Misa Hari Raya Santo Petrus dan Paulus di Paroki Emmanuel Sukadana (Sumber: Dokumentasi)

Perayaan Hari Raya Santo Petrus dan Paulus di Paroki Emmanuel Sukadana tahun ini terasa sangat istimewa. Misa dipimpin oleh dua imam yang sudah sangat akrab dengan umat: RD. Fransiscus Suandi dan RD. Yoseph Kaju. Tak hanya merayakan pesta dua rasul besar Gereja, momen ini juga menjadi hari syukur atas ulang tahun imamat mereka. Romo Yoseph merayakan 6 tahun imamat, sementara Romo Frans merayakan 8 tahun, meskipun perayaannya dimajukan sehari lebih awal.

Dalam antifon pembuka, Romo Yoseph menyampaikan kisah singkat tentang Santo Petrus dan Santo Paulus. Ia mengingatkan bahwa keduanya bukanlah sosok sempurna. Petrus pernah menyangkal Yesus; ia dikenal sebagai murid yang penuh semangat, namun seringkali ceroboh. Paulus dulunya adalah penganiaya orang Kristen. “Namun dari kerapuhan itulah Tuhan bekerja,” kata Romo Yoseph. Ia juga menyinggung bahwa para imam pun dipanggil bukan karena kesempurnaan, tapi justru melalui kelemahan yang ditransformasikan Tuhan menjadi kekuatan. Hal ini menjadi refleksi pribadinya di usia 6 tahun imamatnya.


Romo Frans kemudian menyampaikan homili dengan cara yang menyentuh namun juga hangat. Ia bercerita tentang pengalaman saat bertugas di Paroki Air Upas, tak lama setelah melayani di seminari. Di seminari, katanya, ia tak pernah menyentuh alkohol. Namun di paroki, suasananya berbeda. “Waktu itu ada seorang bapak yang minum bir. Katanya, kalau minum bir, cerita bisa makin ngalir,” ujarnya sambil tersenyum.


Suatu ketika, saat mereka sedang duduk bersama, si bapak menerima video call dari istrinya. “Pa, lagi ngumpul sama siapa?” tanya sang istri. “Ini Ma, sama Romo Frans dan Romo Yos,” jawabnya. Sang istri langsung merespons, “Oh iya, boleh.” Setelah panggilan ditutup, bapak itu mulai membuka hati. Ia bercerita bahwa dulu ia adalah pengguna narkoba. Ia merasa bahwa hidupnya hancur dan tidak ada harapan. Tapi kemudian, ia bertemu dengan seorang perempuan yang menerima dirinya apa adanya. Perempuan itu kini menjadi istrinya. “Kalau bukan karena dia, mungkin saya jadi bujang lapuk,” kata si bapak. Bahkan ibu mertuanya pernah berkata, “Seburuk-buruknya orang, pasti bisa berubah jadi orang baik.” Sejak menikah, ia berjanji untuk melakukan yang terbaik.
Romo Frans mengaitkan kisah itu dengan kehidupan Santo Petrus dan Paulus. Mereka pun dulunya pendosa, tetapi Tuhan mengubah mereka menjadi alat kasih-Nya. Ia pun secara pribadi merasa punya kemiripan dengan Petrus. “Saya ini gampang marah,” katanya jujur. “Kalau sejalan dengan saya (anak seminari), saya tenang. Tapi kalau tidak sejalan, saya bisa marah.” Ia lalu tersenyum dan menambahkan bahwa Romo Yoseph lebih tenang, seperti Paulus.


Kenangan akan masa lalu juga muncul. Romo Frans menceritakan pengalamannya saat menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Emmanuel. Ia mengaku sebagai pribadi yang penakut. Untuk melatih keberaniannya, ia sengaja memilih pulang tengah malam seusai kunjungan pastoral. Selama TOP, ia biasanya ditemani oleh anak-anak SMA yang tinggal di pastoran. Tapi dalam hati ia berpikir, “Tidak mungkin saya terus-terusan membawa mereka.” Ia ingin belajar menghadapi ketakutan itu sendiri, bukan karena takut hantu, tapi karena ingin mengalahkan rasa gentar sebagai pribadi yang masih bertumbuh dalam panggilan. Seorang ibu pernah menasihatinya untuk tidak pulang malam karena takut begal. Tapi bagi Romo Frans, pengalaman itu justru menjadi latihan keberanian dan peneguhan iman.


Kembali melayani di tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panggilannya, bertemu kembali dengan umat yang dulu pernah dilayani, adalah pengalaman yang membekas bagi Romo Frans. Perayaan hari raya kali ini bukan sekadar mengenang dua tokoh besar Gereja, tapi juga menjadi ruang syukur atas perjalanan hidup dan panggilan, baik bagi para imam maupun seluruh umat yang turut hadir dan merasakan karya Tuhan yang nyata melalui kisah-kisah sederhana.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini