Ada orang-orang yang kehadirannya meninggalkan jejak jauh lebih panjang daripada waktu perjumpaan dengannya. Bagi saya, RD. Lintas adalah salah satunya. Ia bukan hanya seorang imam senior, melainkan juga pembimbing rohani yang turut membentuk perjalanan iman dan panggilan saya menuju imamat. Melalui kehidupan rohani, nasihat, dan keteladanannya, ia membantu saya memahami bahwa mengikuti Tuhan bukanlah perjalanan yang selalu mudah, tetapi perjalanan yang menuntut ketekunan dan kesetiaan untuk selalu mengambil hal yang lebih (Magis)

Saya mengenal RD. Lintas pada tahun 2018, ketika masih menjadi seminaris kelas XII di SMA PL St. Yohanes Ketapang dan tinggal di Seminari Menengah St. Laurensius. Saat itu, saya meminta izin kepada rektor seminari, Romo Buset, seorang imam Keuskupan Agung Semarang, untuk mendapatkan bimbingan rohani dari RD. Lintas. Romo Buset memberikan izin tersebut. Sekitar tiga bulan lalu, Romo Buset sendiri telah dipanggil Tuhan. Kini, ketika mengenang perjalanan itu, saya menyadari bahwa Tuhan menghadirkan orang-orang tertentu pada waktu yang tepat untuk membantu kita bertumbuh dalam iman dan meneguhkan panggilan.

Dalam bimbingan rohani, saya mengenal RD. Lintas sebagai pribadi yang tekun berdoa Brevir (ibadaat harian yang singkat) bijaksana dalam tutur kata, dan peka terhadap pergulatan orang lain. Ia juga mendorong saya membaca buku-buku rohani, salah satunya Berdoa Tak Kunjung Putus, terjemahan Frans Harjawiyata, OCSO. Saya membaca buku itu dan merangkumnya untuk sesi akademik hari Selasa di seminari. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa pertumbuhan iman membutuhkan kesediaan untuk terus belajar, merenung, dan memperdalam relasi dengan Tuhan.

Pada tahun 2019, ketika memutuskan melanjutkan pembinaan sebagai calon imam diosesan Keuskupan Ketapang, saya memerlukan surat rekomendasi dari RD. Lintas yang kebetulan menjadi Pastor Paroki saya. Sebelum memberikan surat itu, ia menyampaikan sebuah nasihat yang masih saya ingat:

“Tomi, menjadi imam di Ketapang ini tidak mudah. Apalagi pendidikan calon imam sangat panjang dan memerlukan ketekunan.Biayanya bisa jual kebun sawit dan ladang”

Nasihat itu mengingatkan saya pada perkataan RD. Cyrilus yang pernah saya dengar pada tahun 2016 ketika kami mengikuti pelajaran Liturgi, ketika saya masih kelas X SMA. Saat itu, ia mengatakan bahwa menjadi imam di Keuskupan Ketapang pada masa mendatang tidaklah mudah. Dua nasihat yang saya terima pada waktu berbeda itu perlahan membentuk cara saya memahami panggilan imamat. Saya belajar bahwa panggilan bukanlah jalan yang selalu menjanjikan kemudahan, bukan tentang cepat atau lambat, melainkan kesediaan untuk tetap setia sekalipun tantangan menghadang. Nasihat mereka bukan alasan untuk mundur, melainkan undangan untuk memurnikan motivasi, memperkuat ketekunan, dan mempersiapkan diri dengan lebih sungguh-sungguh seperti semangat St. Laurensius, nama pelindung Seminari Menengah di Ketapang. Nama Seminari St. Laurensius adalah nama yang diberikan oleh RD. Lintas.

Setelah menjalani Tahun Orientasi Rohani dan menyelesaikan empat tahun studi filsafat di Malang, saya kembali ke Ketapang untuk menjalani Tahun Orientasi Pastoral pada tahun 2024. Saya kembali meminta RD. Lintas menjadi pembimbing rohani. Meskipun kesehatannya tidak selalu baik, ia tetap bersedia mendampingi saya. Bimbingan kami memang tidak berlangsung secara teratur, tetapi beberapa pengalaman bersamanya tetap membekas dalam ingatan.

Saya masih mengingat suatu malam ketika kami berdoa bersama di kapel keuskupan. Dalam keheningan itu, saya merasakan kedekatan dengan Tuhan dan bahkan enggan meninggalkan kapel. Pengalaman sederhana tersebut mengajarkan bahwa perjumpaan dengan Tuhan tidak selalu membutuhkan banyak kata. Terkadang, keheningan dan kesediaan untuk tinggal di hadapan-Nya justru menjadi ruang bagi hati untuk mendengarkan.

Ketekunan RD. Lintas dalam doa juga meninggalkan kesan mendalam. Ia setia mendoakan Brevir atau Ibadat Harian setiap hari, baik seorang diri maupun bersama orang lain. Bahkan ketika kondisi kesehatannya melemah, ia tetap berusaha mendaraskan mazmur dalam batinnya. Dari dirinya, saya belajar bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak selalu tampak dalam karya-karya besar. Kesetiaan juga hadir dalam doa yang terus dipelihara, bahkan ketika tubuh tidak lagi mampu melakukan banyak hal.

Ia juga menasihati saya agar membaca dan mempelajari kearifan lokal masyarakat Dayak. Menurutnya, seorang imam tidak cukup hanya menguasai teologi. Ia perlu mengenal kebudayaan masyarakat yang dilayani, memahami kehidupan mereka, dan membangun ikatan hati dengan umat. Sebab, mewartakan Injil bukan hanya berbicara tentang Tuhan, melainkan juga berjalan bersama manusia dalam pengalaman hidup mereka. Nasihat ini sangat berarti bagi pelayanan di Keuskupan Ketapang, yang memiliki wilayah luas dan masyarakat dengan latar belakang budaya yang beragam.

Dalam buku 1 Abad Evangelisasi di Tanah Kayong (hlm. 47), RD. Lintas disebut sebagai “buah sulung Misi”, imam pribumi pertama yang lahir dari Tanah Misi atau Tanah Kayong. Buku tersebut mengisahkan bahwa penahbisannya oleh Mgr. Silekens menjadi tonggak penting dalam sejarah Gereja setempat, hampir 67 tahun setelah karya evangelisasi dimulai di Ketapang.

Sebutan “buah sulung” bukan sekadar penanda sejarah. Di dalamnya terkandung makna penantian, pengharapan, dan kehidupan. Buah sulung adalah hasil dari benih yang ditanam, dirawat, dan dinantikan dengan penuh kesabaran. Kehadirannya menjadi tanda bahwa tanah yang menerima benih itu dapat menghasilkan buah. Dalam diri RD. Lintas, kita melihat buah dari perjalanan panjang pewartaan Injil di Tanah Kayong.

Namun, makna buah sulung tidak berhenti pada dirinya sendiri. Buah pertama selalu membawa harapan akan buah-buah berikutnya. Hidup dan pengabdian RD. Lintas menjadi bagian dari sejarah yang kini diteruskan oleh generasi selanjutnya. Karena itu, kepergiannya bukan hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga mewariskan sebuah pertanyaan bagi kita: siapakah yang akan meneruskan buah-buah panggilan itu di Tanah Kayong ini?

Pertemuan terakhir saya dengan RD. Lintas terjadi pada Juli 2026, sebelum saya kembali ke Pontianak untuk lanjut studi tahun terakhir saya di STAV. Saya tidak menyangka bahwa beberapa bulan kemudian, pada Sabtu, 10 Oktober 2026, saya akan menerima kabar bahwa ia telah dipanggil Tuhan. Pagi itu, sebelum Misa dimulai di Kapel Seminari Tinggi Antonino Ventimiglia, Pontianak, saya membuka telepon genggam dan mengetahui kabar kepergiannya. Intensi Misa pagi itu dipersembahkan bagi keselamatan jiwanya dan didoakan oleh Romo Ambros. Peristiwa tersebut menjadi kenangan yang mendalam bagi saya: ketika kabar kepergian seorang guru kehidupan dan teladan rohani bagi saya.

Misa Requiem bagi RD. Lintas dilaksanakan pada Senin, 12 Oktober 2026, pukul 10.00 pagi, di Gereja Katedral Ketapang. Dalam homilinya, Mgr. Pius menyampaikan satu ungkapan yang begitu menyentuh:

“Buah sulung itu sudah jatuh ke tanah. Terbanglah burung ruai. Turunkanlah hujan rahmat agar buah sulung yang telah jatuh ke tanah berbuah melimpah.”

Ungkapan tersebut mengajak kita memandang kepergian RD. Lintas dalam terang iman dan harapan. Buah sulung yang jatuh ke tanah bukanlah lambang kesia-siaan, melainkan gambaran tentang kehidupan yang telah dipersembahkan dan membuka kemungkinan bagi kehidupan baru. Jika RD. Lintas adalah buah sulung dari perjalanan panjang Gereja di Tanah Kayong, maka kini kita berharap agar benih panggilan yang telah tumbuh dalam dirinya menghasilkan buah-buah berikutnya.

Semoga hujan rahmat Tuhan menyirami tanah Keuskupan Ketapang dan menumbuhkan keberanian dalam hati orang-orang muda untuk menjawab panggilan menjadi imam diosesan. Keuskupan Ketapang masih membutuhkan lebih banyak imam agar pelayanan pastoral dapat menjangkau umat secara lebih merata, termasuk umat-umat kita di stasi-stasi yang jauh. Semoga semakin banyak orang muda bersedia mempersembahkan hidup bagi Tuhan di tengah arus sekularisasi yang kuat dengan kemajuan teknologi yang pesat.

Dengan demikian, kenangan akan RD. Lintas tidak berhenti sebagai cerita tentang seorang imam yang telah pergi. Kenangan itu hendaknya menjadi panggilan bagi kita orang-orang muda yang masih menentukan pilihan hidup. Hidupnya mengingatkan bahwa setiap panggilan yang dijalani dengan setia dapat menjadi benih bagi tumbuhnya panggilan-panggilan baru. Jangan biarkan buah sulung menjadi buah yang terakhir.

Selamat jalan, RD. Lintas. Terima kasih atas doa, bimbingan, nasihat, dan keteladanan yang telah Romo berikan. Terima kasih karena telah menjadi bagian penting dalam perjalanan panggilan saya, sejak masa seminari hingga Tahun Orientasi Pastoral. Apa yang Romo tanamkan melalui kehidupan dan pelayanan tidak berhenti berbuah bersama kepergian Romo.

Semoga segala jerih payah dan kesetiaan Romo dalam melayani Tuhan dan Gereja memperoleh kepenuhannya dalam perjumpaan abadi dengan Bapa di Surga. Semoga benih panggilan yang pernah tumbuh dalam diri Romo terus hidup dan berbuah dalam diri generasi berikutnya, melahirkan imam-imam yang tekun berdoa, rendah hati, setia, dan mencintai umat yang dipercayakan kepada mereka.

Keteladanan dan inspirasi Romo akan selalu kami kenang. Doa kami mengiringi perjalanan pulang Romo menuju Rumah Bapa di Surga.

ditulis oleh Fr. Fransiskus Tomi Mapa, calon imam Keuskupan Ketapang yang sedang studi di Sekolah Tinggi Pastor Bonus Pontianak

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini