Tanjung, 17 Agustus 2025 – Suasana sore di halaman depan Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung terasa lebih meriah dari biasanya. Sebuah panggung berdiri lengkap dengan alunan musik yang mengiringi acara pisah sambut Romo Paroki, dari Rm. Krisno kepada Rm. Krishna.
Mulai pukul 15.30 WIB, umat dari 8 kring di pusat paroki tampil satu per satu membawakan lagu, tarian, dan persembahan budaya yang penuh warna. Umat datang beramai-ramai, membawa aneka masakan untuk disantap bersama, sebuah tanda kebersamaan dan rasa syukur yang sederhana namun hangat.
Acara ini juga dihadiri oleh para imam dan frater dari Paroki Riam Kota dan Terusan, dua paroki baru yang sebelumnya merupakan stasi dari Paroki Tanjung dan pernah dibina langsung oleh Rm. Krisno.
Upacara Adat yang Membekas di Hati
Momen yang paling istimewa malam itu adalah upacara adat Dayak yang menjadi tanda penghormatan dan cinta umat terhadap para imamnya. Dalam suasana sakral dan penuh makna, Rm. Krisno dianugerahi gelar adat:
“Raden Cendagaq Tarang Tongkat Sentanaq Mangkuq Bisaq”
yang secara simbolis mencerminkan peran dan pengaruh beliau dalam membimbing umat dengan terang dan keteguhan.
Tak ketinggalan, Rm. Krishna juga menerima gelar adat yang tak kalah indah:
“Mas Kayaq Terang Bulan Lautan Rayaq, Setiap Hariq Hidupnya Surang untuk Penyambung Lidah Anak Duataq.”
Gelar ini mencerminkan harapan umat agar Rm. Krishna menjadi penerus yang bijaksana, membawa terang, dan menjadi suara kasih bagi seluruh umat.

Penuh Tawa, Tangis, dan Rasa Syukur
Acara berlangsung dalam suasana akrab, penuh tawa, bahkan sesekali haru. Tidak sedikit umat yang menahan air mata saat menyampaikan terima kasih kepada Rm. Krisno, sekaligus menyambut hangat kehadiran Rm. Krishna.
Kebersamaan sore hingga malam itu benar-benar menjadi peristiwa iman dan kasih. Di balik segala tampilan, masakan, dan gelar adat, tersimpan rasa syukur atas penyertaan Tuhan dalam setiap proses pergantian pelayanan di paroki tercinta ini.
Selamat bertugas di tempat baru, Rm. Krisno.
Selamat datang dan selamat berkarya, Rm. Krishna.
Paroki Tanjung selalu menjadi rumah yang terbuka bagi para imam yang datang dan pergi dengan penuh kasih.
Ditulis oleh Fr. Memet


















