Tanjung, 12–16 Agustus 2026 — Perayaan pesta pelindung Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung tahun 2026 berlangsung dalam suasana yang sederhana, hangat, dan penuh makna. Selama lima hari, 12–16 Agustus 2026, rangkaian kegiatan tidak hanya diisi dengan perayaan liturgis, tetapi juga dengan kunjungan keluarga, pelayanan kepada lansia dan umat difabel, rekoleksi para pelayan umat, hingga perayaan Misa Perdana seorang imam baru yang berasal dari Tanjung.

Kehadiran Mgr. Pius Riana Prapdi bersama para imam, panitia pesta pelindung dan pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) membuat rangkaian ulang tahun paroki tahun ini terasa semakin istimewa. Ada banyak perjumpaan, cerita, tawa, bahkan pengalaman iman yang dibagikan dalam suasana yang sederhana.

Mengunjungi Keluarga Para Imam, Bruder, dan Suster yang Berasal dari Paroki Tanjung

Rangkaian kegiatan dimulai pada Rabu, 12 Agustus 2026, dengan kunjungan Bapa Uskup bersama para romo dan DPP ke rumah-rumah keluarga imam, bruder, dan suster yang berasal dari Tanjung.

Salah satu keluarga yang dikunjungi adalah keluarga Romo Kristinus Sutrimo, imam baru yang baru saja ditahbiskan pada 8 Juli 2026. Dari Tanjung, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Stasi Lamboi, mengunjungi keluarga Romo Mardianus Indra. Di sana turut hadir keluarga Bruder Eko, FIC, dan Suster Brigita, OSA. Masih di Lamboi, rombongan kemudian mengunjungi keluarga Romo Petrus Riyant.
Perjalanan hari itu ditutup dengan kembali ke Tanjung untuk mengunjungi keluarga Romo Frans Suandi, Suster Sofia, PIJ, Suster Martina, OSA, Sr. Laura, OSA, dan Sr. Hilaria, OSA.

Dalam setiap kunjungan, Bapa Uskup mengajak para orang tua dan saudara berbagi cerita tentang pengalaman mereka sebagai keluarga dari seseorang yang dipanggil Tuhan menjadi imam, bruder, atau suster. Pertanyaan Bapa Uskup sederhana, tetapi mengundang banyak cerita: bagaimana rasanya menjadi ayah, ibu, atau saudara dari seseorang yang dipanggil Tuhan untuk pelayanan Gereja?

Secara spontan, banyak orang tua pertama-tama bercerita tentang perjalanan panggilan anak mereka. Ada rasa bahagia dan bangga karena boleh menjadi bagian dari keluarga seorang imam, bruder, atau suster. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada pula tanggung jawab yang dirasakan. Beberapa orang tua mengaku memiliki beban di hati untuk terus berusaha hidup semakin baik dan menjadi teladan bagi umat di sekitar mereka.

Ada pula keluarga yang merasa bahwa panggilan anak mereka justru menjadi pengingat agar mereka sendiri tidak kendor dalam iman. Kehadiran anak yang menjadi imam, bruder, atau suster mendorong mereka untuk semakin rajin mengikuti kegiatan dan pelayanan Gereja.

Setelah mendengarkan berbagai cerita tersebut, Bapa Uskup menyampaikan terima kasih kepada para orang tua yang telah merelakan anak mereka untuk menjadi imam, bruder, dan suster. Ia juga mengajak keluarga untuk terus mendukung dan mendoakan mereka.
Doa keluarga, demikian yang tampak dari berbagai sharing, sungguh menjadi kekuatan bagi mereka yang menjalani panggilan.

Kepada para anggota DPP, Bapa Uskup juga menegaskan bahwa pengalaman para keluarga ini dapat menjadi pembelajaran bagi seluruh umat. Setiap anak perlu diberi ruang untuk mendengarkan dan menjawab panggilan Tuhan. Karena itu, keluarga dan umat hendaknya tidak menghalang-halangi seorang anak yang ingin mengikuti panggilan Tuhan untuk menjadi imam, bruder, atau suster.

Gereja Merangkul Umat Lansia dan Difabel

Pada Kamis, 13 Agustus 2026, perhatian diarahkan kepada umat lansia dan difabel melalui pelayanan sakramen inisiasi. Selama ini, perhatian terhadap umat difabel di paroki memang masih terbatas. Namun, setelah data dihimpun melalui para pengurus kring dan stasi, ditemukan bahwa ada umat difabel yang belum menerima baptis, Komuni, maupun Sakramen Penguatan.

Kesempatan kunjungan Bapa Uskup menjadi momentum yang sangat berarti. Paroki menyelenggarakan penerimaan sakramen inisiasi bagi umat difabel agar mereka juga dapat mengalami dan merasakan kehadiran Gereja secara penuh. Kegiatan ini sejalan dengan fokus pastoral ARDAS Keuskupan Ketapang tahun 2026–2027, “khususnya pelayanan kasih kepada mereka yang menderita, kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.
Tercatat 75 orang mengikuti rangkaian kegiatan ini.

Namun, dampaknya ternyata tidak hanya dirasakan oleh umat difabel. Keluarga dan para pendamping mereka di rumah pun turut mengalami peneguhan. Selama ini, mungkin ada keluarga yang merasa enggan membawa anggota keluarga yang difabel ke Gereja karena mempertimbangkan kondisi, kebutuhan, maupun variasi sikap mereka.

Hari ini menjadi kesempatan istimewa. Mereka datang, berada bersama umat lainnya, dan mengikuti perayaan Ekaristi dalam suasana Gereja sebagai satu keluarga. Semua yang hadir juga diajak belajar bahwa kasih kepada umat difabel membutuhkan perhatian yang khusus. Mereka bukan sekadar orang yang perlu dibantu, tetapi juga pribadi yang memiliki martabat dan tempat yang sama dalam kehidupan Gereja. Pengalaman hari itu terasa semakin kuat ketika diingat kembali perkataan Yesus dalam Yohanes 9:3: “…tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”

Mendengarkan Cerita Para Pelayan Umat

Sore harinya, suasana berlanjut dengan rekoleksi bersama Mgr. Pius. Sebanyak 49 orang, yang terdiri dari para katekis, prodiakon, ketua umat, ketua kring, para romo, dan pengurus DPP, hadir dalam pertemuan tersebut.

Rekoleksi menjadi kesempatan bagi para pengurus umat untuk bertemu langsung dengan gembala mereka. Dalam suasana yang terbuka, para peserta mendapatkan peneguhan melalui materi tentang Bunda Maria, seorang pribadi istimewa yang hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah.

Namun, rekoleksi itu tidak hanya menjadi ruang untuk mendengarkan materi. Para peserta juga mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman nyata dalam pelayanan.

Ada pengurus kring yang bercerita tentang kondisi keterlibatan dan partisipasi umat di kringnya yang kurang semangat. Ada pula pengurus DPP yang mengungkapkan rasa jenuh karena padatnya pertemuan dan rapat koordinasi. Koordinator kelompok doa juga berbagi tentang kesulitannya menggerakkan umat untuk terus terlibat dalam persekutuan doa.

Ada pula sebuah sharing yang menarik sekaligus menyentuh. Seorang umat bercerita bahwa ia memilih untuk memaafkan pencuri sawit di lahannya karena teringat isi doa Bapa Kami selama mengikuti kunjungan bersama Bapa Uskup.

Semua cerita itu disampaikan langsung di hadapan Bapa Uskup. Mgr. Pius tidak datang dengan membawa jawaban praktis untuk setiap persoalan. Namun, kehadirannya menjadi ruang bagi para pelayan umat untuk didengarkan, dipahami, disembuhkan dan diteguhkan dalam menjalankan tugas mereka.

Bapa Uskup Menyapa Para Lansia di Kring

Pada Jumat, 14 Agustus 2026, perhatian kembali diarahkan kepada para lansia. Bapa Uskup mengunjungi umat lansia di delapan kring yang berada di pusat Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung.

Kunjungan tersebut sekaligus diisi dengan pelayanan kesehatan. Paroki bekerja sama dengan Puskesmas Riam Kota untuk menghadirkan dokter dan perawat yang memeriksa kondisi kesehatan para lansia dan beberapa umat yang sedang sakit. Setelah pemeriksaan kesehatan, Bapa Uskup berkesempatan duduk dan berbincang bersama mereka.

Suasananya sederhana. Tidak semua orang tua banyak berbicara. Ada yang hanya diam, menikmati suasana dan mendengarkan cerita teman-temannya. Namun, justru dalam kesederhanaan itulah terasa kegembiraan karena mereka mendapat kunjungan langsung dari Bapa Uskup. Setelah berbincang bersama, umat ditawari untuk menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit (SPOS).

Pada awalnya, cukup banyak yang masih ragu untuk menerima sakramen tersebut. Namun, setelah diberikan katekese mengenai makna dan tujuan Sakramen Pengurapan Orang Sakit, mereka akhirnya dapat memahami bahwa sakramen ini bukan sekadar tanda bahwa seseorang akan meninggal, melainkan juga menjadi sumber kekuatan dan penyembuhan rohani bagi mereka yang lanjut usia maupun sedang sakit. Akhirnya, sebanyak 108 orang menerima SPOS pada hari itu.

Pengalaman tersebut kembali menunjukkan betapa pentingnya katekese. Penjelasan yang sederhana dan tepat dapat membantu umat memahami sesuatu dengan lebih baik, bahkan mengubah keraguan menjadi keberanian untuk menerima rahmat Tuhan.

Misa Pesta Pelindung

Memasuki Sabtu, 15 Agustus 2026, rangkaian kegiatan semakin meriah. Di sela-sela kesibukan, Bapa Uskup menyempatkan diri mengajak para romo berbicara dari hati ke hati tentang berbagai pengalaman pastoral, hal-hal baik yang telah berjalan, serta hal-hal yang masih perlu dikembangkan untuk pelayanan ke depan.

Pertemuan sederhana menjelang makan siang itu menjadi ruang bagi para imam untuk berbagi pengalaman secara lebih terbuka bersama Bapa Uskup. Sorenya, umat berkumpul untuk merayakan Misa Pesta Pelindung Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung.

Gereja dipenuhi umat. Kursi-kursi yang disiapkan di luar memang belum seluruhnya terisi, kemungkinan karena umat juga telah mempersiapkan diri untuk acara besar keesokan harinya, yakni Misa Perdana Rm. Kristinus Sutrimo.

Meski demikian, suasana kemeriahan sudah terasa. Para tamu berdatangan, terutama dari Paroki Santo Yosep Meraban, tempat Rm. Kristinus Sutrimo menjalankan tugas. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan sekaligus ikut memeriahkan sukacita keluarga besar Paroki Tanjung.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pembacaan Surat Keputusan para romo yang bertugas di Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung. Selain itu, dilaksanakan pula pelantikan pengurus Kring Bonaventura, yang merupakan hasil pemekaran dari Kring Yosep.

Misa Perdana Imam Baru dari Tanjung

Puncak rangkaian kegiatan terjadi pada Minggu, 16 Agustus 2026, melalui perayaan Misa Perdana Rm. Kristinus Sutrimo, putra Tanjung yang baru ditahbiskan sebagai imam. Sejak pukul 07.30, rangkaian acara telah dimulai. Para imam baru bersama romo-romo undangan mengikuti perarakan yang dimulai dari depan rumah kediaman Rm. Sutri, yang berada tepat di bawah pastoran Tanjung. Para imam baru kemudian diarak menuju tempat perayaan dan disambut melalui ritual adat.

Misa Perdana ini dihadiri oleh sejumlah imam, antara lain Rm. Stef, Rm. Pamungkas, Rm. Made, Rm. Boni, Rm. Fransi, Rm. Riyant, Rm. Yosh, Rm. Krishna, Rm. Memet, dan Rm. Bona, serta para imam undangan lainnya dari Dekanat dan Ketapang.

Dalam homilinya, Rm. Sutri mengungkapkan bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung perjalanan panggilannya hingga akhirnya menjadi seorang imam. Kesaksian tersebut menjadi sangat berarti setelah beberapa hari sebelumnya Bapa Uskup bersama romo-romo dan DPP mengunjungi keluarga para imam, bruder, dan suster. Panggilan ternyata bukan hanya perjalanan seorang pribadi. Di belakangnya selalu ada keluarga yang ikut berdoa, mendukung, merelakan, dan berjalan bersama.

Gelar Adat bagi Para Imam Baru

Sukacita belum berakhir. Pada sore hari, keluarga besar Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung kembali berkumpul untuk mengikuti ritual adat mempesalin atau pemberian gelar adat bagi para imam baru. Dalam kesempatan tersebut, para neomis mendapat gelar “Mas Kayaq”. Sementara itu, Rm. Yosh, sebagai pastor paroki Tanjung yang baru, dan Rm. Boni, yang telah tiga tahun bertugas di Paroki Tanjung, mendapat gelar “Urangh Kayaq”. Suasana semakin meriah dengan kejutan kedatangan Rm. Indra dari Paroki Nanga Tayap yang turut hadir dalam acara tersebut.

Lima hari rangkaian ulang tahun Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan ulang tahun paroki.
Ada keluarga yang bercerita tentang panggilan anaknya. Ada umat difabel yang mengalami penerimaan Gereja. Ada para lansia yang dikunjungi, diperiksa kesehatannya, didengarkan ceritanya, dan dikuatkan melalui Sakramen Pengurapan Orang Sakit.

Ada pula para pelayan umat yang berani menceritakan suka dan duka pelayanan mereka. Dan akhirnya, seluruh umat bersama-sama merayakan sukacita atas hadirnya seorang imam baru, putra Tanjung, yang mempersembahkan Misa Perdana di tanah kelahirannya.

Semua perjumpaan itu seolah mengingatkan kembali bahwa Gereja tidak hanya hadir dalam gedung dan perayaan liturgi. Gereja hadir ketika umat saling mengunjungi, mendengarkan, menerima, menguatkan, mendoakan, dan berjalan bersama. semua dokumentasi: https://1024terabox.com/s/1UFkfCT33sHLYQ997V-E7fA

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini