Hari libur nasional bukanlah hari istimewa bagiku. Aku tetap masuk kerja seperti biasa—karena cinta dan perhatianku untuk gereja serta lingkungannya begitu besar.

Pagi itu, dua orang ibu berjalan masuk ke halaman gereja. Yang satu berambut terurai, yang satu lagi mengenakan jilbab. Mereka menuju ke sekretariat. “Ah, mungkin ada keperluan di sana”, pikirku.

Namun, tak lama kemudian mereka beranjak ke arah gereja. Dari raut wajah dan gerak-geriknya, terlihat mereka agak kebingungan mencari jalan masuk. Aku pun mendekati mereka dan bertanya, “Ibu mencari siapa?”.

Salah satu dari mereka, yang berjilbab, menjawab dengan ramah, “Saya Ibu Dandim, dan ini teman saya dari Pontianak. Kami ingin melihat-lihat gereja”.
“Oooh, mari saya antar lewat pintu samping”, sahutku.

Keduanya kuantarkan masuk ke dalam gereja. Begitu masuk, Bu Dandim terlihat takjub dengan suasana gereja. Tidak ada rasa canggung di wajahnya. Sementara ibu yang berambut terurai meminta izin untuk berdoa. Aku mempersilahkannya duduk di depan tabernakel. Bu Dandim pun ikut duduk di sana… dan saat itu, rasanya jiwaku seperti disiram air suci—sejuk, tenang, dan damai.

Aku mulai bercerita tentang keadaan gereja, tentang ukiran-ukiran, kayu-kayunya, dan siapa konseptor di balik semua karya indah itu.

Menjelang akhir sesi foto-foto, aku mengarahkan mereka ke pintu utama, tempat salib Yesus yang menggunakan kain kepuak tergantung.

“Kepuak itu apa, Pak?”, tanya Bu Dandim.
“Kepuak adalah kain dari kulit kayu, khas orang Dayak”, jawabku singkat.

Aku juga menjelaskan mengapa ada dua salib: satu di depan, dan satu lagi di belakang gereja.

Setelah selesai berfoto, ibu yang berambut terurai menghampiriku dan berkata, “Ini untuk Bapak, sebagai tanda terima kasih karena sudah mengantar kami”.

Aku mundur sambil menyatukan kedua tangan. “Tidak, Bu. Terima kasih, ini memang tugas saya untuk melayani tamu”.

Namun ibu itu tetap memaksaku menerima pemberian tersebut.

“Baiklah, Bu… saya terima. Tapi nanti akan saya masukkan ke kotak kolekte, atau ke kotak sumbangan untuk calon pastor yang ada di belakang pintu gereja”, jawabku.

Kami kemudian berjalan menuruni tangga samping, menuju pendopo Tan Ahak, lalu ke Gua Maria, dan terakhir singgah ke basement Pastoran baru. Aku menceritakan juga tentang pendopo, tentang Pastoran, dan tentang Unio.

Ibu yang berambut terurai lalu menunjuk ke arah sebuah ukiran. “Itu apa, Pak?”.
“Itu adalah Pohon Kehidupan, ukiran dari kayu yang menggambarkan isi dunia”, jawabku.

“Wah, dari kayu ya? Saya kira dari semen”, ujar Bu Dandim.

Mereka pun melihatnya lebih dekat.
“Itu patung Kerahiman, Bu… Yesus Raja Kerahiman”, kataku menjelaskan.
“Sayang ya, Pak, patungnya agak tertutup pohon”, kata Bu Dandim.
“Iya, Bu… nanti kami rapikan agar patungnya bisa terlihat lebih jelas”, jawabku.

Kami terus berjalan menuju gerbang gereja, sambil bercakap tentang banyak hal. Di tengah obrolan, aku memberanikan diri bertanya, “Kalau Ibu yang satu ini, siapa ya?”.

“Oh, beliau pengusaha dari Pontianak, teman saya”, jawab Bu Dandim.
“Waaah…” spontan aku ingin menepuk jidat sendiri.
“Pak, saya sudah dapat banyak cerita dari Bapak—tentang Bapak sendiri, asal-usul Bapak, dan tentang lingkungan gereja ini. Kalau nanti ada teman saya yang ingin berkunjung ke sini, saya akan cari Bapak”, ucap Bu Dandim.

“Terima kasih, Bu… dengan senang hati. Pintu gereja ini selalu terbuka”, jawabku.

Langkah kami semakin dekat ke gerbang. Tanpa terasa, keakraban terjalin—antara yang berkedudukan dengan pelayan, antara yang memiliki dengan yang hanya menadahkan tangan.
Tuhan membuat suasana menjadi indah. Tuhan menunjukkan kasih-Nya. Tuhan menunjukkan berkat-Nya.

Salam damai.

(Cerita ini ditulis oleh Mas Agus Suyanto – Petugas keamanan Katedral, dan telah disunting tanpa menghilangkan inti cerita)

Satu dari banyak pengalaman pelayanan beliau kepada para tamu yang berkunjung ke Katedral.
Sudah tak terhitung jumlahnya—ada yang datang dari luar kota, luar provinsi, bahkan dari Jakarta dan Palembang.

Yang saya suguhkan selalu sama: pelayanan dengan hati ikhlas dan semangat persaudaraan. Jika pun diberi imbalan, saya selalu menolaknya. Karena pelayanan ini berasal dari hati nurani. Walau kadang dipaksa menerima, hati saya sudah cukup bahagia bisa melayani dan dikunjungi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Masukkan nama anda di sini