Asistensi Natal kali ini menghadirkan resonansi yang berbeda di kedalaman batin saya. Jika dulu di Seminari Tinggi medan pastoral masih terasa akrab dengan ritme kota di Jawa—di mana aspal halus membentang dan jarak hanyalah angka yang mudah ditempuh—maka Ketapang meruntuhkan seluruh zona nyaman itu. Di sini, bayangan tentang “pelosok” bukan sekadar sunyi, melainkan sebuah perjuangan fisik yang nyata.
Melewati jalan poros Pelang-Indotani adalah sebuah inisiasi. Di sanalah saya menyadari bahwa misi bukan hanya soal kata-kata, tetapi soal ketahanan raga.
Liturgi di Atas Tanah Merah
Memasuki pinggiran kampung yang kami sebut stasi, mata saya disambut oleh pemandangan yang kontras dengan gemerlap Natal di kota: jalan merah laterit yang membara, kubangan lumpur yang menyerupai kolam, dan hutan yang berseling dengan barisan sawit. Ada sensasi yang tak tergantikan saat motor amblas ke parit atau tersangkut di tengah sungai.
Medan ini mengingatkan saya pada konsep “Inkarnasi”. Jika Tuhan memilih lahir di palungan yang kotor dan bau, maka melayani di stasi yang berlumpur adalah upaya untuk meneladani Kristus yang tidak menjaga jarak dari kotornya dunia. Di dalam lumpur-lumpur Ketapang, saya menemukan bahwa kehadiran Gereja tidak boleh hanya berhenti di altar yang bersih, tetapi harus berani “berkotor tangan” di tengah pergulatan umat.
Keberanian di Mimbar PT. Limpah
Perjalanan membawa saya ke Kemuning Biutak melalui jalur PT. Nova yang memakan waktu lebih dari satu jam karena akses utama terhambat oleh kebijakan perusahaan yang menutup jalur di BGA. Di Kemuning pada natal malam, saya merayakan Ibadat Sabda Tanpa Imam. Memang rasanya kurang tanpa Ekaristi, namun tidak menghalangi kami untuk menerima tubuh Kristus yang bertahta dalam Ekaristi. Pagi harinya, Romo Riyant tiba dan memimpin Ekaristi Natal pagi di Kemuning. Capek? Lelah? Tentu saja. Namun, kelelahan itu terbayar lunas saat kami melanjutkan perjalanan dan tiba di PT. Limpah. Bersama Romo Riyan dan Pak Kanis, kami merayakan Ekaristi di tengah komunitas umat asal Flores yang luar biasa hangat.
Ada momen yang tak terlupakan saat Romo Riyan meminta saya memberikan khotbah secara spontan. Di hadapan kor anak-anak SD yang bernyanyi dengan ceria, saya merasa gentar. Namun, di saat itulah saya mengalami apa yang disebut sebagai “Kenosis”—pengosongan diri. Saya melepaskan ketergantungan pada teks dan membiarkan Roh Kudus berbicara melalui kerapuhan saya. Ternyata, ketika kita berhenti mengandalkan persiapan teknis yang kaku, Tuhan justru bekerja melalui kejujuran hati.
Menjadi Saksi di Perbatasan
Perjalanan di Lalang Panjang, Pemahan, menutup rangkaian pelayanan saya. Meskipun umat tidak ramai, suasana hening sore itu membawa kedalaman doa yang luar biasa. Saya teringat akan sabda Yesus dalam Injil Lukas 10:1, di mana Ia mengutus murid-murid-Nya berdua-dua ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
Asistensi ini mengajarkan saya bahwa:
- Jalan adalah Tujuan: Kerinduan akan jalan aspal yang mulus adalah doa bagi kesejahteraan umat, namun di dalam lumpur saat ini, Tuhan sudah hadir di sana.
- Solidaritas adalah Kehadiran: Menjadi seperti Yesus berarti berani menempuh jarak, merasakan guncangan di jalan yang sama dengan yang dirasakan umat setiap hari.
Saya pulang bukan hanya dengan sepatu bot yang kotor, tetapi dengan hati yang penuh. Pengalaman ini adalah pengingat bahwa di mana aspal berakhir, di situlah iman yang sejati seringkali baru dimulai. Saya bersyukur boleh menjadi saksi kecil bagi Sang Terang yang lahir di tempat paling tak terduga.
Selamat Natal. Tuhan memberkati langkah-langkah kita di medan misi-Nya.























