Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, yang oleh Gereja dirayakan dengan penuh khidmat sebagai Corpus Christi, adalah ungkapan syukur, sembah sujud, dan cinta kita kepada Yesus yang hadir sungguh-sungguh dalam Sakramen Mahakudus. Hari Raya ini bukan sekadar perayaan liturgis, tetapi perjumpaan personal dengan Allah yang merendahkan diri-Nya sedemikian rupa hingga memilih tinggal di antara kita dalam rupa roti dan anggur. Gereja meyakini bahwa dalam Ekaristi, Yesus Kristus sungguh hadir: Tubuh, Darah, Jiwa, dan Ke-Allahan-Nya. Keyakinan ini bukan hanya tradisi turun-temurun, melainkan bersumber dari sabda Tuhan sendiri dan disertai dengan kesaksian hidup para kudus serta penegasan otoritatif dari Magisterium Gereja.
Akar perayaan Corpus Christi secara historis berawal dari pengalaman spiritual seorang biarawati sederhana dari Belgia, Santa Juliana dari Cornillon. Ia menerima penglihatan-penglihatan ilahi pada awal abad ke-13, di mana Tuhan menyatakan kerinduan-Nya agar ada satu hari dalam kalender Gereja yang dikhususkan untuk menghormati Sakramen Mahakudus di luar perayaan Kamis Putih. Juliana mengalami sukacita dan rasa haus akan kehadiran Yesus dalam Ekaristi, dan ia percaya bahwa cinta sebesar ini layak untuk dirayakan secara publik dan agung. Visi Juliana tidak berlalu begitu saja. Seorang imam yang kelak menjadi Paus Urbanus IV mendengarkan bisikan Roh Kudus melalui kisah hidupnya. Maka pada tahun 1264, Paus Urbanus menetapkan Hari Raya Corpus Christi untuk Gereja universal melalui bulla Transiturus de hoc mundo. Ia bahkan meminta Santo Thomas Aquinas, imam Dominikan yang juga seorang teolog besar, untuk menyusun liturgi khusus guna menghormati misteri agung ini. Dari tangannya lahirlah himne-himne indah seperti Pange Lingua, Tantum Ergo, dan Adoro Te Devote—doa-doa yang bukan hanya indah secara puisi, tetapi penuh kedalaman teologi dan cinta pribadi kepada Kristus dalam Ekaristi.
Keyakinan akan kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi memiliki dasar yang sangat kuat dalam Kitab Suci. Dalam Injil Yohanes bab 6, Yesus bersabda, “Akulah roti hidup yang turun dari surga. Jika seseorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya; dan roti yang Kuberikan untuk hidup dunia adalah daging-Ku” (Yoh 6:51). Ketika para pendengar-Nya terganggu dan bersungut-sungut, Yesus tidak mengoreksi perkataan-Nya, melainkan menegaskannya: “Sungguh, Aku berkata kepadamu: jika kamu tidak makan daging Anak Manusia dan tidak minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup dalam dirimu” (Yoh 6:53). Dalam Perjamuan Malam Terakhir, Yesus juga mengambil roti dan berkata, “Inilah Tubuh-Ku,” dan mengambil piala sambil berkata, “Inilah Darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat 26:26–28; Mrk 14:22–24; Luk 22:19–20). Rasul Paulus mewariskan pengajaran ini kepada jemaat di Korintus, menuliskan dengan jelas bahwa siapa yang makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, mendatangkan hukuman atas dirinya (1Kor 11:27–29). Ini bukan hanya simbol, tetapi sungguh kehadiran Allah sendiri.
Namun, sepanjang sejarah, tidak semua orang menerima kebenaran ini dengan iman. Di abad pertengahan, seorang teolog bernama Berengarius dari Tours mulai mempertanyakan doktrin kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi. Ia menyatakan bahwa roti dan anggur tetap hanya sebagai lambang. Pandangan ini memicu krisis iman yang cukup luas, hingga Konsili Lateran IV (1215) turun tangan dan menyatakan secara resmi doktrin transubstansiasi—bahwa terjadi perubahan substansi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus, meskipun rupa lahiriah (aksiden) tetap. Perubahan ini bukan khayalan, tetapi nyata, karena Allah sendiri yang mengatakannya. Konsili Trente (1545–1563), yang diadakan sebagai respons terhadap berbagai penolakan Reformasi Protestan terhadap Ekaristi, kembali menegaskan ajaran ini dengan bahasa yang sangat jelas dan otoritatif: “Dalam Sakramen Mahakudus ini, terdapat benar-benar, sungguh-sungguh, dan secara substansial Tubuh dan Darah beserta Jiwa dan Keilahian Tuhan kita Yesus Kristus.”
Dalam pandangan iman Katolik, perubahan ini dijelaskan melalui konsep transubstansiasi, sebuah istilah filosofis-teologis yang berarti bahwa esensi roti dan anggur berubah menjadi esensi Tubuh dan Darah Kristus, walaupun yang tampak secara inderawi tidak berubah. Santo Thomas Aquinas, dengan kejeniusannya yang rendah hati, menjelaskan hal ini dalam Summa Theologiae, bahwa Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dari tiada, tentu juga berkuasa untuk mengubah substansi ciptaan menjadi substansi diri-Nya sendiri. Baginya, Ekaristi bukan hanya pengingat, tetapi perjumpaan nyata dengan Dia yang mengasihi hingga akhir. Paus Benediktus XVI dalam Sacramentum Caritatis juga menegaskan bahwa Ekaristi adalah “sakramen kasih,” karena di dalamnya Allah sendiri memberikan diri-Nya bagi manusia.
Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK), ajaran ini dirumuskan dengan sangat jelas. Artikel 1376 menyebutkan: “Dalam konsekrasi roti dan anggur, terjadi perubahan seluruh substansi roti menjadi substansi Tubuh Kristus Tuhan kita dan seluruh substansi anggur menjadi substansi Darah-Nya.” Ini bukan perubahan metaforis, tetapi sungguh perubahan substansial. Maka dari itu, Gereja menaruh penghormatan besar terhadap Ekaristi, menyimpannya dalam tabernakel, mempersembahkannya dalam adorasi, dan menjaganya dengan keheningan serta sembah sujud.
Bagaimana seharusnya sikap umat Katolik terhadap perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini? Pertama-tama adalah iman yang hidup. Iman bukan hanya percaya bahwa Kristus hadir, tetapi juga merindukan perjumpaan dengan-Nya. Setiap kali kita mengikuti Misa Kudus, kita diundang untuk mendekat kepada altar dengan hati yang bersih, bebas dari dosa berat, dan penuh rasa syukur. Kedua, umat Katolik diajak untuk menghormati Ekaristi bukan hanya di gereja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari—dengan menjalani hidup yang kudus, menjadi saksi kasih, dan hidup dalam kesatuan. Kita juga dipanggil untuk menumbuhkan devosi pribadi seperti adorasi Sakramen Mahakudus, prosesi Corpus Christi yang penuh makna, dan kunjungan ke tabernakel dalam keheningan doa.
Para kudus sepanjang zaman menunjukkan kepada kita bagaimana mencintai Yesus dalam Ekaristi. Santo Thomas Aquinas, yang begitu dalam mencintai misteri ini, wafat sambil memohon: Adoro Te devote, latens Deitas… — Aku menyembah-Mu dengan penuh cinta, Allah yang tersembunyi. Santa Theresia dari Lisieux pernah berkata bahwa jika orang mengetahui siapa yang hadir dalam tabernakel, gereja-gereja akan selalu penuh. Santo Padre Pio mengatakan bahwa dunia dapat hidup tanpa matahari, tetapi tidak tanpa Ekaristi. Cinta para kudus ini bukanlah kemewahan rohani, tetapi panggilan universal: untuk mencintai Kristus yang hadir dalam kerendahan roti dan anggur.
Refleksi pribadi pada Hari Raya ini membawa kita pada pertanyaan yang dalam: apakah aku benar-benar percaya bahwa Yesus hadir dalam Ekaristi? Apakah aku menyambut-Nya dengan hati yang siap dan penuh kasih? Dalam dunia yang seringkali menuntut bukti dan penjelasan logis, Ekaristi berdiri sebagai misteri cinta yang hanya bisa dijawab dengan iman. Yesus tidak memberi kita teori, melainkan diri-Nya sendiri. Ia tidak menjelaskan segalanya, tetapi memberikan Tubuh-Nya sebagai makanan yang memberi hidup kekal. Maka, Corpus Christi bukan sekadar hari suci, tetapi momen untuk memperbaharui cinta kita kepada Yesus yang hadir diam-diam namun nyata, yang tinggal bersama kita dan tidak pernah meninggalkan kita. Dalam kerendahan hati, kita hanya bisa menjawab seperti Santo Thomas: “Tuhanku dan Allahku.”





















