.
Rapat juga menyinggung laporan pertanggungjawaban kegiatan Temu Pengurus OMK di Marau yang telah terlaksana, sebagai bagian dari evaluasi dan pembelajaran ke depan.
Memasuki agenda kedua, perhatian tertuju pada persiapan Pra IYD IV di Sorong yang akan berlangsung pada tahun 2027. Rangkaian kegiatan sudah mulai disusun, termasuk masa live in yang direncanakan pada 21–26 Juni 2027. Meski detail teknis masih menunggu informasi resmi panitia, Komkep Ketapang menargetkan kesiapan laporan pada Januari 2027, sebelum batas akhir pendaftaran di Februari.
Berbagai kegiatan pendukung juga akan digelar, seperti lomba-lomba OMK pada April hingga Juni 2026 yang akan dipublikasikan melalui media sosial. Momen penting lainnya adalah HOMS ke-41 yang akan dirangkaikan dengan pemberkatan Salib IYD tingkat keuskupan. Setiap dekanat direncanakan membuat salib berbahan lokal seperti rotan dan kapuak, yang nantinya akan dibawa ke Sorong. Kirab Salib pun menjadi agenda bersama yang direncanakan berlangsung mulai November, dengan Simpang Dua sebagai salah satu lokasi yang dipertimbangkan.
Untuk IYD IV sendiri, setiap keuskupan mendapat kuota 50 peserta yang terdiri dari perwakilan Komkep, paroki, serta imam pendamping. Setelah pendaftaran ditutup, para peserta akan mengikuti rangkaian Pra IYD sebagai bekal sebelum berangkat.
Menutup pertemuan, Romo Ryant memberikan peneguhan agar seluruh tim Komkep semakin mempersiapkan diri dengan matang, baik dari sisi teknis maupun rohani. Hasil rapat ini pun akan dipublikasikan melalui website resmi, sekaligus menjadi dasar penyusunan luaran bersama, termasuk rencana pembuatan buku pedoman yang akan digarap secara kolaboratif.
Rapat malam itu bukan sekadar agenda rutin, melainkan langkah nyata membangun pelayanan kaum muda yang semakin terarah, berakar dalam iman, dan relevan dengan dinamika zaman. Semangat kebersamaan yang terjalin menjadi harapan bahwa OMK Keuskupan Ketapang akan terus bertumbuh sebagai generasi beriman yang tangguh dan siap diutus.
Kaum muda, dengan energi dan antusiasme mereka, dapat membantu Gereja tetap muda… Mereka mendorongnya untuk terus diperbarui dan tidak berhenti pada masa lalu. (Christus Vivit, 37)
























