Tanjung, 2 Agustus 2026 – Suasana Minggu pagi di Gereja Santa Maria Assumpta Tanjung terasa berbeda dari biasanya. Sejak pukul 07.00 WIB, umat sudah memadati gereja untuk mengikuti Perayaan Ekaristi yang dimulai pukul 07.30 WIB. Bahkan, umat memenuhi hingga ke luar gedung gereja. Selain karena pada Sabtu sore tidak diadakan misa, hari itu juga menjadi momen istimewa dengan dilaksanakannya Serah Terima Jabatan (Sertijab) Pastor Paroki.

Dalam perayaan tersebut, Rm. Yosep Kaju resmi menerima tugas sebagai Pastor Kepala Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung, menggantikan Rm. Andreas Krishna Gunawan. Sementara itu, Rm. Andreas Krishna Gunawan dan Rm. Memet Saputra melanjutkan pelayanan sebagai Vikaris Paroki.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Laurensius Sutadi, Vikaris Jenderal Keuskupan Ketapang, sebagai wakil Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi. Dalam homilinya, Rm. Sutadi mengajak umat mengenang perjalanan panjang Gereja Katolik di Tanjung.

Rm. Sutadi menyampaikan homili

Beliau mengisahkan bahwa benih iman Katolik mulai tumbuh di Tanjung sejak tahun 1921, sementara gedung gereja pertama berdiri pada 1939. Ia juga mengingat kembali masa sulit ketika Perang Dunia II. Saat itu, para misionaris, termasuk Rm. Leo De Jong, OFMCap, harus meninggalkan wilayah pelayanan karena diinternir oleh tentara Jepang dan dibawa ke Kuching.

Sebelum berangkat, para misionaris merayakan misa terakhir di Serengkah. Yang mengharukan, umat dari Tanjung rela berjalan kaki sekitar 50 kilometer demi mengikuti perayaan Ekaristi terakhir bersama para gembala mereka. Kisah tersebut menjadi bukti betapa besar cinta umat kepada para imam yang melayani mereka.

“Hari ini Tuhan kembali memberkati Paroki Tanjung,” ungkap Rm. Sutadi. “Keuskupan mengutus tiga imam untuk menggembalakan umat Allah di tempat ini.”

Mengaitkan homilinya dengan Injil hari itu tentang Yesus memberi makan lima ribu orang, Rm. Sutadi mengajak seluruh umat memahami teladan seorang gembala yang baik.

Pertama, seorang gembala selalu mengutamakan umat. Meski Yesus sedang berduka atas wafatnya Yohanes Pembaptis dan ingin menyendiri, Ia tetap melayani orang banyak yang datang kepada-Nya.

Kedua, gembala yang baik memiliki kepekaan terhadap kebutuhan umat. Yesus tidak hanya mengajar, tetapi juga memperhatikan bahwa orang banyak sedang lapar, sehingga Ia berbuat sesuatu untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Ketiga, seorang gembala tidak bekerja sendirian. Yesus melibatkan para murid untuk membagikan roti dan mengumpulkan sisa-sisanya. Pelayanan Gereja pun menjadi tugas bersama seluruh umat Allah.

“Teladan utama seorang gembala adalah Yesus sendiri,” tegas Rm. Sutadi.

Usai homili, dilaksanakan ritus penerimaan tugas. Di hadapan Vikaris Jenderal dan seluruh umat, Rm. Yosep Kaju menyatakan kesediaannya menerima perutusan dari Uskup Ketapang, kemudian mengucapkan Syahadat Panjang sebagai tanda kesetiaan pada iman Gereja. Acara dilanjutkan dengan penandatanganan dokumen serah terima jabatan yang turut disaksikan oleh perwakilan Dewan Pastoral Harian.

Menjelang berkat penutup, Rm. Andreas Krishna Gunawan—yang akrab disapa Mona—menyampaikan pesan perpisahannya dengan gaya yang hangat dan penuh makna.

Ia bercerita bahwa ketika meminta pengganti kepada Bapa Uskup, beliau hanya berpesan agar belajar dari bambu Cina. Menurutnya, bambu Cina membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk membangun jaringan akar yang kuat sebelum akhirnya tumbuh tinggi dan kokoh.

“Dalam satu tahun terakhir ini, rasanya saya baru menanam dan memperluas akar-akar itu. Nanti tugas Rm. Yoslah yang membuatnya bertumbuh tinggi,” ujarnya sambil tersenyum. Kelakar tersebut langsung disambut tawa dan tepuk tangan umat.

Dalam sambutannya, Rm. Yosep Kaju, yang akrab disapa Rm. Yos, mengaku penunjukannya sebagai Pastor Kepala Paroki datang tanpa banyak waktu untuk mempersiapkan diri secara batin. Namun ia teringat sebuah permenungan beberapa tahun lalu dari sabda Yesus, “Kamu harus memberi mereka makan!”

Baginya, sabda itu kini menjadi nyata di Paroki Tanjung.

“Saya melihat umat Tanjung sudah menyiapkan begitu banyak ‘lima roti dan dua ikan’. Berbagai kegiatan dan semangat pelayanan yang luar biasa telah tersedia. Tinggal semuanya dibawa kepada Yesus agar Ia sendiri yang menggandakannya,” ungkapnya.

Rm. Yos juga mengaku bersyukur karena dapat melayani bersama para imam yang masih muda dan penuh semangat.

Pernyataan itu pun langsung disambut canda dari Rm. Laurensius Sutadi.

“Kalau begitu, saya yang sudah berusia 61 tahun ini masuk kategori apa?” ujarnya sambil tersenyum.

Candaan tersebut kembali mengundang gelak tawa seluruh umat yang memenuhi gereja.

Dalam kesempatan yang sama, Rm. Sutadi juga berpesan agar umat tidak melupakan kesejahteraan para pastor yang melayani mereka. “Jangan lupa memberi makan pastor,” katanya disambut senyum umat.

Beliau juga mengapresiasi berbagai program pembinaan iman yang telah dirintis Rm. Krishna selama satu tahun terakhir serta menyampaikan terima kasih kepada seluruh umat Paroki Tanjung yang telah mendukung proses pembinaan calon imam.

Menurutnya, setiap kali umat menerima seorang frater untuk memimpin ibadat, berkatekese, ataupun berkhotbah, sesungguhnya umat sedang ikut membentuknya menjadi seorang imam.

“Terima kasih karena umat Tanjung telah ikut membentuk Rm. Memet hingga menjadi imam. Semoga ia menjadi imam yang setia sampai akhir hidupnya,” tutup Rm. Sutadi.

Perayaan Ekaristi dan serah terima jabatan itu menjadi awal baru bagi perjalanan Gereja di Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung. Dengan semangat kebersamaan antara para imam dan seluruh umat, pelayanan diharapkan semakin bertumbuh, sehingga semakin banyak orang mengalami kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini