Santo Andreas Kim Tae-gon (imam), Santo Paulus Chong Ha-sang (awam) dan rekan-rekan mereka yang gugur,

Awal Kekristenan di Korea

Gereja Katolik di Korea memiliki sejarah yang unik. Jika di banyak negara Injil dibawa pertama kali oleh misionaris, di Korea justru agama Katolik lahir dari upaya kaum awam. Sekelompok cendekiawan Konfusian Korea yang tertarik dengan tulisan-tulisan misionaris Yesuit dari Tiongkok mempelajari kitab suci dan tulisan rohani. Dari sinilah mereka mulai memeluk iman Katolik sekitar tahun 1784, tanpa kehadiran imam. Baptisan pertama diberikan oleh seorang awam bernama Yi Seung-hun, yang belajar di Beijing dan dibaptis oleh imam Yesuit di sana.

Namun sejak awal, iman Katolik dianggap berbahaya oleh pemerintah Joseon karena dipandang bertentangan dengan sistem sosial Konfusian yang kaku. Misalnya, ajaran Katolik tentang persamaan martabat semua orang dan larangan praktik sesajen leluhur dipandang sebagai ancaman. Karena itu, penganiayaan berdarah mulai terjadi sejak abad ke-18.


Santo Paulus Chong Ha-sang (1795–1839)

Paulus lahir dari keluarga Katolik yang saleh. Ayahnya, Augustinus Jeong Yak-jong, adalah seorang katekis terkenal yang juga mati martir pada 1801. Paulus tumbuh sebagai awam yang penuh semangat untuk melayani Gereja. Ia berperan penting dalam menghubungkan komunitas Katolik Korea dengan misionaris asing.

Melalui perjuangannya, imam-imam dari MEP (Missions Étrangères de Paris – Misi Luar Negeri Paris) bisa masuk secara diam-diam ke Korea. Ia bahkan menulis sebuah risalah terkenal berjudul Memorial of the Korean Catholics, sebuah permohonan resmi kepada Paus Gregorius XVI untuk mengirim imam-imam ke Korea.

Sayangnya, pada masa penganiayaan besar tahun 1839, Paulus ditangkap. Ia disiksa dengan kejam agar meninggalkan imannya, tetapi ia tetap teguh. Ia akhirnya dipenggal pada 22 September 1839, bersama banyak umat lain, termasuk para perempuan, anak-anak, dan orang tua. Paulus wafat sebagai seorang awam, menunjukkan bahwa kesucian dan kesetiaan kepada Kristus bukan hanya milik kaum klerus, tetapi seluruh umat beriman.


Santo Andreas Kim Tae-gon (1821–1846)

Andreas Kim Tae-gon adalah imam Katolik Korea pertama. Ia lahir dari keluarga Katolik di Solmoe, Chungcheong-do. Ayahnya, Ignatius Kim Je-jun, juga menjadi martir pada 1839.

Sejak remaja, Andreas dikirim ke Makau untuk belajar teologi di seminari yang dikelola oleh MEP. Perjalanan menuju Makau sangat sulit dan penuh risiko, namun semangatnya untuk menjadi imam tidak pernah padam. Pada tahun 1845, ia ditahbiskan di Shanghai oleh Uskup Ferréol, MEP, dan kembali ke tanah airnya sebagai imam.

Sebagai pastor muda, Andreas berusaha keras mengorganisir umat, mendampingi mereka dalam iman, serta membantu misionaris asing masuk ke Korea secara rahasia. Namun pada 1846, ia tertangkap oleh pejabat Joseon di dekat Sungai Han ketika sedang membantu seorang misionaris Perancis.

Di penjara, ia mengalami siksaan berat. Namun, ia tetap memberi semangat kepada umat Katolik untuk bertahan dalam iman. Dalam surat terakhirnya kepada umat, ia menulis kata-kata penuh iman:

“Aku telah menderita banyak hal; sekarang aku hampir mencapai kematian. Tetapi ketahuilah, Allah yang Bapa kita akan selalu melindungi Gereja-Nya. Jangan pernah menyerah pada kesulitan, tetaplah setia sampai akhir.”

Pada 16 September 1846, pada usia hanya 25 tahun, Andreas dipenggal di dekat Seoul. Darahnya menjadi benih subur bagi pertumbuhan Gereja di Korea.


Para Martir Korea Lainnya

Selain Andreas dan Paulus, terdapat sekitar 10.000 umat Katolik Korea yang mati martir antara abad ke-18 dan ke-19. Mereka datang dari segala lapisan masyarakat: bangsawan, petani, pria, wanita, orang tua, bahkan anak-anak.

Di antara mereka, Gereja mengangkat 103 orang sebagai santo dan santa melalui kanonisasi yang dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 6 Mei 1984 di Seoul – sebuah peristiwa bersejarah, karena inilah pertama kalinya upacara kanonisasi dilakukan di luar Roma.

Para martir itu adalah saksi iman yang teguh. Mereka tidak memilih jalan kompromi, melainkan tetap setia kepada Kristus meskipun harus kehilangan segalanya.


Makna dan Warisan

Kisah Santo Andreas Kim Tae-gon, Santo Paulus Chong Ha-sang, dan para Martir Korea adalah cermin keberanian iman. Gereja Korea lahir dari darah para martir. Saat ini, Korea Selatan memiliki salah satu komunitas Katolik yang paling dinamis di Asia.

Mereka mengingatkan kita bahwa:

  • Iman yang lahir dari hati umat sederhana dapat bertumbuh kuat, bahkan tanpa kehadiran imam pada awalnya.
  • Kesetiaan sampai akhir, baik sebagai imam maupun awam, adalah kesaksian yang hidup.
  • Penganiayaan tidak menghancurkan Gereja, justru menguatkannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini