Taman Doa Maria Bunda Segala Suku Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang

Devosi kepada Bunda Maria merupakan suatu bentuk penyerahan diri secara utuh—yakni hidup meneladani cara hidup Maria sebagai ungkapan cinta dan hormat kita kepadanya. Devosi ini bukan semata-mata rutinitas atau praktik sentimental belaka, tetapi merupakan sebuah pilihan rohani untuk mengikuti jejak Sang Bunda, yang senantiasa bersatu dengan kehendak Allah.

Ada berbagai cara untuk mempersembahkan diri kepada Santa Perawan Maria. Kita dapat meniru kebajikannya, memuji kebesarannya, dan memohon pertolongannya dalam doa melalui syafaatnya. Doa-doa sederhana seperti Salam Maria, doa Rosario, maupun doa pribadi yang dipanjatkan bersama Maria menjadi sarana rohani yang mengangkat hati kita kepada Tuhan. Melalui perantaraannya, kita memohon kepada Bunda untuk menyampaikan doa-doa dan harapan kita kepada Putra terkasihnya, Yesus Kristus.

Peran Maria dalam karya keselamatan adalah peran yang tetap dan tidak sementara. Ia tidak hanya hadir dalam narasi kelahiran Yesus, tetapi terus berperan secara spiritual dalam kehidupan Gereja hingga akhir zaman. Seperti yang diajarkan oleh St. Louis-Marie Grignion de Montfort, Maria terus “mengandung” Kristus dalam diri kita melalui karya Roh Kudus. Namun, tetap perlu ditekankan bahwa guru utama dalam kehidupan rohani kita adalah Roh Kudus itu sendiri. Maria, dengan kerendahan hatinya, menjadi mitra dan pembantu Roh Kudus dalam membentuk Kristus di dalam jiwa-jiwa kita.

Mengapa kita perlu berdevosi kepada Bunda Maria?

Pertama, karena Maria dipilih secara istimewa oleh Allah sejak semula, dikandung tanpa dosa asal (dogma Immaculata Conceptio), untuk menjadi Bunda Sang Penebus. Dalam kidung Magnificat, Maria berseru, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya…” (Luk 1:46-50). Dalam pujian itu tampaklah kedalaman iman, kerendahan hati, dan penyerahan total Maria kepada kehendak Allah.

Kedua, karena kesuciannya dan kesetiaannya kepada Allah, Maria diangkat ke surga dalam tubuh dan jiwa (dogma Assumptio Mariae). Hal ini ditegaskan secara simbolis dalam Wahyu 12:1: “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.” Maria adalah Tabut Perjanjian Baru yang dipilih Allah untuk mengandung dan melahirkan Sang Penebus dunia.

Di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII, devosi kepada Bunda Maria menjadi bagian tak terpisahkan dari spiritualitas komunitas. Taman doa “Maria Bunda Segala Suku” menjadi simbol kehadiran Maria yang merangkul semua orang, tanpa memandang suku, bahasa, dan budaya. Sebutan “Bunda Segala Suku” mencerminkan semangat kebhinekaan yang hidup dalam kebersamaan komunitas seminari kami, yang berasal dari berbagai penjuru nusantara.

Penghormatan kepada Maria tidak dibatasi pada bulan Mei (Bulan Maria) atau Oktober (Bulan Rosario) saja, melainkan menjadi bagian dari ritme hidup harian. Setiap frater, siapa pun dia, diundang untuk datang dan berdoa bersama Maria, baik dalam kegembiraan maupun kesulitan hidup. Figur Maria di taman doa itu, yang memancarkan senyum keibuan, seakan berkata, “Bersukacitalah, anakku, Aku selalu bersamamu.”

Santo Yohanes XXIII, pelindung seminari kami, dalam sebuah homilinya di Basilika Santa Maria Maggiore (6 Desember 1960), menyebut Maria sebagai “Bunda Gereja dan Bunda kita yang teramat terkasih.” Maka dari itu, sebagai calon imam, kita diajak untuk menumbuhkan cinta yang tulus kepada Kristus, pertama-tama melalui Bunda-Nya yang Ia kasihi. Devosi ini bukan sekadar ritual atau gerakan emosional, tetapi lahir dari hati yang ingin mencintai Kristus dengan sepenuh jiwa, seperti Maria mencintai-Nya.

Peristiwa mukjizat di Kana dapat menjadi cermin bagi kita. Ketika Maria berkata, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2:5), ia menampakkan imannya yang teguh kepada Putranya. Kata-katanya adalah seruan bagi kita semua untuk selalu melakukan kehendak Allah. Ketaatan Maria yang sempurna menjadi teladan bagi para calon imam agar tetap setia menjalani panggilan, walau dalam perjuangan dan tantangan hidup sehari-hari.

Semoga spiritualitas Maria yang penuh kerendahan hati, kesetiaan, dan keberanian menjadi inspirasi bagi setiap calon imam. Dalam perjalanannya menuju altar Tuhan, kiranya cinta kepada Maria menumbuhkan cinta yang semakin mendalam kepada Kristus, sehingga hidup dan panggilan kita berbuah dalam pelayanan yang subur dan ranum bagi Gereja dan dunia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini