Saya dan Frater Sutri mengisi masa liburan singkat dari Selasa hingga Jumat, 8–11 Juli 2025, di Paroki St. Stefanus Kendawangan. Meski hanya beberapa hari, pengalaman kami di sana begitu kaya dan meninggalkan kesan mendalam. Ada dua peristiwa yang bagi saya sangat unik dan tak terlupakan.
Yang pertama adalah momen kebersamaan kami memancing bersama Romo Bangun. Pagi-pagi kami mencari cacing di kebun sawit, lalu seharian memancing di sungai. Hasilnya memang tidak seberapa. Air sedang pasang dan arus dari hulu cukup deras serta jernih, sehingga ikan sulit didapat. Namun, kegembiraan bukan pada jumlah tangkapan, melainkan pada kebersamaan dan kesederhanaan yang kami alami. Sudah lama saya tidak memancing seperti itu—suatu aktivitas yang sederhana, namun menyegarkan jiwa.
Selain memancing, kami juga berkunjung ke rumah-rumah umat. Frater Sutri yang pernah menjalani tahun pastoral di Paroki Sukaria dua tahun lalu, sudah akrab dengan banyak umat, sehingga kunjungan kami terasa lebih hangat. Salah satu rumah yang kami kunjungi adalah kediaman Bapak Ujang. Di sana kami disambut dengan rujak dari Limau Bali dan Mangga Muda. Rasanya sungguh segar dan menggugah kenangan—sudah dua tahun saya tidak mencicipi rujak seperti itu sejak tinggal di Surabaya. Saya menikmatinya dengan penuh syukur.
Selama liburan itu, saya belajar banyak dari Frater Sutri. Ia menunjukkan pendekatan pastoral yang sederhana namun bermakna. Ia dapat membangun kedekatan dengan siapa saja—anak-anak, orang muda, hingga para lanjut usia. Satu momen yang amat membekas adalah ketika ia membaringkan dirinya di tanah, lalu meminta anak-anak menginjak punggungnya sambil tertawa gembira. Saya yakin, momen seperti itu akan terus hidup dalam ingatan anak-anak itu sebagai kenangan manis bersama seorang frater yang bersahabat.

Yang kedua, dan mungkin yang paling mengesankan, adalah ketika kami menerima seekor anak babi dari salah satu umat. Hadiah ini bukan sekadar pemberian biasa. Dari sorot mata dan ekspresi wajah Bapak Ujang, saya bisa merasakan betapa tulus dan penuh kasih pemberian itu. Saya belajar bahwa memberi bukan soal besar kecilnya benda, tetapi tentang ketulusan hati yang menyertainya.
Kejutan lainnya terjadi saat kami mengunjungi rumah Bapak Yuvinus Daerah di Stasi Silingan. Di sana, kami diminta untuk mengisi Buku Tamu. Bukan di kantor atau pastoran, tapi di rumah umat. “Agar ada catatan bahwa Frater pernah datang ke rumah ini,” kata beliau. Saya sungguh terkesan. Dalam hati saya berkata, “Inilah historia domus di tengah umat!” Ada semangat untuk mencatat sejarah, meskipun itu tampak sederhana. Namun justru dalam kesederhanaan itulah terkandung nilai kekal: bahwa kehadiran dan kunjungan adalah hal yang berharga dan layak dikenang.

Liburan singkat ini lebih dari sekadar waktu istirahat. Ia menjadi ruang perjumpaan dengan wajah-wajah umat, dengan tawa anak-anak, kesegaran rujak, kebahagiaan memberi, serta kesadaran mencatat sejarah kehidupan komunitas. Dari cacing, rujak, anak-anak, hingga anak babi dan buku tamu—semuanya menjadi pelajaran iman yang hidup. Saya percaya, Tuhan hadir dan berkarya melalui hal-hal sederhana, dan Ia tak pernah lelah menjaga umat-Nya.
Penulis: Fr. Pius Lukas Memet
Editor: Fr. Fransesco Agnes Ranubaya


















