Mgr. Sillekens menyampaikan amanat dari Bapa Suci Paus Paulus VI perihal pembaruan praktek pertobatan Gereja dalam surat gembalanya pada tanggal 15 Januari 1967. Dalam suratnya tersebut, beliau mengatakan bahwa seorang Kristen berpuasa dan berpantang, bukan sebab makanan dan minuman itu salah, akan tetapi supaya dirinya tidak sebegitu terikat pada benda-benda duniawi, supaya dimiliki suatu pendirian yang merelakan dirinya kepada penyangkalan-penyangkalan yang mutlak, sehingga demikian cinta kasih terhadap Tuhan tetap hidup di dalam batinnya.

Tentu saja puasa dan pantang tidak merupakan cara satu-satunya untuk menjalankan matiraga, akan tetapi itu sangat diperlukan, berdasarkan contoh Kristus sendiri, yang sebelum dimuliakan hidupnya di muka umum telah menjalankan puasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam; Rasul-rasul sendiri telah menjalankannya dan praktek ini diteruskan sejak awal hidupnya Gereja.

Kemudian, Mgr. Sillekens juga menambahkan bahwa dalam Konstitusi Apostolik Poenitemini, Bapa Suci ingin memperingatkan umat Katolik kepada kewajiban untuk menjalankan pertobatan, juga dengan melaksanakan puasa dan pantang, tetapi beliau ingin peraturan ini disesuaikan dengan keadaan setempat dan menurut zaman. Bapa Suci memperingatkan pula bahwa pertobatan umat Katolik tidak hanya terdiri dari perbuatan lahir dalam bentuk puasa dan pantang, akan tetapi supaya itu disertakan dengan pertobatan batin kepada Tuhan dengan doa dan amal.

Kemudian, Mgr. Sillekens menyampaikan Tahun Yubileum Rasul Petrus dan Paulus dalam surat gembalanya pada tanggal 15 Januari 1968. “Kedua Rasul ini telah gugur pada tahun 67, mati syahid di kota Roma di masa pemerintahan kaisar Nero untuk Kristus, pokok iman mereka dan untuk-Nya mereka telah menyebarkan warta suci di sepanjang daerah yang mereka jelajahi.” Karena itu, Mgr. Sillekens mengajak umat di Keuskupan Ketapang, supaya Tahun Yubileum Rasul Petrus dan Paulus dirayakan dengan menyadari kembali iman masing-masing, memperdalamnya, serta mengakuinya; dan kedua, supaya iman ini diamalkan dalam perbuatan-perbuatan sehari-hari. Iman yang harus diperdalam adalah iman dalam Tuhan yang Maha Esa, iman kepada Putera Tuhan yang Tunggal, iman kepada Roh Kudus, iman kepada Gereja dan persekutuan orang-orang suci.

Mgr. Sillekens juga memberikan ajakan-ajakan praktis yang bisa dilakukan untuk semakin memperdalam iman selama Tahun Yubileum Rasul Petrus dan Paulus:

“marilah kita usahakan itu dengan mendengarkan Sabda Tuhan, dalam pengajaran agama dan dengan mempelajari katekismus. Kami mengajak para pastor, guru agama dan guru sekolah, agar dalam tahun ini, mereka turut memperkembangkan pengetahuan iman dengan memberikan lebih banyak pengajaran agama kepada mereka yang sudah dewasa maupun juga kepada anak-anak Sekolah.”

Mgr. Sillekens sangat menekankan kepada umat Katolik di Keuskupan Ketapang agar jangan menjadi orang Kristen hanya dengan sebutan saja, tetapi kekristenan itu harus nyata dalam perbuatan setiap hari. Dalam hidup sehubungan dengan rumah tangga dan masyarakat, iman itu harus nyata dalam segala-galanya dan terhadap setiap orang. Terlebih, iman itu harus mewujud di dalam cinta kasih. Mengenai hal itu, Mgr. Sillekens berkata demikian:

“amalkan cinta kasih itu terhadap mereka yang hidup besama dengan kamu setiap hari: mereka yang telah berkeluarga dengan cinta kasih antar suami-isteri, orang tua terhadap anak-anak mereka dan anak-anak terhadap orang tua mereka. Usahakanlah supaya keluarga-keluarga Katolik menjadi keluarga-keluarga yang sungguh kristiani, di dalamnya terasa cinta kasih kepada Tuhan dan terhadap sesamanya.”

Mgr. Sillekens pula mengajak umat di Keuskupan Ketapang untuk mewujudkan imannya di dalam praktek hidup peribadatan sehari-hari. Mengenai ini, beliau mengajak agar keluarga-keluarga Katolik untuk berdoa dalam lingkungan keluarga: “berdoalah bersama-sama jika kalian makan, adakanlah bersama-sama doa malam dalam keluarga yang kalian dapat membacanya dalam buku sembahyang orate halaman 24.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini