Penerimaan Jubah & Ikrar Kaul Perdana (Sumber: Dokumentasi)

Tepat di Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus

Pada pukul 10.00 pagi di Kapel Suster OSA Ketapang, umat berkumpul dalam suasana syukur dan haru untuk merayakan Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus. Hati Yesus melambangkan cinta kasih, keakraban, dan keramahan Allah terhadap setiap insan. Hari istimewa ini menjadi semakin bermakna karena menjadi momentum syukur atas cinta kasih Allah yang diwujudkan dalam panggilan hidup religius. Bersama para Suster Agustinian Kerahiman Allah, umat menyaksikan anugerah besar: tiga postulan menerima busana biara, dan enam novis mengikrarkan kaul pertama mereka.

Penerimaan Busana dan Kaul Pertama

Tiga postulan yang dengan tulus hati menerima busana biara OSA adalah Manila Suratna, Maria Marla, dan Juanita Aprilia Wambea. Mereka menyatakan kesiapan untuk melangkah lebih jauh dalam perjalanan panggilan hidup membiara.

Selain itu, enam novis mengikrarkan kaul pertama mereka, yaitu Sr. Alphonsa Dina, Sr. Florentina Fransiska Lala, Sr. Fransine Yesi Larasati, Sr. Atanasia Fransiska Sera, Sr. Louisa Lesensia Rumpabe, dan Sr. Selestina Marseles Siska. Suasana syukur dan haru begitu terasa ketika mereka, dengan penuh keyakinan, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah melalui hidup religius Agustinian.

Perayaan Ekaristi yang sakral ini dipimpin oleh Mgr. Pius Riana Prapdi bersama RP. Vitalis Nggeal, CP , RD. Pamungkas, RD. Fransiscus Suandi, RD. Simon Anjar Yogatama, dan RD. Yoseph Kaju.

Homili: Nurani yang Menata Kehidupan

Dalam homilinya yang menggugah, Mgr. Pius Riana Prapdi mengangkat pentingnya hati nurani dalam menata kehidupan pribadi maupun bangsa. Ia mengawali dengan cerita tentang sebuah karikatur Kompas tahun 2010, yang menggambarkan seseorang sedang mencari “hari nurani.” Sebuah sindiran tajam terhadap kondisi bangsa yang menurut sebuah opini kala itu telah “hampir rusak sempurna.” Kehancuran itu terjadi ketika hidup dijalani tanpa mendengarkan suara hati.

Mgr. Pius mengajak seluruh umat, khususnya para suster yang mengikrarkan kaul dan menerima busana, untuk menata hati bukan demi kepentingan pribadi, melainkan demi kebaikan bersama. “Tidak ada musuh yang abadi,” katanya, mengutip dunia politik. Namun jika hidup hanya dijalani atas dasar kepentingan semata, kehancuran tidak bisa dihindari.

JOSSSS: Sukacita, Suci, Smart

Mgr. Pius merangkum pesannya dalam tiga kata: JOSSSS—singkatan dari Jadilah Suster yang Sukacita, Suci, dan Smart.

Sukacita adalah bagian dari tugas seorang religius. Dalam bacaan pertama, Allah berjanji mencari yang hilang dan menggembalakan umat-Nya. Sukacita bukanlah milik pribadi, melainkan sesuatu yang dibagikan. “Menjadi gembala yang berbau domba, bukan berbau pizza atau tuak,” ujarnya berseloroh, menekankan bahwa seorang religius harus dekat dengan umat dan realita kehidupan, bukan hanya berdiam dalam biara dan meditasi.

Suci, menurut bacaan kedua, adalah karunia Allah yang diberikan lewat Roh Kudus, bahkan saat manusia masih berdosa. Kesucian tidak menunggu kesempurnaan, tetapi adalah proses yang dimulai dari keterbukaan hati. Kesucian berarti menjadi milik Allah dan melihat orang lain sebagai anugerah, bukan saingan. Masyarakat yang saling mengakui keberadaan dan potensi satu sama lain akan membentuk persaudaraan sejati.

Smart, atau cerdas, bukan sekadar kecerdasan intelektual, tetapi kecerdasan ilahi. Banyak yang cerdas tetapi culas. Dalam konteks ini, Indonesia yang menuju 2025 sebagai “Indonesia Emas” harus waspada terhadap kecerdasan tanpa nurani, karena bisa berubah menjadi “Indonesia Cemas.” Cerdas dalam kasih berarti mampu hidup bersama orang lain, bahkan dengan mereka yang pernah melukai kita. Ini adalah tanda kedewasaan rohani dan kasih sejati.

Menjadi Suster yang JOSSSS

Mgr. Pius menutup homilinya dengan ajakan penuh semangat kepada para suster untuk menjadi pribadi yang JOSSSS—yang menghadirkan sukacita, membawa kesucian, dan menunjukkan kecerdasan rohani dalam kehidupan nyata. “Tidak usah tegang, gak akan dibatalkan. Sudah sampai di sini kok,” ujarnya, menenangkan dan menyemangati para calon suster yang bersiap melangkah dalam hidup religius.

Pembacaan Konstitusi Sebelum Penjubahan

Dalam suasana yang penuh haru dan hikmat, sebelum prosesi penjubahan dilangsungkan, dilakukan pembacaan Konstitusi Kongregasi Suster OSA dari Kerahiman Allah. Bacaan ini menjadi pengingat spiritual bagi para postulan dan seluruh umat akan dasar panggilan hidup religius serta semangat Injil yang menghidupi kongregasi ini. Ayat-ayat yang dibacakan berasal dari Bab II: 22 dan 32, serta Bab IV: 73 dan 74 dari Konstitusi Kongregasi.

Bab II: Ayat 22

Sebagai persekutuan yang ditandai oleh cinta penuh kerahiman, kita mengutamakan hidup bersama dalam persatuan mesra dengan Kristus menurut semangat Injil yang menghadirkan cinta Kerahiman Bapa. Persekutuan kita dalam bimbingan Roh Kudus, membawa kebaikan bagi orang miskin dan pembebasan pada orang-orang yang terpenjara oleh banyak hal. St. Augustinus dalam doanya mengajak kita: “Kita semua mengharap akan bertemu dengan Kristus di Surga, tetapi perhatikanlah Kristus yang terbaring di jalan di depan pintumu; perhatikanlah Kristus yang lapar, kedinginan, yang menderita dan menjadi orang asing.”

Bab II: Ayat 32

Busana biara yang kita kenakan merupakan tanda pengudusan diri bagi Allah sekaligus sebagai tanda keselamatan kita seperti yang diungkapkan oleh Nabi Yesaya: “Aku bersukaria dalam Tuhan, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran” (Yes 61:10). Dengan mengenakan busana biara, kita menyatakan sukacita kita sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Allah yang maharahim.

Bab IV: Ayat 73

Dengan mengikrarkan dan menghayati ketiga nasehat Injil yaitu kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan, kita mengabdikan diri seutuhnya kepada Allah yang kita cintai mengatasi segala sesuatu. Dengan mengikrarkan nasehat-nasehat Injil dalam Gereja, kita bercita-cita untuk bebas dari rintangan-rintangan yang menjauhkan kita dari cinta kasih yang berkobar dan kesempurnaan bakti kepada Allah, sehingga lebih erat dikhususkan mengabdi kepada Allah. Dengan menghayati nasehat-nasehat Injil, kita secara khusus menghayati panggilan kenabian Gereja sebagaimana hidup merupakan anugerah dari Tuhan. Maka secara istimewa, melalui ketiga nasehat Injil kita diarahkan untuk memperhatikan orang miskin, sakit, dan terlantar. Itulah panggilan kekudusan kita.

Bab IV: Ayat 74

Dengan memilih hidup menurut ketiga kaul, kita pun secara sadar mau menyerahkan hidup sepenuhnya hanya mengutamakan Allah dan kehendak-Nya. Dengan demikian, kita pun seperti St. Paulus berani berkata: “Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati bagi dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi, baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Rom 14:7–8). Oleh karena itu, setiap suster yang mengucapkan kaul menyadari konsekuensi dari kaul-kaul itu, baik dalam kehidupan sebagai religius maupun dalam mencari dan melaksanakan kehendak Allah melalui perutusan Kongregasi. Dengan demikian, tidak ada seorang pun yang mencari kehendak dan kemauannya sendiri, karena kita bersama berkaul dalam kongregasi untuk mencari kehendak Allah.

Sambutan Sr. Ignasia, OSA

Usai Penyerahan Buku Regula dan Konstitusi

Setelah berkat penutup, suasana syukur semakin terasa khidmat ketika para pestawati menerima buku Regula Santo Agustinus dan Konstitusi Suster Santo Agustinus dari Kerahiman Allah sebagai bekal rohani dan arah hidup religius mereka. Momen ini dilanjutkan dengan sambutan penuh kasih dan makna dari Sr. Ignasia, OSA, yang memberikan wejangan hangat kepada para pestawati dan seluruh umat yang hadir.

