Pater Plechelmus Dullaert, CP

Oleh: Amon Stefanus

Pater Plechelmus Dullaert, CP—yang lebih akrab dipanggil umat dengan sebutan Pastor Dolar atau Pastor Sengkong—merupakan salah satu dari tiga misionaris Pasionis yang menjadi pionir dalam membangun Gereja Katolik di Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat. Dua rekannya, Pater Canisius dan Pater Bernardinus (dikenal juga dengan nama Nai Seng Hu), bersama-sama tiba di Ketapang pada Juli 1946. Mereka menggantikan para misionaris Kapusin yang sebelumnya melayani wilayah tersebut.

Pater Plechelmus lahir di Rotterdam, Belanda, pada 31 Desember 1914, dan dibaptis dengan nama lengkap Hendrikus Theodorus Maria Dullaert. Ia masuk novisiat Kongregasi Pasionis tahun 1933 dan ditahbiskan sebagai imam pada 5 Mei 1940, dengan nama biara Plechelmus dari Santa Gemma. Masa pentahbisannya bersamaan dengan kanonisasi Santa Gemma Galgani dan meletusnya Perang Dunia II, yang membuat suasana sakral pentahbisan sempat disalahartikan sebagai sambutan bagi tentara Jerman oleh masyarakat Oldenzaal, kota perbatasan Belanda-Jerman.

Antara tahun 1940 hingga 1946, ia mengabdi di Seminari Menengah Haastrecht dan kemudian di Den Bosch untuk persiapan misi. Pada usia 32 tahun, ia berangkat ke Indonesia dan mengawali karya misionernya di Ketapang. Saat tiba di Indonesia, ia mengalami kecelakaan di kapal hingga tangan kirinya bengkok permanen. Cedera inilah yang membuatnya dikenal sebagai Pastor Sengkong oleh umat Dayak setempat.

Pelayanan di Pedalaman

Tahun 1963, Pater Plechelmus mulai bertugas di wilayah Sepotong, dan pada tahun 1965 ia mendirikan paroki baru: Paroki St. Mikael di Simpang Dua. Awalnya, pusat paroki berada di Singi Rubang, di antara kampung Banjur dan Karab. Namun, pada tahun 1970, ia memindahkan pusat paroki ke Kampung Simpang Dua. Ia melayani umat di wilayah pelosok dan terpencil ini hingga tahun 1973.

Selama di pedalaman, ia dikenal sebagai imam yang luar biasa gigih. Meski mengalami cedera pinggul dan kesulitan berjalan, ia tetap setia mengunjungi umat di desa-desa dengan berjalan kaki di jalan setapak, menyeberangi sungai dengan batang pohon, dan menerjang medan berlumpur tanpa pernah mengeluh. Ia menjadi simbol semangat pastoral dan dedikasi misioner sejati.

Pelayanan di Ketapang

Pada tahun 1973, Pater Plechelmus dipindahkan ke Ketapang untuk menjalankan tugas baru sebagai Direktur STM Usaba Ketapang sekaligus Direktur Karya Kepausan. Di sana pula ia sempat menjabat sebagai Pastor Paroki St. Gemma Ketapang. Salah satu warisan besar yang ditinggalkannya adalah pendirian dan pengembangan Sekolah Teknik (ST), yang kemudian berkembang menjadi STM Usaba Ketapang. Ia dikenal sebagai imam yang tidak hanya membangun secara rohani, tetapi juga secara fisik dan pendidikan. Dalam perjuangannya mendirikan STM, ia didukung oleh Ign. Sudarmaji, RC. Eryono, dan Frans Ampur. Ign. Sudarmaji belakangan menggantikan beliau sebagai Kepala STM Usaba.

Sebagai Bapak Asrama STM, ia sangat disayangi oleh para siswa. Banyak dari mereka kemudian menemukan panggilan hidup mereka sebagai imam, seperti Pastor Zacharias Lintas, Pastor Harimurti, Pastor Bonifasius Ubin, dan Pater Yulius Jumaeri CP. Ia juga membina para katekis awam yang kemudian menjadi pelayan umat yang tangguh.

Kembali ke Belanda dan Akhir Hidup

Karena kondisi fisiknya terus menurun, pada tahun 1980 Pater Plechelmus kembali ke Belanda dan melanjutkan pelayanannya sebagai pastor bagi kaum lanjut usia di biara Pasionis, Grave. Namun, hatinya tetap tinggal di Kalimantan. Saat peringatan 40 tahun karya para Pasionis di Indonesia pada tahun 1986, ia kembali ke Ketapang sebagai tamu. Tubuhnya tampak kurus dan lemah karena kanker yang dideritanya, namun ia tetap datang mengunjungi umat yang sangat ia kasihi. Dalam pertemuan dengan seorang rekan, ia sempat berkata, “Mungkin ini terakhir, lho.”

Pada September 1987, dalam kunjungan terakhir seorang sahabat ke biara Grave, Pater Plechelmus masih sempat berjalan ke ruang rekreasi dan memberikan semangat. Walaupun tubuhnya lemah, semangat misionernya tetap menyala. Ia wafat pada 2 Desember 1987 di Biara Pasionis Grave, Belanda, dan dimakamkan di Haastrecht, tempat asal keberangkatannya sebagai misionaris.

Warisan Rohani dan Teladan

Pater Plechelmus dikenal sebagai:

  1. Misionaris Gigih – Tak kenal lelah mewartakan Injil, bahkan dalam keterbatasan fisik.
  2. Pendoa Setia – Disiplin dalam doa brevir, Ekaristi, dan rosario.
  3. Pecinta Bunda Maria – Semua nama baptis yang ia berikan selalu disertai nama Maria.
  4. Pembina Remaja dan Panggilan Imamat – Dekat dan akrab dengan kaum muda.
  5. Pembangun Sekolah – Berperan penting dalam mendirikan STM Usaba Ketapang.
  6. Gembala Sejati – Menghidupi spiritualitas Yesus yang tersalib dengan penuh pengorbanan.

Meski telah pergi, warisan dan semangat Pater Plechelmus Dullaert, CP akan terus hidup dalam hati umat Ketapang. Ia telah menjadi gembala yang baik dan teladan iman yang tak terlupakan. Seorang pionir telah kembali ke rumah Bapa, namun jejak karyanya tetap abadi.

Sumber: Majalah Trika dan Buku Jejak-jejak Pasionis di Tanah Kayong

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini