Selamat Paskah.
Selamat Berjalan Bersama Menuju Kebangkitan Kristus Bangkit, Kristus Jaya, Kristus Mulia.
Mari menjadi pewarta-pewarta kasih-Nya.
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai perjalanan RD. Petrus Riyant, selaku Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Ketapang.
Bagaimana cerita perjalanannya? Mari kita lanjutkan membaca. Sejak hari Senin, 6 April 2026, pkl. 12.30 WIB, RD. Petrus Riyant berangkat dari Paroki St. Carolus Borromeus Tembelina menuju ke Pontianak dengan transportasi darat yakni, Leo travel.
Keberangkatan RD. Petrus Riyant menuju ke Tanjung Selor kali ini, berdasarkan hasil rapat dan kesepakatan bersama tim Komkep se-regio Kalimantan pada saat di pertemuan di Banjar Baru (Keuskupan Banjarmasin).
Tepat pada 10 Maret 2026, RD. Petrus Riyant berdiskusi bersama RD. Fransiskus Suandi terkait dengan agenda tindak-lanjut pertemuan para Ketua Komkep Se-Regio Kalimantan. RD. Fransiskus Suandi memberikan arahan dan dukungan untuk persiapan di dalam mengikuti kegiatan di Tanjung Selor.
Tepat pada 15 Maret 2026, RD. Petrus Riyant mendiskusikan sekaligus meminta arahan dari Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang mengenai agenda kegiatan yang akan diselenggarakan di Keuskupan Tanjung Selor, pada 8 April – 14 April 2026.
Mgr. Pius Riana Prapdi sangat mendukung bahkan memberikan peneguhan di dalam pendampingan terhadap orang muda, khususnya di Keuskupan Ketapang. Selain itu, Mgr. Pius juga mendukung kegiatan ini dengan memberikan persetujuan terkait pengajuan proposal kegiatan yang diajukan oleh RD. Petrus Riyant.
22 Maret 2026, RD. Petrus Riyant rapat bersama tim komkep keuskupan ketapang untuk membicarakan program kerja, baik OMK maupun komkep sendiri. Selian itu, RD. Petrus Riyant juga menyampaikan terkait agenda pertemuan Ketua Komkep Se-Regio Kalimantan, yang akan dilaksanakan pada 8 April – 14 April 2026.
Kekompakan dan keguyuban tim komkep Keuskupan Ketapang sangat nampak dan nyata di dalam dukungan, mulai dari pembuatan proposal perjalanan sampai programasi (program kerja) dan evaluasi bersama, yang akan disampaikan pada saat di Tanjung Selor. “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.” (Kis 2:44-45)
6 April 2026, seusai diskusi dan sharing bersama RD. Fransiskus Joko Umbara, Pak Matius, dan Frater Koban, tepat di pukul 12.30 WIB, RD. Petrus Riyant berangkat dari Paroki St. Carolus Barromeus Tembelina menggunakan transportasi darat, yaitu travel.
Setibanya di Laur, RD. Petrus Riyant mampir sejenak di rumah Kak Rosa untuk memastikan program kerja yang akan dibawa ke Tanjung Selor. Selain itu, RD. Petrus Riyant bersama Kak Rosa membahas tentang LPJ (Laporan Pertanggung-jawaban) Kegiatan “Temu Pengurus OMK Se-Keuskupan Ketapang”, yang sudah dilaksanakan pada 19 Maret – 22 Maret 2026.

Mampir di rumah Kak Rosa
RD. Petrus Riyant tiba di Pontianak, pkl. 23.30 WIB. Sungguh perjalanan yang penuh dengan sukacita kebangkitan. Tanpa kata lelah dan berkeluh-kesah, RD. Petrus Riyant tetap melangkah. “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!” (1 Kor 15:58)
Pada 7 April 2026, RD. Petrus Riyant bersama RD. Benno (Ketua Komkep Keuskupan Agung Pontianak dan RD. Ariyant (Ketua Komkep Keuskupan Sintang) berdiskusi terkait dengan penundaan jadwal penerbangan pesawat dari Pontianak menuju ke Tarakan.
Tepat pada 8 April 2026, pkl. 17.00 WIB, RD. Petrus Riyant berangkat menuju ke Bandara Supadio. Kali ini RD. Petrus Riyant diantar oleh Bang Ari (Ketua PMKRI Kuburaya) dan Bang Damara (rekan OMK sekaligus rekan Ari). Kedua rekan ini ialah mereka yang pernah menjalani masa KKN selama 6 bulan di Paroki St. Carolus Borromeus Tembelina. “Peliharalah kasih persaudaraan! Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang…” (Ibr 13:1-2)
Pkl. 06.20 WIB, RD. Petrus Riyant berangkat dari Bandara Supadio Pontianak berangkat menuju ke Tarakan. Yang mana harus transit di Bandara Soekarno Hatta – Jakarta. Pada Pkl. 10.20 WIB, RD. Petrus Riyant berangkat dari bandara Soekarno Hatta menuju ke Bandara Juata – Tarakan. RD. Petrus Riyant tiba di Bandara Juata – Tarakan, pada pkl. 13. 55 WITA.
Setibanya di Bandara Juata – Tarakan, RD. Petrus Riyant langsung menuju ke lokasi tiket Taxi agar dapat melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Tarakan – Tanjung Selor.


Pelabuhan Tanjung Selor 

Tiba di Pelabuhan Tarakan – Tanjung Selor, pkl. 16.30 WITA. Yang mana tiket speed dari Tarakan menuju ke Tanjung Selor sudah habis. Namun Tuhan berkarya lewat tangan-tangan kasih-Nya. Di mana RD. Petrus Riyant mendapatkan (diberikan kemurahan hati) 1 slot, lantaran sudah sore dan speed yang dijumpai adalah speed yang terakhir menuju ke Tanjung Selor.
RD. Petrus Riyant, di atas speed kurang lebih 1 jam 15 menit, sehingga sampai di Pelabuhan Tanjung Selor pada pkl. 17. 30 WITA. Setibanya di pelabuhan, RD. Petrus Riyant sudah siap berangkat menuju ke wisma Keuskupan Tanjung Selor, yang dijemput oleh RD. Bernard Moy (Ketua Komkep Tanjung Selor).


Bersama Rizki (Rekan OMK) – diantar menuju ke tempat Penginapan & Bandara 
RD. Petrus Riyant Tiba di Wisma Keuskupan Tanjung Selor, tepat pada pkl. 18. 45 WITA. Setelah itu, RD. Petrus Riyant berjumpa dengan Mgr. Paulinus Yan Ola, Uskup Keuskupan Tanjung Selor.

Pkl. 19.00 WIB, RD. Petrus Riyant makan bersama Kuria Keuskupan Tanjung Selor. Seusai makan bersama, pada pkl. 20. 00 WITA, RD. Petrus Riyant diajak untuk menuju ke RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, pastoral orang sakit – memberi dukungan doa bagi salah satu umat, yang besok akan melakukan operasi usus buntu. Semangat fokus ARDAS Keuskupan Ketapang tahun 2026-2027 “Semakin Tangguh dalam Belaskasih kepada Sesama yang Menderita” tetap hidup walau jauh dari Ketapang, sebab kita adalah Gereja.

Kembali ke wisma Keuskupan, tepat pada pkl. 22. 30 WITA. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama Panitia Temu Ketua Komkep Se-Regio Kalimantan sampai Pkl. 23. 00 WIB.
Perjalanan yang dialami oleh RD. Petrus Riyant merupakan perjalanan Iman yang penuh harapan bagi pendampingan dan formatio OMK. Perjalanan dari darat sampai udara bahkan laut, dialami dengan penuh sukacita dan kegembiraan akan kebangkitan. “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (2 Kor 5:7 )



