“Mentari menjelang petang, burung kasuari mondar-mandir, kami ucapkan selamat datang, terima kasih atas kehadiran Bapak-Ibu semua. Walaupun nggak nyambung, disambung-sambungkan saja—tapi biasanya saya nyambung.”

Dengan gaya khas yang menyegarkan dan penuh kehangatan, Sr. Ignasia membuka sambutannya dengan ucapan syukur yang mendalam.

Ia mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Bapa Uskup yang telah memimpin perayaan Ekaristi selama dua jam penuh dalam suasana iman dan sukacita. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para pastor yang mendampingi Bapa Uskup, terutama kepada Pastor Vitalis, yang telah membimbing para pestawati selama masa retret, serta kepada para orangtua dan keluarga yang telah mempersembahkan putri-putrinya untuk menjadi anggota Kongregasi. Sr. Ignasia menyebut mereka sebagai donatur utama dalam karya panggilan ini.

Tak lupa, beliau mengapresiasi kehadiran para imam, bruder, suster, dan seluruh umat yang telah mendukung dengan doa, cinta, dan kehadiran mereka. Ucapan terima kasih yang sama juga disampaikan kepada para suster yang telah bekerja keras, saling melengkapi dan menopang, sehingga acara besar ini dapat berjalan dengan lancar.

Kepada para pestawati, Sr. Ignasia mengucapkan proficiat atas penerimaan jubah Santo Agustinus. Ia menyampaikan, “Pasti kalian senang sudah pakai jubah, namun perlu diingat, dengan memakai jubah, ada konsekuensinya.” Ia mengingatkan bahwa hidup sebagai seorang berjubah bukan hanya simbol, tetapi harus terlihat dalam sikap, tutur kata, dan tindakan. Ia mengangkat simbolisasi dari tindakan Bapa Uskup yang melepaskan aksesoris: sebagai lambang untuk menanggalkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan hidup baru dalam Kristus. “Nama kalian baru, artinya hidup baru mengikuti teladan Yesus. Jubah baru, nama baru—maka itu hiduplah secara baru. Tinggalkanlah kebiasaan yang lama,” ujar Sr. Ignasia. Namun ia menegaskan pula agar para pestawati tidak perlu khawatir, sambil berseloroh, “Senyumlah, Dolok.”

Para pestawati kini memasuki tahap novisiat, dan satu kata kunci yang ditekankan Sr. Ignasia adalah “terbuka”—terutama terbuka terhadap rahmat Allah. Ia mendorong mereka untuk terus belajar, terus berjuang, dan percaya bahwa Tuhan yang memanggil pasti juga akan menyertai.

Kepada enam suster yang baru saja mengikrarkan kaul pertama, Sr. Ignasia mengajak mereka untuk sungguh menghidupi kaul ketaatan, kemiskinan, dan keperawanan, bukan hanya diucapkan di atas kertas, tetapi benar-benar dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. “Taat pada pemimpin dan perutusan. Taat pada peraturan dan kesepakatan bersama,” demikian pesannya. Ia menegaskan bahwa kemiskinan harus tampak dalam gaya hidup dan sikap sederhana, dan keperawanan adalah tanda bahwa seorang suster hanya mencintai Yesus. Maka, segala bentuk keterikatan lainnya harus dilepaskan.

Ia mengingatkan bahwa kaul pertama adalah momen penting yang tidak boleh dilupakan, karena akan diperbarui setiap tahun. Jika dipupuk dengan baik, maka di tahun keenam, akan tiba saatnya mengikrarkan kaul kekal. Namun, jika tidak dipelihara, maka panggilan itu akan terkikis oleh godaan-godaan dunia.

Setelah ini, para suster akan ditugaskan ke tempat-tempat baru. Oleh karena itu, Sr. Ignasia menekankan pentingnya menyeimbangkan hidup doa, hidup komunitas, dan karya pelayanan. Ia memperingatkan agar tidak hanya terfokus pada aktivitas: “Kan saya sibuk bekerja, kan saya sudah berkaul.” Ia mengajak untuk berefleksi dan kembali pada identitas sejati: “Betulkah?” Karena, kata beliau, “Kita bukan wanita karir, tetapi pelayan Kristus dan anggota Kongregasi.”

Sr. Ignasia menutup sambutannya dengan menegaskan bahwa apapun yang dilakukan haruslah demi Kongregasi dan kebutuhan Gereja. Rumah sejati para suster adalah komunitas, bukan karya. Ia mengajak semua untuk membawa Kristus dan menyebarkan Kristus ke manapun para suster diutus.

“Perjalanan para suster masih panjang, mohon dukungan dan doa agar mereka semua setia sampai akhir hidupnya. Semoga Tuhan selalu memberkati kita semua. Amin.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini