Mgr. Sillekens pula menyampaikan amanat Bapa Suci Paulus VI tentang Tahun Suci dalam surat gembalanya pada tanggal 3 Febuari 1974. Istilah Tahun Suci ini diambil dari Kitab Suci Perjanjian Lama, di mana Musa atas perintah Allah mengumumkan bahwa orang Israel harus merayakan satu tahun genap sebagai tahun bersyukur kepada Allah yang memberikan kurnia-Nya dengan begitu berlimpah. Tentu sudah menjadi kebiasaan Gereja bahwa Tahun Suci ini dirayakan tiap-tiap 25 tahun; Tahun Suci terakhir diadakan pada tahun 1950. Sebagai judul atau ujud untuk perayaan itu, yang disarankan oleh Bapa Suci adalah Reconciliare yang berarti:

“Menghubungkan kembali manusia dengan manusia dan manusia dengan Allah. Selama Tahun Suci, umat Katolik berusaha untuk merenungkan kembali hubungannya dengan sesama dan Allah yang telah dirusak oleh dosa, karena dosa itu adalah suatu tindakan yang bermusuhan dengan Allah. Oleh karena itu, pada Tahun Suci ini umat Katolik diajak untuk mendamaikan diri dengan Allah dan sesama serta menyesali sungguh-sungguh kekurangan-kekurangannya di hadapan Allah dan sesama.”

Tahun Suci ini secara lebih khusus juga memberi kesempatan kepada umat Katolik untuk mendalami pengertian tentang dosa itu sendiri dan apa akibatnya dalam kehidupan rohani. Banyak di antara umat Katolik sudah tidak menginsyafi lagi kejahatan dosa, karena mereka itu tidak mengerti bahwa dosa itu bukan saja suatu pelanggaran hukum Allah melainkan juga suatu penghinaan terhadap Pencipta. Demikian pula, ada yang tidak menginsyafi secukupnya bahwa kelalaian mereka terhadap tugas dan kewajiban pun adalah suatu dosa dan seakan-akan mereka buta-tuli terhadap kekurangan dan kebutuhan sesama mereka, sehingga mereka kurang atau tidak sama sekali memperhatikan, bahkan mengabaikan kewajiban-kewajiban mereka terhadap sesama yang berhak terhadap perhatian itu.

Mgr. Sillekens juga, dalam surat gembalanya pada tanggal 10 Febuari 1976, mengajak umat di Keuskupan Ketapang untuk melakukan cinta kasih sejati. Beliau mengajak umat untuk “rela memberikan dan membagikan apa saja dari milik mereka, biarpun mereka masih serba kekurangan, kepada saudara-saudara yang lebih miskin dari mereka, dan kalau memberi, memberi dengan rela dan ikhlas hati.”

Mgr. Sillekens mengatakan bahwa “semakin rela dan memuaskan bantuan itu, semakin bersih hati si pemberi itu untuk ambil bagian dalam hidup Paskah, suatu hidup yang dihayati oleh Kristus yang bangkit dan hidup kembali.” Selain itu, Mgr. Sillekens juga mengajak umat “untuk berani mengampuni dan memaafkan sesama kalau mereka dicela, difitnah, dihadang dan sebagainya.” Mgr. Sillekens juga mengajak umat “untuk tidak mempermasalahkan perbuatan sesama atau selalu menaruh curiga pada sesama.”

Demikian pula, Mgr. Sillekens mengajak umat “untuk tidak mudah jatuh pada penilaian-penilaian yang keliru terhadap sesama. Sebaliknya, umat diajak agar mampu menunjukkan cinta kasih kepada sesama lewat kata-kata dan perbuatan-perbuatan baik.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini