Rekoleksi Para Imam, Frater, Bruder, Suster Se-Keuskupan Ketapang: Sesi 3 – Menafsirkan Pesan Tuhan dalam Mimpi dan Penglihatan (Bag. 6)

0
236

Wahyu Allah Juga Melalui Mereka yang Bukan Nabi

Kitab Suci menegaskan bahwa Allah dapat mewahyukan kehendak-Nya bukan hanya kepada umat Israel atau para nabi, tetapi juga kepada bangsa lain—terutama jika hal itu berkaitan dengan masa depan umat Allah. Wahyu ini sering kali terjadi melalui mimpi, sebagai salah satu sarana komunikasi ilahi.

Contohnya, Raja Nebukadnezar dari Babel menerima mimpi yang menyangkut masa depan kerajaan-kerajaan besar di dunia (Dan 2:1–49). Daniel kemudian menafsirkan mimpi tersebut dan menegaskan bahwa hanya Allah di surga yang dapat menyingkapkan rahasia, serta menyatakan bahwa melalui mimpi itu, Allah telah memberitahukan kepada sang raja apa yang akan terjadi di masa yang akan datang (lih. Dan 2:28–29).

Contoh lain adalah Bileam bin Beor, seorang penenung yang diminta oleh Balak bin Zipor, Raja Moab, untuk mengutuk bangsa Israel. Namun, sesuai dengan pesan Allah yang disampaikan melalui mimpi, Bileam justru menolak suap dan berani menyampaikan berkat kepada Israel dan kutuk kepada Moab (lih. Bil. 22–24). Dalam dua peristiwa ini, tampak bahwa bahkan pribadi-pribadi non-Israel dapat menjadi saluran pewahyuan ilahi, karena kehendak Allah melampaui batas etnis dan agama, sejauh berkaitan dengan rencana keselamatan-Nya bagi umat-Nya.

Pertanyaan reflektif muncul: dalam hal apa umat Allah mendukung atau menolak pewahyuan seperti ini? Apakah mereka bersikap terbuka terhadap cara Allah bekerja, termasuk melalui pribadi yang tidak terduga?


Mewujudkan Mimpi dalam Kehidupan Nyata

Cita-cita, harapan, atau visi besar sering kali tampak muluk atau bahkan tidak rasional. Namun dalam iman, mimpi seperti ini harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Impian yang besar bukan alasan untuk menyerah, melainkan dorongan untuk bekerja secara bertahap, terencana, dan penuh semangat.

Langkah-langkah yang diperlukan agar mimpi dapat diwujudkan antara lain: menyusun program kerja yang sederhana dan jelas, melaksanakan secara bertahap, melakukan evaluasi berkala terhadap kemajuan dan hambatan, serta menentukan solusi konkret untuk setiap tantangan. Spiritualitas kenabian menuntut semangat pantang menyerah. Para nabi, bahkan Yesus sendiri, pernah mengalami kelelahan dan rasa putus asa dalam menjalankan perutusan. Namun mereka tidak berhenti; mereka tetap melangkah maju demi visi yang telah mereka terima dari Allah.


Garis Besar Mimpi Gereja Kita

Gereja tidak berjalan tanpa arah. Dalam terang Roh Kudus, Gereja universal dan Gereja lokal senantiasa diarahkan oleh mimpi-mimpi besar yang tertuang dalam berbagai dokumen dan kebijakan pastoral.

Bersama Paus Fransiskus, Gereja diajak menghidupi visi melalui sejumlah ensiklik dan dokumen penting: Evangelii Gaudium, Amoris Laetitia, Gaudete et Exsultate, Christus Vivit, Fratelli Tutti, dokumen Persaudaraan Manusia dari Abu Dhabi, serta Patris Corde. Semuanya memperlihatkan bahwa Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang hidup dalam persekutuan, partisipasi, dan misi—semangat yang ditegaskan dalam proses Sinode Universal yang sedang berlangsung.

Di Keuskupan Ketapang, arah pastoral juga dijalankan secara konkret. Telah dua kali dilangsungkan sinode keuskupan, berbagai pedoman pastoral telah disusun dan dilaksanakan. Terdapat pula pengawasan serta evaluasi terhadap pelaksanaan Arah Dasar Keuskupan (ARDAS), termasuk survei tentang keberhasilan implementasi lima pilar kehidupan Gereja. Dalam bidang infrastruktur, telah dilakukan pembangunan berbagai sarana-prasarana gerejani, dan ada pula rencana pemekaran paroki-paroki sebagai bagian dari visi pertumbuhan pastoral.

Berbagai kongregasi religius pun memiliki rencana pelayanan dan perutusan ke depan. Mereka dituntut untuk terus bersikap kreatif, bekerja dengan semangat, dan tidak mengenal lelah dalam mewujudkan visi dan misi tersebut. Semua usaha ini bukan sekadar mimpi pribadi atau komunitas, melainkan partisipasi dalam mimpi Allah sendiri bagi Gereja dan masyarakat-Nya.


Membedakan Makna Mimpi

Menurut Romo Isteja, penting untuk membedakan makna mimpi. Pertama, ada mimpi sebagai bunga tidur—hasil kerja bawah sadar yang tidak memiliki makna spiritual langsung. Kedua, ada mimpi yang menjadi sarana relasi dengan Allah, seperti dialami para nabi. Ketiga, ada pula mimpi yang berhubungan dengan kejiwaan manusia—misalnya mimpi dikejar binatang—yang lebih mencerminkan ketakutan atau kegelisahan batin. Mimpi seperti ini tidak dapat langsung ditafsirkan sebagai wahyu ilahi.

Romo Isteja menegaskan bahwa apa pun yang muncul dalam mimpi berakar pada alam bawah sadar manusia, seperti ketakutan, kegelisahan, atau harapan tersembunyi. Karena itu, seseorang yang ingin memahami mimpinya dianjurkan untuk bangun perlahan dan mencatat mimpi tersebut, agar bisa direfleksikan lebih dalam.

Dalam perbincangan lain, Romo Sutadi mengamati bahwa pengalaman akan Allah kerap terjadi dalam batin dan kemudian diungkapkan dalam bentuk cerita. Ungkapan seperti “saya dipanggil Tuhan” sebenarnya merupakan cara manusia menjelaskan pengalaman batin yang mendalam, walaupun dalam kejadian nyata tidak terdengar suara yang eksplisit. Gambaran visual atau simbolik pun menjadi bahasa rohani untuk menyampaikan perjumpaan tersebut, sebagaimana para nabi menggambarkan panggilannya lewat penglihatan akan malaikat, asap, atau kemuliaan di Bait Allah.

Uskup Harun pun menambahkan bahwa memahami panggilan tidak harus melalui suara atau penglihatan supranatural. Ia menilai bahwa kesadaran panggilan sering kali muncul di tengah pengalaman hidup sehari-hari, khususnya saat seseorang sedang galau menentukan arah hidupnya. Ketika merenung atas peristiwa tertentu, seseorang bisa menyadari bahwa ternyata Tuhan telah berbicara melalui orang lain—seorang imam, guru, atau pengalaman tertentu. Panggilan, dalam pengertian ini, lebih merupakan kesadaran batin yang bertumbuh seiring waktu, bukan semata-mata pengalaman spektakuler.


Akhir Refleksi: Mimpi Allah, Tanggung Jawab Kita

Pada akhirnya, Gereja dan umat beriman harus yakin bahwa impian, cita-cita, dan harapan yang mereka miliki bukan semata-mata berasal dari diri sendiri. Mimpi itu merupakan bagian dari harapan Allah sendiri bagi umat-Nya. Oleh karena itu, mewujudkan impian tersebut bukan hanya pilihan, melainkan kewajiban moral dan rohani.

Jika mimpi itu berasal dari Allah, maka menolaknya atau mengabaikannya berarti menolak kehendak-Nya. Dan seperti yang disampaikan dalam Kitab Yehezkiel (Yeh. 3:16–21), setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas panggilan yang tidak ditanggapi—bahkan sampai pada nyawanya sendiri. Maka marilah kita menjadi pemimpi dan sekaligus pelaku, demi mewujudkan Kerajaan Allah di tengah dunia ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini