Pater Canisius Pijnappels, CP

Oleh: Amon Stefanus

Pater Canisius Pijnappels, CP—yang memiliki nama baptis John Freddy Pijnappels—lahir di Yogyakarta pada 5 November 1911. Ayahnya, seorang perwira Belanda yang bertugas dalam tentara KNIL, menikah dengan perempuan Indonesia. Masa kecil dan remajanya ia jalani dalam suasana keluarga yang hangat bersama dua saudara laki-laki dan satu saudara perempuan.

Awal Panggilan Hidup Religius

Sebelum melanjutkan pendidikan ke Seminari Menengah di Yogyakarta, John Freddy tinggal beberapa tahun di asrama di Candi, Semarang. Di seminari, ia membaca kisah Santo Gabriel Possenti—seorang anggota Kongregasi Passionis dari Italia—yang sangat membekas di hatinya. Kisah hidup santo muda ini menjadi benih panggilan religius yang semakin tumbuh dan menguat di dalam dirinya.

Dengan restu pimpinan seminari, ia diterima sebagai calon biarawan Passionis di Provinsi Belanda. Pada 5 Juli 1932, ia meninggalkan tanah air menuju Belanda dengan kapal laut. Di sana, ia mulai menjalani hidup membiara dan mengambil nama religius “Canisius”, sebagai penghormatan terhadap para imam Jesuit yang telah membentuknya sejak awal.

Perjuangan di Negeri Orang

Menyesuaikan diri dengan kehidupan religius di Eropa bukanlah hal mudah bagi seorang muda dari Timur. Namun dengan semangat dan tekad yang kuat, ia berhasil melewati tantangan tersebut. Pada 6 September 1933, ia mengikrarkan kaul religius sebagai anggota Kongregasi Passionis. Setelah menyelesaikan studi teologi di seminari tinggi, ia ditahbiskan menjadi imam pada 7 Mei 1939.

Menuju Tanah Misi

Tahun 1940, Provinsi Passionis Belanda mulai berdiskusi dengan Ordo Kapusin untuk mengambil alih sebagian wilayah misi di Kalimantan Barat, tepatnya di daerah Ketapang. Pastor Canisius ditunjuk sebagai salah satu misionaris pertama. Namun keberangkatannya tertunda enam tahun akibat Perang Dunia II.

Selama masa penantian, ia menjadi pengajar di Seminari Menengah Passionis di Haastrecht, Belanda, tempat ia membimbing banyak calon misionaris yang kelak menjadi rekan seperjuangannya di Indonesia.

Barulah pada Juni 1946, ia bersama dua rekan—Pater Bernardinus Knippenberg dan Pater Plechelmus Dullaert—berangkat ke Indonesia. Bagi Pater Canisius, misi ini bukan hanya panggilan pelayanan, tetapi juga “pulang kampung” ke negeri tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

Pengabdian di Kalimantan Barat

Karya misi pertamanya dimulai di Paroki Tumbang Titi dan Serengkah (1946–1949). Setelah itu, ia dipindahkan ke Paroki Randau dan bertugas di sana selama lima tahun (1949–1954). Tahun 1954, ia ditunjuk sebagai Superior Religius Passionis dan juga memimpin Yayasan Usaba—sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan untuk wilayah pedalaman Ketapang. Jabatan ini membawanya kembali menetap di Ketapang.

Dalam tiga dekade lebih karya pelayanannya, Pater Canisius pernah melayani di berbagai tempat:

  1. Sepotong (1964–1966)
  2. Pendiri dan Pastor Paroki St. Martinus, Balai Berkuak (1966–1973)
  3. Paroki St. Gemma, Ketapang (1973–1978)
  4. Kembali ke Sepotong (1978–1982)

Dikenal masyarakat sebagai Pastor Canis, ia tidak hanya fokus pada pelayanan sakramental, tetapi juga aktif membangun akses pendidikan. Ia membuka sekolah, membangun fasilitas dasar, dan mendorong anak-anak Dayak—khususnya perempuan—untuk bersekolah, demi masa depan yang lebih bermartabat.

Pembina Generasi Passionis

Seiring usia dan kesehatan yang menurun, pada Juli 1982, ia pindah ke Novisiat Passionis di Batu, Malang. Di sana, ia menjadi pemimpin rumah (superior) dan pembina bagi para postulan. Sebagai Passionis pertama yang lahir di Indonesia, ia menjalani babak baru panggilan hidup sebagai pendidik dan teladan hidup religius yang sederhana.

Akhir Perjalanan Hidup

Pada Februari 1986, Pater Canisius kembali ke Belanda untuk cuti sekaligus mengunjungi keluarga. Ia masih menyimpan kerinduan untuk kembali ke Indonesia. Namun, Tuhan punya rencana lain. Pada 16 Maret 1986, ia mulai merasa tidak enak badan dan didiagnosis mengalami flu ringan. Keesokan harinya, 17 Maret 1986, ia ditemukan dalam kondisi koma oleh Bruder Martinus di kamarnya di Biara St. Gabriel, Haastrecht. Tak lama kemudian, ia wafat dalam damai.

Warisan yang Hidup

Pater Canisius Pijnappels, CP, adalah gembala yang benar-benar menghidupi sabda Kristus: “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Matius 20:28). Ia adalah teladan iman, ketekunan, dan kelembutan hati yang nyata. Ia bukan hanya membangun gereja secara fisik, tetapi juga membangun harapan dan martabat manusia.

Warisannya hidup dalam hati umat yang pernah ia layani, terutama di pedalaman Kalimantan Barat. Meski tubuhnya kembali ke tanah Eropa, semangatnya tetap menyala di antara anak-anak yang kini bersekolah, para guru yang ia dorong, dan umat yang disapa kasihnya.

Sumber: Majalah Trika dan Jejak-jejak Pasionis di Tanah Kayong

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini