Foto Bersama Umat Stasi St. Lukas Kemuning Biutak

Setelah menghabiskan beberapa hari menjalankan tugas di Paroki St. Tembelina, penulis kembali ke Ketapang untuk menjemput para mahasiswa dan mahasiswi KKN dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Momentum ini juga penulis gunakan untuk melakukan perawatan rutin pada sepeda motor guna memastikan kelancaran pelayanan berikutnya. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian tugas tersebut, tepat pada tanggal 30 Desember 2025 pagi, penulis berangkat kembali menuju Tembelina melalui jalur Pelang – Indotani – Sungai Melayu Rayak. Perjalanan menuju Kemuning ini ditemani oleh RD. Petrus Riyan dan Saudara Ari, seorang mahasiswa KKN dari STAKKAT Negeri Pontianak. Jalur yang ditempuh melewati SP6 melalui kawasan perkebunan kelapa sawit dan melintasi Jembatan Pocong yang legendaris. Penulis dan rombongan sempat berasumsi akan mengalami kesulitan besar dalam melewati jalur tersebut mengingat intensitas hujan yang tidak kunjung reda. Namun, dalam iman kita diingatkan pada janji Tuhan dalam Yesaya 40:4 bahwa “setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung serta bukit akan diratakan; tanah yang berbukit-bukit akan menjadi tanah yang rata.” Syukur kepada Allah, melalui tangan-tangan sesama yang tidak sengaja menebas tanaman di sisi jalan, jalanan yang semula becek dan berlumpur tertutupi oleh rumput sehingga dapat dilalui dengan aman. Meski jalanan cukup licin dan hujan rintik-rintik membasahi bumi, penulis berkendara dengan penuh kehati-hatian hingga akhirnya tiba di Pastoran Kemuning sekitar pukul 11.22 untuk beristirahat.

Keesokan harinya, penulis dan rombongan bangun sedikit lebih lambat dari biasanya, yakni sekitar pukul 10.00. Agenda hari itu diisi dengan kegiatan kunjungan pastoral, berkeliling dari rumah ke rumah untuk bercengkerama dan berbagi cerita dengan umat. Suasana Natal yang hangat masih sangat terasa menyelimuti setiap perjumpaan. Berbagai hidangan minuman dan kue-kue Natal masih tertata rapi, siap untuk disantap bersama. Perbincangan santai mengalir sembari menikmati hembusan angin, dan sesekali penulis bersama umat menikmati rujak buah dengan bumbu cabai yang pedas segar. Rumah-rumah yang penulis kunjungi meliputi kediaman Pak Suandin, Pak Samat, Kak Intan, Bu Mita, Pak Harmet, Pak Man, hingga Pak Syaiful. Perjumpaan ini bukan sekadar kunjungan sosial, melainkan sebuah bentuk Koinonia atau persekutuan persaudaraan. Hal ini selaras dengan semangat jemaat perdana dalam Kisah Para Rasul 2:46 yang menyatakan bahwa “dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati.” Melalui keramah-tamahan ini, kehadiran Gereja sungguh dirasakan secara nyata di tengah-tengah keluarga sebagai gereja domestik yang hidup.

Selanjutnya, penulis melaksanakan perayaan Ekaristi di Gereja Stasi St. Lukas, Kemuning Biutak. Berbeda dengan suasana Malam Natal dan hari raya Natal pagi, jumlah umat yang hadir kali ini tidak sampai memenuhi kapasitas gereja. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kesibukan sebagian umat yang tengah mempersiapkan acara perayaan malam pergantian tahun di rumah masing-masing. Karena misa dimulai pada pukul 18.00, liturgi yang digunakan adalah ritus Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah. Dalam perayaan ini, Frater Sesco diberikan kepercayaan untuk menyampaikan homili. Melalui kotbahnya, Frater Sesco memperkenalkan Seminari Menengah St. Laurensius Ketapang sebagai upaya memberikan pemahaman kepada umat mengenai pentingnya pendidikan bagi para calon imam. Partisipasi umat sangat krusial bagi perkembangan Gereja, khususnya dalam mendukung regenerasi imam di Keuskupan Ketapang. Sebagaimana tertulis dalam Matius 9:37-38, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Selain itu, Frater Sesco juga melakukan aksi panggilan kepada para OMK Stasi St. Lukas Kemuning Biutak dengan memperkenalkan kehidupan di Seminari. Bagi para remaja putri, diperkenalkan pula Asrama Putri Bintang Kejora dan Asrama PIJ di Ketapang. Hidup di Seminari maupun asrama yang dikelola oleh biarawan-biarawati menekankan kedisiplinan hidup yang bertujuan tidak hanya untuk mencetak calon imam, tetapi juga kader-kader Gereja dan pemimpin umat yang tangguh di masa depan.

Pada acara puncak penutupan malam tahun baru, bersama dengan Ketua Umat dan Kepala Desa Kemuning Biutak, penulis dan rombongan berbaur dengan seluruh umat untuk mengikuti acara “Berganjur” atau menari bersama dalam kegembiraan. Romo Riyan dan Frater Sesco pun turut naik ke atas panggung untuk menyumbangkan lagu, yang disambut dengan antusiasme tinggi. Seluruh hadirin bersukaria menyambut datangnya tahun yang baru. Menjelang detik-detik tengah malam, seluruh kegiatan hiburan dihentikan sejenak untuk memasuki saat teduh. Frater Sesco memimpin doa syukur dan permohonan, yang kemudian ditutup dengan berkat penutup oleh Romo Riyan. Sesaat setelah itu, suara mesin motor bersahutan membelah keheningan malam dan kembang api meluncur indah, menggema di langit yang mendung. Meski hujan gerimis terus turun, hal itu sedikit pun tidak memadamkan api kegembiraan dalam menyambut tahun baru 2026. Peristiwa ini dibaratkan sebagai Kairos, yakni waktu Tuhan yang penuh rahmat. Sebagaimana pemazmur bersyukur dalam Mazmur 65:12, “Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak,” penulis pun meyakini bahwa tahun yang baru ini adalah kesempatan yang dianugerahkan Tuhan untuk terus berkarya di kebun anggur-Nya dengan semangat yang baru pula.

Doa Tutup Tahun oleh Fr. Fransesco Agnes Ranubaya dan Berkat oleh RD. Petrus Riyan

Perjalanan Asistensi bersama RD. Petrus Riyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini